Kadar Oksigen di Perairan Bumi Semakin Berkurang, Ahli Peringatkan Bahayanya

ADVERTISEMENT

Kadar Oksigen di Perairan Bumi Semakin Berkurang, Ahli Peringatkan Bahayanya

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 20 Sep 2026 11:07 WIB
Danau Laut Air Tawar Takengon
Foto: (Tamasyeah/d'Traveler)/Danau Laut Air Tawar Takengon.
Jakarta -

Sebuah kajian dari para ilmuwan di Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego memperingatkan bahwa laut dan sistem perairan air tawar di Bumi tengah mengalami hilangnya oksigen secara cepat. Hal ini patut menjadi perhatian karena konsekuensinya dapat bersifat permanen.

Studi mereka meninjau interaksi luas antara deoksigenasi (penurunan oksigen) terlarut di lautan, perairan pesisir, sungai, danau, dan aliran air.

"Kesehatan dan stabilitas planet kita bergantung pada kesehatan dan stabilitas ekosistem perairan, yang membutuhkan oksigen untuk berfungsi normal," kata penulis utama Erica Ferrer yang merupakan alumni Scripps Oceanography, dikutip dari UC San Diego.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Studi ini dirancang untuk menjadikan profil deoksigenasi perairan sebagai ancaman global dan menunjukkan bahwa hal itu tidak terjadi secara terisolasi," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Apa Penyebab Deoksigenasi Perairan?

Deoksigenasi perairan terutama disebabkan oleh pemanasan global akibat aktivitas manusia, polusi nutrisi berlebih, dan perubahan ventilasi perairan pedalaman. Hilangnya oksigen mengganggu proses biologis dan kimia yang membantu mengatur iklim bumi serta mengancam kehidupan perairan mulai dari organisme mikroskopis hingga ikan dan hiu.

Meskipun mamalia laut bernapas udara di permukaan, mereka tetap dapat terpengaruh karena hilangnya oksigen mengubah mangsa, habitat, dan jaring-jaring makanan mereka.

Ferrer dan ahli oseanografi biologi Scripps, Lisa Levin, menggagas ide untuk makalah ini setelah menghadiri COP25, Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2019 yang diadakan di Madrid. Mereka berharap tinjauan ini mendorong para ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan pendorong dan dampak deoksigenasi perairan dalam kombinasi dengan tekanan planet lainnya.

"Menambahkan deoksigenasi perairan ke dalam kerangka Batas Planet akan membantu kita memahami dampaknya terhadap stabilitas sistem Bumi," kata Ferrer.

Sebagai informasi, kerangka Batas Planet pertama kali diperkenalkan pada 2009. Kerangka kerja tersebut mencakup perubahan iklim, pengasaman laut, hilangnya keanekaragaman hayati, beban aerosol atmosfer, penipisan ozon stratosfer, perubahan air tawar, perubahan penggunaan lahan, polusi kimia, dan aliran biogeokimia (termasuk siklus nitrogen).

Para penulis mengusulkan penambahan kondisi oksigen terlarut ke dalam kerangka kerja tersebut. Studi mereka diterbitkan pada 30 Juni 2026 di jurnal Limnology and Oceanography dengan judul "Abundant interactions and feedbacks between aquatic deoxygenation and the other planetary boundaries suggest "unsafe" levels of oxygen loss with far-reaching impacts".



(nah/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads