Rasa malas membuka laptop, mudah tersulut emosi, hingga sulit berkonsentrasi kerap dianggap sebagai hal biasa dalam menjalani aktivitas penelitian. Namun, berbagai kondisi tersebut bisa menjadi sinyal seorang periset sedang mengalami kelelahan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Hal tersebut turut disampaikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Melalui akun Instagram Beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), mereka membagikan lima tanda yang menunjukkan seorang periset membutuhkan istirahat yang tepat.
"Istirahat yang benar bukan cuma badan diam sementara kepala masih memikirkan data dan revisi, tapi momen kamu benar-benar kasih jeda ke pikiran," tutur tim PMDSU, dikutip Senin (21/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa saja tanda-tanda tersebut dan bagaimana cara beristirahat yang tepat bagi periset?
5 Tanda Periset Butuh Istirahat
Dengan banyaknya revisi, bab yang belum lengkap, atau target yang sudah dekat, berhenti untuk istirahat terkadang terasa seperti buang-buang waktu. Padahal ada 5 tanda yang perlu mengisyaratkan bila periset butuh istirahat, yaitu:
- Susah fokus baca jurnal padahal sudah mencoba dalam beberapa waktu
- Mudah kesal melihat notifikasi grup atau email dari pembimbing
- Progres riset tetap berjalan, tetapi merasa tidak semangat lagi
- Jadwal tidur berantakan karena terlalu memikirkan data atau draft yang belum selesai
- Tidak semangat dan malas membuka laptop.
"Kalau beberapa ini kerasa bareng-bareng itu bukan tanda kamu kurang kuat, itu sinyal tubuh dan pikiranmu lagi minta jeda," ungkap tim PMDSU.
Mereka menegaskan istirahat bukan berarti mengkhianati target riset, tapi istirahat adalah sebuah upaya agar riset selesai dengan baik. Psikolog Sabine Sonnetag menjelaskan faktor yang menentukan istirahat itu berhasil atau nggak hanya satu.
Istirahat yang berhasil terjadi ketika pikiran benar-benar lepas dari kerjaan, bukan cuma raga yang berhenti. Hal ini sering dikenal dengan istilah psychological detachment.
Ketika seorang periset mengalami kelelahan akademik, dampak yang paling membahayakan adalah kualitas riset bisa ikut menurun. Periset perlu memahami bila tidur bukanlah sebuah waktu kosong untuk otak.
Berdasarkan riset neurosains, ketika tidur, otak sedang menyusun ulang dan menyimpan hal-hal yang dipelajari dan dikerjakan sepanjang hari atau dikenal dengan istilah konsolidasi memori. Bagi periset, hal-hal tersebut yakni data, bacaan, dan ide yang sedang diproses.
"Studi juga nemuin bahwa kurang tidur yang terus-menerus pada mahasiswa dikaitkan dengan turunnya fokus dan kemampuan memahami materi baru. Begadang buat ngejar revisi yang udah kebiasaan bisa jadi justru bikin progresnya lebih lambat, bukan lebih cepat," tekan PMDSU Kemdiktisaintek.
Tips Istirahat untuk Periset
Lalu, apa yang bisa dilakukan periset untuk mencoba istirahat yang 'benar'? Ada berbagai hal yang bisa dilakukan, seperti:
1. Buat Batas Kerja
Beberapa batas kecil yang bisa dicoba, yaitu:
- Tentukan jam berhenti untuk membuka data atau nulis draf, misalnya jam 9 malam lalu tutup laptop.
- Tidak buka email atau chat pembimbing saat akhir pekan kecuali darurat.
- Beri jarak antara sesi bimbingan dengan waktu istirahat.
2. Gerakkan Badanmu!
Beberapa yang mudah dilakukan saat tengah mengerjakan riset, seperti:
- Jalan kaki 15-20 menit sebelum atau sesudah sesi nulis
- Stretching singkat di antara baca jurnal atau olah data
- Naik turun tangga waktu jeda dari layar laptop.
"Anggap ini bagian dari jadwal riset, bukan aktivitas selingan yang boleh dilewatin kalau lagi deadline," papar PMDSU.
3. Berbagi Cerita dengan Orang Terdekat
Ketika rasa lelah sudah berlangsung selama berminggu-minggu hingga terasa menyerah dalam melanjutkan riset, ini tanda agar periset berbagi cerita ke orang-orang terdekat. Bisa itu teman sejawat, pembimbing yang suportif, atau layanan konseling di kampus.
Berbagi cerita akan bermanfaat untuk melepaskan sedikit beban yang ada, sekaligus bisa mendapat dukungan. Langkah ini disebut sebagai bagian dari menjaga diri untuk bisa terus berjalan, bukan sebuah tanda kegagalan.
Itulah tanda dan tips agar periset terus semangat di pertempuran penelitian. Semoga bermanfaat!
