Matahari memiliki peran vital bagi Bumi selama miliaran tahun. Namun, apa yang akan terjadi pada Bumi jika Matahari tak ada?
Seorang profesor madya ilmu atmosfer di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Timothy Cronin, mengatakan bahwa jika Matahari tiba-tiba lenyap, maka kehidupan di Bumi akan terancam. Uniknya, kehilangan Matahari tiba-tiba mungkin tidak disadari dalam beberapa menit.
Namun, ketika efek sudah mulai muncul setelah beberapa menit, manusia di Bumi baru akan menyadarinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setidaknya selama 8 menit 20 detik, tidak seorang pun akan tahu bahwa matahari telah hilang - itulah waktu yang dibutuhkan cahaya dari matahari untuk mencapai Bumi . Selama waktu itu, kita hampir pasti tidak akan tahu bahwa sesuatu telah terjadi," kata Cronin, dikutip dari Live Science.
Menit-menit Awal: Bumi Akan Mengalami Kegelapan
Bumi akan mengalami kegelapan total secara mendadak karena kehilangan Matahari. Dalam kondisi ini, manusia hanya bisa mengandalkan penerangan buatan seperti listrik, minyak, gas, atau api untuk bertahan hidup.
Akibatnya, manusia tidak lagi dapat membedakan siang dan malam. Bulan yang selama ini memantulkan cahaya Matahari pun akan menjadi gelap sepenuhnya, meskipun bintang-bintang di langit masih dapat terlihat.
24 Jam Pertama: Permukaan Bumi Akan Membeku Perlahan
Jika Matahari tiba-tiba menghilang, suhu Bumi tidak akan langsung membeku, tetapi akan turun sangat cepat. Dalam 24 jam pertama, suhu Bumi diperkirakan turun sekitar 20 derajat Celsius. Penurunan ini membuat hampir seluruh wilayah Bumi mencapai suhu di bawah titik beku hanya dalam dua hingga tiga hari.
Dalam kondisi ini, air di permukaan Bumi akan membeku secara bertahap. Kolam kecil bisa membeku dalam waktu sekitar satu minggu, sedangkan danau membutuhkan waktu lebih lama.
Meski begitu, lautan masih dapat bertahan cair selama bertahun-tahun karena volumenya yang besar.
Meski mendingin secara ekstrem, suhu Bumi tidak akan pernah mencapai titik nol mutlak. Hal ini karena masih adanya sisa panas dari peristiwa Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Sebagai perbandingan, titik nol mutlak berada di angka minus 273 derajat Celsius.
Organisme Akan Musnah
Tanpa sinar matahari, proses-proses penting, seperti menanam makanan, akan menjadi jauh lebih rumit.
"Organisme fotosintetik akan musnah," kata Michael Summers , seorang profesor ilmu planet dan astronomi di Universitas George Mason di Virginia.
Peradaban Manusia Runtuh
Menurut Cronin, pada suhu ekstrem, manusia mungkin akan berinovasi dan beradaptasi. Namun tetap saja, keruntuhan peradaban tidak bisa dihindari meski ada yang bertahan.
"Mungkin saja manusia dapat bertahan hidup di bawah tanah di dalam gua, ditopang oleh energi panas bumi atau nuklir, dengan tanaman yang ditanam di bawah penerangan buatan," ujarnya.
"Tetapi ini akan menjadi peristiwa kepunahan yang membuat semua peristiwa kepunahan lainnya tampak kecil," imbuh Cronin.
Apakah Ada yang Bisa Selamat?
Jawabannya Ada. Menurut ilmuwan, hewan berukuran sangat kecil yang disebut tardigrada, bisa bertahan dalam suhu sangat ekstrem. Mereka, bahkan tetap hidup meski disinari radiasi atau direndam dalam jenis alkohol tertentu.
"Mereka adalah salah satu bentuk kehidupan terkuat di Bumi," kata Summers.
Selain itu, bakteri yang hidup di sekitar lubang hidrotermal laut dalam , kemungkinan besar akan bertahan hidup. Itu karena mikroba tertentu, tidak membutuhkan fotosintesis.
Meski dampak hilangnya Matahari begitu mengerikan, ilmuwan mengatakan Matahari akan terus menghasilkan panas dan cahaya selama sekitar 5 miliar tahun lagi. Ketika 'bahan bakarnya' habis, Matahari akan menelan Merkurius dan Venus dan mungkin Bumi.
"Meskipun dampak-dampak tersebut mungkin masih jauh pada masa depan," tutur Summers.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































