Pernahkah kamu memperhatikan bentuk daun singkong yang menjari atau daun jeruk yang menyerupai angka 8? Kenapa berbeda ya?
Alaminya, setiap pohon memiliki daun yang berbeda-beda. Baik dari segi bentuk, ukuran, ketebalan, dan warna. Bentuk daun ini juga ternyata dipengaruhi oleh iklim tempatnya tumbuh.
Uniknya, pohon dari spesies yang sama pun dapat memiliki daun yang tampak sangat berbeda di iklim yang berbeda. Salah satu contohnya adalah daun pohon maple yang terdapat di Jepang dan Kanada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Jepang, daun maple berbentuk menjari dengan lengkungan yang sangat dalam. Sedangkan di Kanada, bentuknya terbagi menjadi lima lobus lebar dengan ujung runcing.
Seorang paleobiolog dan profesor madya di Baylor University, Dan Peppe, mengungkapkan bahwa dua faktor utama yang memengaruhi bentuk daun adalah sejarah evolusi dan lingkungan sekitarnya.
"Yang kita lihat adalah beberapa tanaman memiliki sifat seperti plastik. Mereka mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim," katanya, dikutip dari Washington Post, Kamis (24/9/2026).
Lantas, mengapa bisa bentuk daun berbeda-beda?
Fotosintesis Memengaruhi Bentuk Daun
Fungsi utama daun adalah fotosintesis, proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau menggunakan cahaya untuk mengubah karbon dioksida menjadi gula dan oksigen. Segala hal tentang daun, mulai dari kehalusan permukaannya hingga struktur urat dan seberapa banyak segmen yang dimilikinya, merupakan bagian dari fungsinya.
Karakteristik tersebut pada daun merupakan bentuk adaptasi atau optimasi yang membantu daun dalam proses fotosintesis. Mulai dari menyerap sinar matahari, mendistribusikan air, mengatur kehilangan panas, hingga menghindari hama.
Seorang kepala peneliti di Hawkesbury Institute for the Environment di Australia, Ian Wright, mengungkapkan beberapa hipotesis mengenai bentuk daun yang berbeda-beda.
Salah satunya adalah ukuran daun. Menurutnya, daun-daun yang besar dan lebar di hutan hujan tropis menandakan banyaknya cahaya matahari yang ditangkap. Di waktu yang bersamaan, daun-daun ini juga kehilangan air untuk mendinginkan permukaannya.
Di lokasi hutan yang lebih kering dan dingin, pohon pinus memiliki bentuk daun seperti jarum yang sangat tipis tetapi saling berkaitan. Mirip dengan tubuh manusia saat mempertahankan panas di saat suhu ruangan yang rendah.
Menurut Susan Pell, direktur eksekutif US Botanic Garden, bentuk daun yang berbeda-beda juga mungkin merupakan sisa-sisa genetik dari proses seleksi alam.
"Tidak ada keuntungan revolusioner pada satu bentuk dibandingkan bentuk lainnya," katanya.
Meskipun sangat beragam, tidak ada bentuk daun yang lebih baik atau lebih buruk. Justru, daun-daun ini layaknya penopang kehidupan di Bumi.
Pentingnya Daun pada Era Perubahan Iklim
Seorang profesor ekologi dan biologi evolusi di Yale University, Erika Edwards, mengungkapkan bahwa tanaman bisa sangat menderita di era perubahan iklim akibat kenaikan suhu dan kekeringan lahan.
"Tetapi lajunya (migrasi biji tumbuhan) tidak mendekati laju perubahan iklim yang kita lihat sekarang. Saya pikir orang-orang memperkirakan akan terjadi banyak kepunahan," tuturnya.
Pohon dapat beradaptasi dengan menyesuaikan daunnya supaya bisa bertahan hidup dengan lebih baik, tetapi tetap saja hal ini ada batasnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
