India memiliki Coalition for Disaster Resilient Infrastructure (CDRI), koalisi global yang berkomitmen untuk memperkuat ketahanan infrastruktur terhadap risiko iklim dan bencana. Salah satu yang dilakukan yaitu membangun sektor pendidikan dan riset yang kuat.
CDRI mencakup 58 negara anggota dan 12 organisasi mitra. Mereka berkolaborasi untuk bertukar pengetahuan, mendorong penelitian, dan berinvestasi dalam infrastruktur tahan bencana.
Anggota CDRI mendapatkan akses ke keahlian global, pendanaan, dukungan teknis, peluang penelitian, solusi inovatif, dan praktik terbaik internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkuat Perguruan Tinggi dan Riset
Salah satu pembangunan yang diperkuat adalah sektor pendidikan. CDRI fokus melakukan pengembangan riset, konferensi, hingga program khusus seperti beasiswa.
"Pengembangan kapasitas riset, aksi tentang DRI (Infrastruktur Tangguh Bencana) melalui perguruan tinggi, dan program beasiswa," papar Amit Prothi, Director General (Direktur Jenderal) CDRI, dalam pertemuan delegasi media BRICS 2026 di Kantor CDRI, New Delhi, Jumat (11/9/2026)
Dalam membangun ketahanan bencana, CDRI bekerja sama menyelenggarakan lebih dari 250 dialog/diskusi panel dan terlibat dengan lebih dari 500 pakar mengenai topik yang berkaitan dengan infrastruktur tangguh.
Perkumpulan antarperguruan tinggi juga diperkuat, termasuk kampus IIT dari India dan lembaga global terkemuka di negara-negara anggota.
Menggunakan Data Bencana dari Ratusan Negara
Dalam CDRI, kata Amit, India dan negara anggota menggunakan berbagai metode, matriks, dan informasi untuk menyediakan data.
"Menyediakan data AAL (Kerugian Tahunan Rata-Rata) dan RAAL (Kerugian Tahunan Rata-Rata Relatif) untuk lebih dari 170 negara," terangnya.
Metrik risiko tingkat daerah pada skala negara tersedia untuk Bangladesh, Brasil, Mesir, Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan Vietnam.
Indonesia Tak Masuk Anggota tapi Berpartisipasi
Meski Indonesia tak masuk negara anggota CDRI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan Indonesia kepada para periset negara anggota BRICS, termasuk India dan beberapa anggota CDRI. Ini menjadi langkah bagi Indonesia memperluas kolaborasi riset Internasional.
"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," kata Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat (21/8/2026), dikutip Jumat (11/9/2026).
BRIN juga membawa tiga aktivitas penelitian dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia untuk dikolaborasikan dengan negara-negara BRICS. Ketiganya adalah Research and Workshop on Time-domain Astrophysics, Expedition of Terrestrial Geological Field Training for Disaster Mitigation, serta Training on Indonesian Biodiversity Structural Biology.
BRIN ingin kerja sama BRICS menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat langsung, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Indonesia tidak hanya ingin menjadi bagian dari kolaborasi, tetapi juga menawarkan kapasitas, fasilitas, pengetahuan, dan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan bersama," tuturnya.
