Gunung Anak Krakatau Hampir Berusia 100 Tahun, Ini Gambaran Perkembangannya

ADVERTISEMENT

Gunung Anak Krakatau Hampir Berusia 100 Tahun, Ini Gambaran Perkembangannya

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 14 Sep 2026 14:00 WIB
Perkembangan Gunung Anak Krakatau dari tahun ke tahun.
Perkembangan Gunung Anak Krakatau dari tahun ke tahun. Foto: Tangkapan Layar/Webina Geohazard BRIN
Jakarta -

Profesor bidang Vulkanologi University of Brimingham, Prof Sebastian Watt membeberkan gambaran evolusi Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak pertama kali muncul di atas permukaan laut pada 1927. Ia menegaskan GAK adalah gunung berapi yang istimewa.

"Ia istimewa karena konteksnya dan posisinya sebagai gunung berapi yang muncul di Selat Sunda (GAK) merupakan kasus yang tidak biasa karena kita memiliki gambaran yang sangat detail tentang perilakunya sejak pertama kali muncul di atas permukaan laut pada 1927," tuturnya dalam Webinar Geohazard BRIN yang ditayangkan secara daring, Senin (14/9/2026).

GAK hadir dari kaldera Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 dan memakan hampir 30 ribu nyawa manusia. Besarnya peristiwa itu, membuat ilmuwan memantau kehadiran GAK sejak pertama kali muncul hingga kini akan berusia 100 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagian besar letusannya telah didokumentasikan dengan baik, dalam banyak kasus terdapat foto dan peta aktivitasnya. Jadi, ini memungkinkan kita untuk melihat kembali catatan sejarah dan merekonstruksi bagaimana perilakunya dari waktu ke waktu," sambung Watt.

ADVERTISEMENT

Perkembangan GAK dari Tahun ke Tahun

Seperti yang disebutkan Watt, dokumentasi GAK terbilang lengkap selama hampir 100 tahun. Ia memperlihatkan masa-masa awal melalui gambar yang diambil pada 1928.

Di gambar tersebut, Watt membeberkan kala itu gunung berapi tengah berinteraksi dengan air laut dan menghasilkan erupsi freatomagmatik (letusan yang terjadi akibat magma baru berinteraksi dengan air laut). Saat letusan ini terjadi, lubang gunung api masih berada di bawah permukaan laut.

"Jadi ini menghasilkan gaya erupsi freatomagmatik di mana magma berinteraksi dengan air laut," jelasnya.

Berlanjut ke 1935, sebuah pulau mulai terbentuk di GAK. Pulau itu berbentuk tidak simetris yang tersusun dari endapan semburan berbentuk butiran halus yang berlapis-lapis.

Endapan material tersebut disampaikan Watt hanya menumpuk di satu sisi gunung berapi, di sisi timur laut. Kondisi ini berlanjut hingga 1940-1960-an.

Melalui gambar tertanggal Mei 1961, terlihat lubang letusan GAK sudah berada di atas permukaan laut. Posisi ini membuat GAK menghasilkan aliran lava yang mengalir ke arah barat daya dan mengendap seperti saat ini.

Data yang komplit ini, baik peta, deskripsi tertulis, dan foto, membuat perilaku erupsi serta evolusi GAK bisa direkonstruksi. Hal ini tentu sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran yang sangat rinci dan unik soal perkembangan GAK.

GAK yang Aktif Terus-Menerus

Watt menegaskan bila GAK merupakan gunung api yang telah aktif secara terus-menerus meski tetap memiliki waktu jeda. Dalam waktu satu dekade ini, GAK memiliki perilaku yang relatif serupa.

Rangkaian pertumbuhan GAK adalah:

  • Letusan freatomagmatik: 1927
  • Aliran lava pertama: 1960
  • Lubang letusan berada di atas permukaan laut atau yang disebut dengan fase pertumbuhan strombolian: 1990-2018
  • Runtuh dan meletus yang menyebabkan lubang letusan kembali ke bawah permukaan laut: 2018
  • Tumbuh kembali: 2023-kini

"Jadi kita kembali ke tahap freatomagmatik lain, sebenarnya hanya untuk beberapa bulan, sampai kemudian menjadi subaerial lagi, dan gaya perilaku strombolian kembali," sampainya.

Berbagai evolusi GAK di masa lampau akan memberikan konteks untuk mengukur dan menafsirkan lanjut pertumbuhan di masa depan. Berbagai hal baik dari segi ukuran maupun bentuk tubuh GAK harus diperhatikan.

Setelah kejadian 2018, tubuh GAK berbeda. Untuk mengetahui bagaimana stabilitas GAK secara menyeluruh di masa depan, ilmuwan perlu mencari tahu soal laju pertumbuhan dan bentuknya, serta sifat dan proses yang memengaruhi batuan di bawah permukaan.

Aktivitas terbaru GAK di awal September 2026 juga perlu ikut diperhatikan. Komposisi magma dan perilaku naiknya magma perlu diuji untuk mengetahui apakah aktivitas tersebut selaras dengan perilaku sebelumnya.

Watt menyimpulkan seluruh tahapan evolusi GAK telah dipahami secara sangat rinci. Mulai dari pertumbuhannya hingga peristiwa runtuhnya tubuh gunung api pada 2018 dan perkembanganya setelah itu.

"Hal ini memungkinkan dilakukannya evaluasi terhadap aktivitas di masa mendatang dengan mempertimbangkan pola perilaku gunung api tersebut di masa lampau baik dari segi gaya, frekuensi, dan skala letusan, maupun dari aspek kimia serta kondisi magma di bawah permukaan," katanya.

"Pada gilirannya, hal ini menjadi landasan untuk mengidentifikasi perubahan perilaku serta memantau pertumbuhan gunung api tersebut di masa depan," tegas Watt.



(det/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads