Selama ini, Danau Natron di Tanzania kerap dijuluki sebagai "Danau Medusa". Danau ini dikenal dapat mengubah hewan yang menyentuh airnya menjadi seolah-olah membatu.
Namun, fakta ilmiah mengungkap bahwa fenomena mengerikan ini bukan disebabkan oleh kekuatan magis. Rupanya, karakteristik danau tersebut terbuat dari kombinasi ekstrem kimia alam dan suhu yang mematikan.
Nick Brandt, seorang fotografer, mendapati fenomena ini saat melakukan perjalanan di Afrika Timur pada 2011 silam. Ia pun mengabadikan bangkai-bangkai burung dan kelelawar di sana dalam foto, menunjukkan bagaimana jasad hewan tersebut tetap utuh dalam posisi yang seolah membatu hidup-hidup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Smithsonian Magazine, rupanya air danau ini memiliki tingkat alkalinitas atau pH mencapai 12, hampir setara dengan cairan pemutih pakaian. Air danau yang dangkal juga dapat mencapai suhu 60Β°C.
Tingginya kandungan natrium karbonat dan garam kalsium di air Danau Natron ternyata menjadi kunci utama di balik fenomenaini. Kandungan kimiawi ini turun dari aktivitas vulkanik Gunung Ol Doinyo Lengai ke sekitar 12 mata air, yang bermuara ke danau tersbeut.
Alhasil, alih-alih membatu secara geologis, hewan yang jatuh ke dalam air justru mengalami proses mumifikasi alami sangat cepat. Karena itulah bentuk fisiknya tetap terjaga meski sudah tak bernyawa.
"Tidak ada yang tahu pasti bagaimana mereka mati, tetapi airnya memiliki kandungan soda dan garam yang sangat tinggi, bahkan cukup kuat untuk melunturkan tinta kotak film Kodak hanya dalam hitungan detik," tulis Brandt dalam bukunya Across the Ravaged Land, dikutip dari IFL Science.
Kondisi Ekstrem yang Mematikan di Danau Natron
Berdasarkan data dari NASA Earth Observatory, keunikan kimiawi Danau Natron dipicu oleh aktivitas vulkanik dari gunung yang terletak di sisi selatan. Gunung ini menghasilkan campuran lava yang kaya akan garam natrium karbonat dan kalsium karbonat, yang kemudian mengalir ke danau melalui sistem mata air panas.
Kondisi ini diperparah dengan kedalaman danau yang tidak sampai 3 meter. Sinar matahari khatulistiwa dengan mudah memanaskan air hingga suhu yang sangat tinggi.
Kombinasi antara air yang sangat asin (hipersalin), panas, dan kondisi sangat basa menciptakan lingkungan yang berbahaya bagi sebagian besar makhluk hidup.
"Wilayah ini sangat tidak ramah bagi kehidupan. Danau ini sebagian besar memang tidak bisa dihuni," tulis laporan NASA untuk menjelaskan mengapa sangat sedikit spesies yang mampu bertahan di sana.
Fenomena Mumifikasi, Bukan Menjadi Batu
Meskipun foto-foto Nick Brandt memberikan kesan bahwa hewan-hewan tersebut seketika berubah menjadi batu saat menyentuh air, fakta ilmiah mengatakan tidak demikian. Hewan-hewan tersebut sebenarnya mengalami mumifikasi.
Pada mumifikasi, kandungan garam dan soda yang tinggi mengawetkan jasad hewan dengan sangat sempurna.
Para peneliti menduga banyak burung yang mati karena terkecoh oleh permukaan danau yang sangat reflektif seperti cermin. Mereka terbang langsung menuju permukaan air karena mengiranya ruang udara, lalu terjatuh dan terjebak dalam cairan korosif yang panas.
Tak hanya burung yang bermigrasi, manusia pun pernah menjadi korban Danau Natron.
"Airnya membakar mata saya. Air itu secara fisik memang sangat panas," kenang juru kamera Ben Herbertson saat menceritakan pengalamannya jatuh ke danau tersebut dalam sebuah kecelakaan helikopter pada 2007 silam.
Jenis Makhluk Hidup yang Bisa Bertahan
Kendati demikian, masih ada sejumlah spesies yang bisa hidup di Danau Natron. Alga, yang membuat danau ini jadi berwarna pink, dan spesies ikan Alcolapia latilabris bisa hidup di sana.
Koloni flamingo juga bisa hidup di kawasan danau ini, dikutip dari Copernicus Uni Eropa. Makan alga di sana, Danau Natron menjadi tempat berkembang biak terbesar di dunia untuk flamingo kecil.
(crt/twu)











































