Pakar IPB Ungkap Analisis Mengapa Jasad ABK Arupadhatu 1 Bisa sampai Pulau Enggano

ADVERTISEMENT

Pakar IPB Ungkap Analisis Mengapa Jasad ABK Arupadhatu 1 Bisa sampai Pulau Enggano

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 02 Okt 2026 16:00 WIB
Jurnalis memotret foto semasa hidup anak buah kapal Arupadhatu 1, Surakman, saat konferensi pers di Mapolda Banten, Kota Serang, Banten, Rabu (23/9/2026). Kepolisian mengidentifikasi jasad pria tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 sebagai Surakman melalui pemeriksaan laboratorium forensik dan tes DNA. ANTARA FOTO/Rafsanjani/pma/kye
Kepolisian identifikasi jenazah ABK Arupadhatu 1. (Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Jakarta -

Jasad korban ABK kapal Arupadhatu yang membawa lima jurnalis di Selat Sunda ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada akhir September kemarin. Berjarak cukup jauh dari lokasi awal, mengapa jasad korban ditemukan di pulau tersebut?

Pakar Oseanografi IPB University, Prof Agus Saleh Atmadipoera, mengatakan pergerakan kapal mati akan bergerak dipengaruhi oleh kombinasi faktor alam, antara lain gelombang, angin, dan pergerakan arus yang kuat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kapal itu dianggap mesinnya mati, jadi objek yang terapung. Posisi terakhir pasti tidak fixed karena terbawa arus," ujarnya dalam laman IPB University dikutip Jumat (2/10/2026).

Arah Arus Mengarah ke Perairan Enggano

Menurut Prof Agus, berdasarkan pemodelan dinamika laut pada bulan September, pergerakan arus mengarah kuat ke barat laut menuju perairanEnggano. Dalam kurun waktu dua hari sejak berlayar dari kawasan sekitarKrakatau, objek terapung diperkirakan sudah mulai memasuki kawasan Samudra Hindia.

ADVERTISEMENT

Progf Agus juga menjelaskan adanya perbedaan pola lintasan yang ditentukan oleh posisi awal kapal. Jika kapal berada di sisi utara Selat Sunda, objek akan terbawa arus langsung menuju Pulau Enggano. Namun, jika berada di sisi selatan yang berbatasan langsung dengan kawasan Krakatau, terdapat dua sumbu arus dengan pola pergerakan yang berputar-putar.

Dorong Pencarian Menggunakan Satelit

Untuk menemukan jasad korban yang lain, Prof Agus mendorong penggunaan teknologi pemetaan satelit. Ia mengatakan saat ini ada 12 teknologi satelit yang bisa digunakan.

"Bisa berkolaborasi dengan IPB, ada fasilitas untuk pemetaan 12 satelit beresolusi tinggi untuk mendeteksi kapal-kapal yang ada di sekitaran Selat Sunda dan Krakatau," ungkapnya.

Prof Agus juga menyarankan agar tim gabungan SAR dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memanfaatkan pola pergerakan arus sebagai acuan utama untuk menyusun probability search area. Selain itu, pemerintah juga perlu berkoordinasi dengan para nelayan lokal yang beroperasi di wilayah penangkapan sekitar Selat Sunda hingga Enggano.



(nir/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads