Ini Dua Burung Paling Berisik di Dunia, Suaranya Lebih dari 120 Desibel

ADVERTISEMENT

Ini Dua Burung Paling Berisik di Dunia, Suaranya Lebih dari 120 Desibel

Kalila Untsa - detikEdu
Selasa, 06 Okt 2026 08:30 WIB
Bare-throated bellbird atau burung lonceng leher telanjang (Procnias nudicollis) menghasilkan kicauan hingga 131 desibel.
Foto: Stichting Observation International/Bare-throated bellbird atau burung lonceng leher telanjang (Procnias nudicollis) menghasilkan kicauan hingga 131 desibel, suara dalam tingkatan ekstrem.
Jakarta -

Setiap burung menghasilkan suara dengan nada dan volume yang berbeda-beda. Namun, ada dua jenis burung yang ternyata tergolong paling berisik di dunia berdasarkan tinggi suaranya. Burung apa saja?

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Massachusetts Amherst menemukan bahwa bare-throated bellbird atau burung lonceng leher telanjang (Procnias nudicollis) menghasilkan kicauan hingga 131 desibel. Burung lain yang memiliki suara lantang di atas 120 desibel, yakni red-legged seriema atau burung seriema kaki merah (Cariama cristata).

Dalam studi yang terbit di jurnal Evolution pada 29 September 2026 tersebut, tercatat bahwa suara kicauan bare-throated bellbird memecahkan rekor 125 desibel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suaranya Bisa Seberisik Apa?

Bare-throated bellbird masih berkerabat dekat dengan white bellbird, yang volume suaranya mencapai 125 desibel dan tercatat dalam Guinness World Records. Peneliti memprediksi suara bare-throated bellbird lebih kencang lagi.

Suara bare-throated bellbird tercatat 122,4 desibel saat diukur dari jarak standar satu meter dalam waktu yang singkat, yaitu 20 milidetik. Volume puncak sesaatnya bahkan mencapai hampir 131 desibel, yang menjadi suara terkeras dari semua burung yang direkam.

ADVERTISEMENT

Untuk dua ekor red-legged seriema, rata-rata suara kicauannya mendekati 121 desibel, dengan metode yang sama, yaitu hanya mengambil waktu 20 milidetik yang paling kencang.

White bellbird, yang tercatat memegang rekor Guinness sejak 2019, menghasilkan kicauan rata-rata 127 desibel pada volume puncak oleh enam ekor burung.

Untuk memberikan gambaran betapa nyaringnya suara burung ini, mari kita bandingkan dengan suara yang biasa didengar dalam kehidupan sehari-hari.

Suara lalu lintas yang dipadati kendaraan bermotor kira-kira setara dengan 85 desibel. Untuk perkiraan 100 desibel, kira-kira setara dengan suara knalpot bising.

Sementara itu, 120-130 desibel termasuk tingkatan suara yang ekstrem, menyakitkan, dan di atas ambang batas rasa sakit telinga manusia. Sebagai gambaran, suara ini kurang lebih mirip dengan tingkatan suara mesin jet (dari dekat) yang lepas landas.

Apa yang Memengaruhi Volume Suara Burung?

Dalam studi yang sama, peneliti juga mencari tahu faktor yang berpengaruh terhadap volume suara burung. Terdapat 123 spesies burung di Massachusetts dan Brasil yang direkam suaranya dan digunakan sebagai sampel, 113 diantaranya belum pernah direkam sebelumnya.

Peneliti sempat menemui tantangan saat merekam suara burung-burung ini karena dilakukan di alam terbuka. Ada burung yang jaraknya jauh, namun suaranya terdengar. João CT Menezes, salah satu penulis studi, mengatakan ada pula burung yang berhenti bersuara karena malu.

Akhirnya, para peneliti tetap dapat merekam suara burung-burung ini dengan menggunakan alat pengukur jarak berbasis laser. Alat ini memungkinkan untuk mengukur volume suara burung dan jaraknya secara bersamaan.

Tim peneliti juga menghapus suara kebisingan yang tidak terkait dengan suara burung. Mereka kemudian membandingkan volume data dengan ukuran tubuh dan lebar paruh yang terbuka saat burung bersuara.

Hasilnya, burung dengan ukuran tubuh dan bukaan paruh yang lebih besar cenderung bersuara lebih keras.

"Burung yang lebih besar memiliki otot yang lebih besar, yang mampu menciptakan tekanan internal yang lebih besar, yang pada akhirnya menghasilkan suara yang lebih keras," kata João CT Menezes, salah satu penulis studi sekaligus pakar biologi evolusi, dikutip dari CNN.

Jika dibandingkan dengan hewan lain yang ukuran tubuhnya lebih besar, para peneliti belum menemukan alasan mengapa beberapa burung bisa mengeluarkan suara yang lebih kencang.

Mereka juga tidak memastikan faktor lingkungan atau evolusi apa yang dapat menyebabkan burung satu dengan yang lainnya bersuara lebih kencang dalam studi ini.

"Seiring para peneliti lapangan terus mengumpulkan lebih banyak data tentang suara burung, saya memperkirakan bahwa lebih banyak lagi burung 'terberisik' akan diidentifikasi di masa mendatang," tutup Menezes.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads