Viral pembahasan air Sungai Cileungsi menghitam, berbusa, dan berbau menyengat. Berdasarkan hasil pemantauan dan uji laboratorium, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menyatakan kualitas air sungai telah melampaui baku mutu lingkungan.
Sejumlah parameter seperti Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), logam berat, serta fecal coliform ditemukan dalam kadar tinggi, dilansir detikFoto, Kamis (6/8/2026) lalu.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, dari sekitar 176 perusahaan, sebanyak 23 perusahaan di sekitar kawasan aliran sungai terindikasi memiliki ketidaksesuaian dalam pengelolaan air limbah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan data, bukti, dan fakta yang kita kumpulkan, ditemukan kondisi air buangan yang diduga berada di atas baku mutu yang dipersyaratkan. Karena itu, hari ini kita melakukan langkah pengendalian terhadap saluran pembuangan yang diduga berpotensi mencemari Sungai Cileungsi," ucapnya, dilansir detiknews, Sabtu (19/9/2026).
Kenapa Air Sungai Cileungsi Bisa Menghitam dan Bau?
Guru Besar IPB University Prof Etty Riani dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) menjelaskan bahwa warna dan bau pada Sungai Cileungsi umumnya berkaitan dengan tingginya bahan organik dari limbah domestik, peternakan, industri, dan lain-lain.
Ia menjelaskan, saat bahan organik masuk ke sungai, maka akan akan diuraikan mikroorganisme dengan menggunakan oksigen. Proses ini tampak dari naiknya kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik secara biologis (biochemical oxygen demand/BOD) dan kebutuhan oksigen untuk mengoksidasi bahan pencemar secara kimiawi yang sulit-sangat sulit urai (chemical oxygen demand/COD).
"Banyaknya bahan organik akan menyebabkan oksigen dimanfaatkan untuk menguraikannya, sehingga BOD dan COD meningkat serta oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) menurun," ujarnya, dikutip dari IPB University, Senin (21/09/2026).
Saat oksigen terlarut menurut, maka dapat muncul kondisi ketika oksigen sangat rendah atau hampir tidak tersedia (anaerob atau anoksik). Kondisi ini bisa membuat bakteri mereduksi sulfat menjadi sulfida.
Sulfida yang bereaksi dengan besi akan membentuk besi sulfida, yang berwarna hitam. Senyawa mangan yang ikut tereduksi juga bisa menyebabkan warna air semakin gelap.
Sementara itu, gas hidrogen sulfida (H₂S) akan menimbulkan bau khas seperti telur busuk. Ini yang membuat air sungai berbau menyengat.
Pada musim kemarau, hujan dapat dapat mengangkat kembali endapan sedimen yang mengandung bahan organik dan kontaminan. Akibatnya, jumlah padatan tersuspensi dan kekeruhan meningkat, sementara oksigen terlarut menurun.
Kondisi tersebut juga dapat melepaskan amonia, sulfida, fosfat, logam terlarut, senyawa organik dan berbagai pencemar lain ke kolom air.
Harus Cek Laboratorium
Etty menggarisbawahi, warna dan bau air hanya merupakan tanda peringatan awal dan belum cukup untuk menentukan jenis dan sumber pencemar.
"Tanpa hasil laboratorium, kita hanya dapat mengatakan terdapat indikasi pencemaran atau gangguan kualitas air, bukan menyatakan jenis limbah atau pelakunya," kata Prof Etty.
Sungai Cileungsi juga mengalir menuju Kali Bekasi yang menjadi bagian dari sumber air baku. Pencemaran juga mengganggu hingga menimbulkan kematian ikan maupun plankton, serta terakumulasi dalam tubuh organisme dan berpindah melalui rantai makanan.
Karena itu, Prof Etty menilai pemeriksaan kualitas air perlu dilakukan secara menyeluruh. Parameter penting antara lain DO, BOD, COD, TSS, pH, amonia, sulfida, logam berat, minyak dan lemak, serta parameter mikrobiologis.
"Harusnya dicek daya dukung dan daya tampung sungainya. Jangan-jangan sebenarnya sudah jauh terlewati sehingga tidak boleh lagi ada kegiatan yang membuang limbah ke sungai," katanya.
(twu/twu)
