Erupsi Membuat Anak Krakatau Semakin Besar atau Tidak? Pakar UGM Jelaskan Ini

ADVERTISEMENT

Erupsi Membuat Anak Krakatau Semakin Besar atau Tidak? Pakar UGM Jelaskan Ini

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 08 Sep 2026 06:31 WIB
A satellite view shows a volcanic eruption at Mount Anak Krakatau, Indonesia, September 5, 2026, in this screengrab obtained from a timelass satellite video. CSU/CIRA & JMA/JAXA/Handout via REUTERS    THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. WATERMARK AND OVERLAY FROM SOURCE.
Foto: via REUTERS/CSU/CIRA & JMA/JAXA/Gunung Anak Krakatau dari Citra Satelit.
Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9) menghasilkan kolom abu vulkanik mencapai 6-15 km. Namun, apakah erupsi bisa menjadikan Gunung Anak Krakatau bertambah tinggi atau besar?

Ahli di bidang vulkanologi, geomorfologi, dan mitigasi bencana gunung api, Dr Danang Sri Hadmoko, S Si, M Sc, menjelaskan bahwa pada dasarnya 'pertumbuhan' gunung ada dua mekanisme yang dinamis. Satu bergantung pada volume lava yang keluar dan runtuhan lereng yang tidak stabil.

"Pertumbuhan tinggi gunung itu sangat tergantung pada volume lava yang keluar begitu. Jadi, lava yang keluar itu dia akan membentuk kubah lava (lava dome). Dia akan tumbuh terus, tumbuh terus, tumbuh terus sampai ketinggiannya dan lebar diameter gunung akan bertambah karena juga itu akses dari material yang mengalir dari puncak kemudian dia mengalir ke lereng-lereng itu," terangnya kepada detikEdu, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, tetapi ketika pada suatu titik lereng itu tidak stabil, kubah lava itu tidak stabil, dia akan runtuh gitu, yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda tahun 2018 itu. Sehingga dia ketika runtuh, dia turun lagi gitu. Kemudian nanti tumbuh lagi. Jadi, memang sangat dinamis sekali sebenarnya," tambahnya.

Apakah Bisa Sedahsyat Krakatau?

Menurut Danang, erupsi Anak Krakatau berbeda dengan Krakatau pendahulunya. Hal ini terutama dari segi ukuran gunung dan kekuatan letusan.

ADVERTISEMENT

"Dan untuk mengalami erupsi sebesar tahun 1883 itu butuh waktu yang sangat panjang, akumulasi energi yang sangat-sangat panjang sekali begitu. Dan yang tumbuh sekarang ini kan anaknya gitu," ujarnya.

Danang menjelaskan bahwa dulu ada yang namanya Pulau Rakata. Usai meletus dahsyat, tumbuh 'anak' yang sekarang ini disebut Anak Krakatau. Dalam waktu yang panjang, kata Danang, tetap ada kemungkinan Anak Krakatau bisa terus tumbuh.

"Tetapi kita ya kita sebetulnya untungnya ada proses erupsi ini, sehingga tekanan dari dalam bumi, dari dalam perut bumi bisa keluar sehingga nanti tidak tersumbat gitu. Yang berbahaya kan ketika tersumbat, kemudian nanti terjadi eksplosif yang sangat besar," lanjutnya.

Abu Vulkanik Perlu Diwaspadai

Danang menekankan bahwa untuk saat ini yang perlu diwaspadai adalah sebaran abu vulkanik yang telah sampai ke berbagai wilayah termasuk DKI Jakarta. Ini karena abu vulkanik berbahan silika, bahan dasar kaca.

"Karena dari abu vulkanik itu kan dampak kerusakannya juga sangat besar. Kemudian, ya seperti itu gitu ya. Yang kita tahu bahwa abu vulkanik itu kan bahan dasar kaca ya, silika. Ini menjadi hal yang betul-betul perlu kita antisipasi, terutama dampak terhadap pernapasan, dampak terhadap mata, dampak juga terhadap penerbangan. Itu yang betul-betul perlu diwaspadai gitu," tuturnya.

"Makanya edukasi penting. Ini bukan masalah abunya belum ada, tapi kalau Anda mencoba misalnya keluar rumah kemudian ada mobil yang diparkir di depan rumah, kacanya saja (diusap) pakai tangan itu kan pasti ada bekas debunya," lanjutnya.

Danang menyarankan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau misal harus keluar, pakai masker dan pelindung mata yang bisa mencegah abu atau debu.

Saksikan Live DetikPagi :



(faz/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads