Delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal masih hilang di Selat Sunda. Pencarian sempat dilakukan selama sepekan dan diperpanjang selama 3 hari sampai akhirnya ditutup sesuai prosedur pencarian. Meski demikian, Basarnas Banten mengatakan pencarian akan kembali dilakukan jika terdapat informasi atau temuan baru.
"Sampai saat ini kami masih melakukan monitoring ke instansi yang berwenang dan sampai saat ini nihil," kata Kepala Sub-Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto ketika dikonfirmasi detiknews (21/9/2026).
Kondisi Alam di Kawasan Selat Sunda
Pakar Oseanografi IPB University, Prof Agus S Atmadipoera menjelaskan faktor alam yang memengaruhi sulitnya pencarian kapal yang hilang. Ia menyampaikan, karakteristik Selat Sunda sangat dinamis dan arusnya dapat dikatakan sangat kuat, khususnya pada periode Juli-September.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping arus pasang surut yang mempercepat pergerakan air, juga terdapat gelombang musim timur dari arah selatan dan topografi kawasan yang kompleks. Kedua hal ini menjadi kendala utama pencarian.
Prof Agus mengatakan dinamika arus di kawasan Selat Sunda cenderung mengarah ke Samudra Hindia di sisi selatan atau barat daya. Apabila kapal terombang-ambing (drifting) di permukaan tanpa sinyal komunikasi, maka pergerakannya sangat cepat untuk keluar dari jalur utama.
"Dari hitungan saya, secara kasar, dari sekitar Krakatau itu 2-3 hari sudah terlepas ke Samudera Hindia, keluar dari Selat Sunda bila memasuki arus utama yang kuat," kata Prof Agus, dikutip dari IPB University.
Walau demikian, ia juga mengatakan adanya kemungkinan arus balik atau resirkulasi. Fenomena tersebut berpeluang membawa objek terdampar ke kawasan kepulauan di selatan, seperti Pulau Panaitan dan Ujung Kulon. Pasalnya, arus di sisi belakang Kepulauan Krakatau cenderung lebih lemah.
Ia menyarankan penggunaan satelit pemantau dan kolaborasi lintas pihak di lapangan untuk mengoptimalkan pencarian 8 orang tersebut.
"Upaya Basarnas sudah maksimal, namun dapat dibantu dengan satelit beresolusi ultra tinggi yang misalkan 1 meter kurang untuk memastikan start point dan probabilitas area pencarian," jelasnya.
Tidak hanya bantuan pencitraan satelit pada hari-hari awal kejadian, tetapi koordinasi dengan komunitas lokal juga menurutnya sangat krusial. Ia menyebut, koordinasi juga bisa dilakukan dengan nelayan dari Cilacap dan Pelabuhan Ratu yang pada bulan-bulan ini cenderung ke arah Bengkulu.
Terkait keselamatan pelayaran nonmiliter di zona rawan erupsi serta arus ekstrem seperti Krakatau, Prof Agus mengingatkan pentingnya memantau peringatan dini vulkanologi dan kesiapan mitigasi risiko teknis, sebab tidak ada sinyal mayday yang terdeteksi sedari awal kejadian.
