×
Ad

Apa Itu Downgrading dan Mengapa Konsumsi Masyarakat Menurun?

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 09 Okt 2026 15:30 WIB
Ilustrasi memilih barang. Foto: Getty Images/iStockphoto/PRImageFactory
Jakarta -

Istilah downgrading belakangan makin sering digunakan warganet dalam membahas gaya hidup. Kata tersebut juga kerap dikaitkan dengan penyesuaian pilihan barang-barang yang dibeli atau dikonsumsi.

Tak sampai di sana, sejumlah warganet juga menyoroti kondisi yang terjadi di balik fenomena downgrading. Sebenarnya, apa itu downgrading?

Bukan Gaya Hidup Pilihan

Dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM), downgrading atau trading down merujuk pada perubahan pilihan konsumsi seseorang dari barang/jasa yang lebih premium ke opsi yang lebih murah/ekonomis, dan atau mengurangi konsumsinya, maupun menyesuaikan kepemilikan aset karena pendapatan yang relatif stagnan, tetapi kebutuhan terus meningkat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, SE MSc PhD menilai downgrading bukan pilihan gaya hidup atau karena sedang ingin berhemat, tetapi pola yang terbentuk saat keleluasaan seseorang untuk mengatur pengeluaran semakin sempit.

Contoh Downgrading

Wisnu mencontohkan, dalam praktik downgrading, orang mengurangi atau mengorbankan pos pengeluaran yang lebih tersier atau fleksibel agar tetap bisa memenuhi kebutuhan makan, kesehatan, dan pendidikan.

"Downgrading atau dikenal juga sebagai sachetization, downsizing ini, saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup," ujarnya, dikutip dari laman UGM, Jumat (9/10/2026).

Contoh perubahan pola konsumsi downgrading yaitu:

  • Ganti kendaraan ke alternatif yang lebih murah
  • Mengurangi frekuensi makan di luar
  • Mengurangi hiburan di luar rumah
  • Mengganti barang-barang yang biasanya dibeli dengan barang sejenis alternatif yang lebih murah.

Ia menggarisbawahi, tidak semua downgrading menunjukkan penurunan kualitas konsumsi, tetapi bisa jadi karena perubahan kebutuhan rumah tangga. Contohnya seperti setelah anak tumbuh dewasa dan mandiri atau orang tua pensiun.

"Yang tidak wajar adalah ketika downgrading terjadi pada individu atau rumah tangga yang komposisinya masih utuh dan berada di usia produktif. Di situ downgrading bukan lagi soal preferensi yang berubah, melainkan dipaksa oleh keterbatasan anggaran," jelasnya.

Mengapa Konsumsi Masyarakat Menurun?

Wisnu menjelaskan, penurunan konsumsi masyarakat seperti pada praktik downgrading antara lain disebabkan oleh faktor pendapatan riil yang stagnan, sementara harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi terus naik. Akibatnya, kemampuan orang untuk belanja menurun meskipun jumlah pendapatannya tidak berubah.

Di sisi lain, ia juga menilai ada kekhawatiran masyarakat pada kondisi ekonomi dan keamanan pekerjaannya di masa depan. Karena itu, di samping kemampuan ekonomi yang berkurang, mereka juga menahan konsumsi karena ada ekspektasi penurunan ekonomi.

"Dua faktor ini terlihat jelas di pola trade down yang terjadi, yakni perpindahan dari merek premium ke merek ekonomis, serta maraknya pasar barang bekas. Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, bukan sekadar berhemat temporer menjelang satu momen tertentu," ucapnya.

Alarm Bahaya Pemerintah

Wisnu menilai, jika downgrading baru terjadi pada sebagian kecil masyarakat, perubahan konsumsi bisa jadi bersifat sementara. Namun, jika meluas, downgrading bisa jadi tanda bahaya bagi pemerintah.

"Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah," ucapnya.

Ia menjelaskan, tekanan pada daya beli dalam jangka panjang dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas. Sebab, karena masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat. Akibatnya, pelaku usaha dapat menunda perluasan bisnis dan perekrutan tenaga kerja.

Dampak kurangnya daya beli masyarakat pada perekonomian bisa makin buruk jika warga mulai berutang jangka pendek atau menjual aset demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup," tutupnya.



Simak Video "Simak Kembali! Malam Apresiasi Anugerah Ekonomi Hijau 2026"

(twu/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork