Lebih dari 2.000 tahun lalu, guci di Laos digunakan untuk praktik pemakaman. Jejaknya masih dapat disaksikan pada sebuah situs yang berisi lebih dari 2.100 guci di dataran tinggi di Laos tengah.
Pada situs ini, terdapat setidaknya 15 jenis peninggalan, di antaranya adalah guci batu berukir besar, cakram batu, pemakaman sekunder, batu nisan, dan lain-lain.
Guci kuno Laos menjadi bukti peradaban kuno setempat lebih dari 2.000 tahun lalu. Foto: Claus Christensen |
Dalam laman Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dijelaskan, di situs ini, guci dan elemen terkait merupakan bukti paling menonjol dari peradaban kuno yang digunakan hingga peradaban tersebut lenyap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama lebih dari satu dekade, guci-guci tersebut telah memiliki fungsi yang berbeda-beda. Dengan bentuknya yang seperti tabung, air hujan mulai tertampung dan berkembang menjadi ekosistem air tawar kecil yang unik.
Para peneliti dari Fakultas Sains, Universitas Kopenhagen, bekerja sama dengan peneliti lokal, kini telah menganalisis sampel air dari 39 toples untuk menyelidiki bagaimana kehidupan muncul dan terbentuk dalam sistem terisolasi selama periode waktu yang sangat panjang.
"Guci-guci di Laos secara efektif berfungsi sebagai eksperimen alami selama sekitar 2.000 tahun," kata Profesor Madya Lars Båstrup-Spohr dari Departemen Biologi di University of Copenhagen sekaligus penulis senior dalam studi tersebut, dikutip dari laman kampus.
Ekosistem di Dalam Guci
Pengecekan kadar oksigen pada guci kuno Laos. Foto: Ole Pedersen |
Air hujan yang tertampung dan tidak terkontaminasi manusia, lama kelamaan berkembang menjadi ekosistem air tawar mini. Di dalam guci-guci ini, hidup mikroorganisme, alga, tumbuhan air, serangga, bahkan hingga amfibi seperti katak.
Peneliti juga mengungkapkan bahwa ada perbedaan air dari guci yang terletak di bawah pohon dan di atap terbuka tanpa pohon.
Guci yang berada di bawah pohon menerima banyak bahan organik dari daun yang gugur. Daun ini nantinya terurai dan menghasilkan lebih banyak nutrisi di dalam air. Sedangkan, guci yang di atasnya tidak ada pohon, tidak mendapat guguran daun dari pohon sehingga nutrisinya lebih sedikit.
Uniknya, dalam rentang waktu yang sangat panjang tersebut, peneliti tidak menemukan ada organisme baru maupun perilaku yang mengubah pola atau aturan proses pembentukan ekosistem mini ini.
Pengaruh paling besar tetap lingkungan sekitar yang menentukan kadar oksigen dan nutrisi, bahkan setelah dua milenium.
Ekosistem Baru atau Lanjutan?
Air hujan yang memenuhi guci-guci ini datang silih berganti. Namun, pertanyaannya, apakah ekosistem di dalamnya turut berubah saat air hujan terganti?
Menggunakan teknik environmental DNA (eDNA), peneliti mendeteksi organisme yang sempat mendiami air di guci ini. Hasilnya, pada guci berumur lebih dari 2.000 tahun ini, organismenya terus berubah secara signifikan dari waktu ke waktu.
Padahal, berdasarkan asumsi umum di ilmu ekologi, apabila sebuah ekosistem telah berjalan dalam waktu yang lama, komunitas organismenya akan menetap dan stabil.
Pada studi ini, peneliti menyebut dapat melihat organisme paling kecil yang bahkan tidak terlihat dengan mata telanjang. Bahkan, keberadaannya tetap bisa terdeteksi lewat DNA yang ditinggalkan di air.
Bagi para peneliti, studi ini bukan hanya tentang apa yang hidup di dalam guci, melainkan tentang pertanyaan lebih luas mengenai kehidupan di Bumi.
"Kami tertarik pada apa yang menciptakan atau mengatur komposisi komunitas biologis. Apa yang menentukan siapa yang tinggal dimana? Ini berlaku baik secara global maupun di lingkungan yang lebih familiar, seperti danau-danau di Eropa. Mengapa beberapa danau dihuni oleh ikan gabus dan ikan kakap, sementara yang lain didominasi oleh ikan zander dan bream," kata sang penulis senior studi.


