Bagi orang tua, memeluk dan mencium aroma tubuh anak merupakan hal yang lazim. Inilah yang terjadi dengan bayi, mereka memiliki aroma khas hanya dikenali orang tuanya.
Ternyata, orang tua menganggap aroma ini 'menyenangkan' melebihi aroma tubuh pasangan mereka. Sayangnya, aroma ini mulai sirna saat anak memasuki masa pubertas.
Mengapa demikian?
Sekitar 80 tahun yang lalu, ada istilah Kindchenschema yang menjelaskan mengapa wajah dan fisik bayi, seperti mata yang besar dan pipi yang bulat, secara keseluruhan membuat orang merasa gemas dan ingin melindungi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari pengertian ini, penelitian pada 2017 lalu melibatkan 255 pasang orang tua untuk menilai aroma badan anak mereka sendiri. Lalu aroma ini dibandingkan dengan aroma masing-masing pasangan mereka.
Hasilnya, mayoritas orang tua menganggap aroma tubuh bayi dan anak kecil lebih menyenangkan dibandingkan aroma tubuh pasangannya sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, semakin bertambah usia anak, rasa menyenangkan terhadap aroma tubuh ini dinilai menurun drastis oleh para orang tua. Studi baru yang dipublikasi di Chemosensory Perception dan ditulis oleh Ilona Croy dkk, menjelaskan ternyata, aroma tubuh bayi juga termasuk dalam Kindchenschema.
Area-area di otak yang terkait dengan kebahagiaan dan penghargaan aktif saat mencium aroma tubuh bayi. Sehingga orang dewasa yang menciumnya dapat terdorong untuk melakukan perilaku pengasuhan.
Studi ini melibatkan 300 sampel aroma tubuh anak yang harus dicium oleh orang tua maupun yang bukan orang tuanya. Hal ini dilakukan selagi otak orang tua dipantau menggunakan fMRI.
Apabila sebelumnya orang tua menganggap aroma tubuh anak menyenangkan, pada beberapa orang tua yang anaknya sedang melalui masa pubertas, mereka menganggap aroma tubuh anaknya tidak lagi menyenangkan.
Adapun pada usia setelah anak melalui masa pubertas, orang tua mengatakan aroma tubuhnya biasa saja. Peneliti menjelaskan hal ini sebagai preferensi orang tua terhadap aroma tubuh anaknya.
"Kita secara biologis cenderung untuk merawat keturunan kita. Pada saat yang sama, kita dapat belajar untuk mencintai kembali aroma familier orang-orang terdekat kita, meskipun aroma itu berubah sepanjang hidup mereka. Singkatnya, bayi memiliki aroma yang luar biasa. Remaja, tidak begitu. Tapi kita tetap mencintai mereka," kata Ilona Croy, penulis utama penelitian terbaru ini, dikutip phys.org.
Menang Ig Nobel 2026
Menariknya, studi ini memenangkan penghargaan Ig Nobel 2026 untuk kategori indra penciuman (Olfaction). Studi ini juga merupakan kolaborasi internasional oleh penulis dari Polandia, Jerman, dan Swedia.
Pada upacara penghargaan, hadir Ilona Croy selaku penulis utama dan juga Agniez Sorokowska dari Jerman.
Berdasarkan Britannica, nama Ig Nobel sendiri diambil dari seorang tokoh fiktif bernama Ignatius (Ig) Nobel, yang konon merupakan sepupu jauh dari Alfred Nobel, yang namanya juga digunakan untuk Penghargaan Nobel.
Di sisi lain, nama ini juga disebut merupakan permainan kata dari kata ignoble (tidak mulia). Namun, tidak berarti penghargaan ini meremehkan penelitian yang dipilih sebagai pemenang.
Penghargaan ini diselenggarakan oleh Annals of Improbable Research sejak 1991 lalu. Ig Nobel Prize mengapresiasi penelitian yang tidak biasa, menghargai imajinasi, dan memicu minat masyarakat terhadap sains, kedokteran, dan teknologi.
Slogan utama ajang penghargaan ini adalah 'first make people laugh, then make them think' yang artinya buat orang-orang tertawa, lalu buat mereka berpikir. Maskot resmi Ig Nobel disebut 'The Stinker' yang gambarnya digunakan di laman resminya.
Pada beberapa kesempatan, penghargaan ini sempat menjadi kritik terhadap kebijakan publik dan praktik kelembagaan yang telah mengabaikan bukti ilmiah atau didasarkan pada penalaran yang tidak ilmiah.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
