Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E Aminudin Aziz menyebut persoalan literasi di Indonesia perlu dilihat secara utuh. Menurutnya, akar persoalan literasi bukan hanya rendahnya minat baca.
Aminudin mengatakan, persoalan yang justru perlu mendapat perhatian adalah keterbatasan sumber bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan masyarakat.
"Yang rendah itu bukan minat bacanya, tetapi ketiadaan sumber-sumber bacaan yang sesuai dengan minat baca orang itu," ungkapnya dalam Seminar Sinergi Bersama: Menguatkan Peran Perpustakaan dan Penerbit sebagai Motor Literasi Nasional pada Rabu (30/9/2026), dikutip dari Perpusnas.
Ia menegaskan keterbatasan akses terhadap buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan pembaca juga merupakan persoalan pengembangan budaya membaca di Indonesia. Minat baca tidak bisa seketika tumbuh jika bahan bacaan yang sesuai tidak tersedia.
Masyarakat Sebenarnya Punya Keinginan Membaca
Kepala Perpusnas menekankan, masyarakat pada dasarnya punya keinginan untuk membaca. Akan tetapi, keinginan tersebut tidak selalu didukung ketersediaan bacaan yang sesuai minat.
General Manager Foreword Library Olive Hateem turut menyampaikan, perpustakaan punya peran penting dalam mempertemukan buku dengan pembaca. Ia menilai, penerbit bisa memiliki banyak buku berkualitas, tetapi belum tentu bertemu dengan pembaca yang tepat.
"Bagaimana caranya minat bacanya mau tinggi kalau aksesnya masih kurang, kalau ada akses yang berkualitas, mungkin minat bacanya bisa naik. Jadi saya rasa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengembalikan perpustakaan menjadi sesuatu yang bisa didatangi," jelasnya.
Di samping itu, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha menggarisbawahi pentingnya mengubah orientasi pengadaan buku agar mengarah ke penyediaan buku yang berkualitas, menarik, dan sesuai minat masyarakat. Ia mengatakan, banyaknya buku tidak akan berdampak optimal terhadap budaya baca jika koleksi yang ada tidak sesuai kebutuhan pembaca.
Sehingga, membangun budaya membaca membutuhkan ketersediaan buku, relevansi koleksi, akses, pengelolaan, juga pendampingan. Dibutuhkan kerja sama antara Perpusnas, penerbit, perpustakaan, komunitas literasi, juga masyarakat agar buku yang tersedia benar-benar sampai ke pembaca.
"Kita membangun ekosistem ini bersama-sama," ujarnya.
Simak Video "OJK Perluas Literasi Keuangan hingga Ujung Selatan Indonesia"
(nah/pal)