Pernah Sulit Tidur di Tempat Baru? Menurut Sains, Ini Sebabnya!

ADVERTISEMENT

Pernah Sulit Tidur di Tempat Baru? Menurut Sains, Ini Sebabnya!

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 30 Agu 2026 09:00 WIB
Ilustrasi Susah Tidur
Ilustrasi Susah Tidur. Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181
Jakarta -

Pernah merasa sulit memejamkan mata saat beristirahat di tempat baru? Bisa jadi bukan karena bantal atau kasurnya, melainkan otak kamu punya alasannya!

Tidur seharusnya menjadi kesempatan seseorang untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Namun, alih-alih memejamkan mata, otak bisa jadi salah tangkap mengenai lingkungan di sekitar, sehingga tetap terjaga.

Terdapat sebuat studi terhadap 35 orang yang dilakukan melalui pemindaian otak saat mereka tertidur di tempat baru dan tempat yang sudah familiar. Hasilnya, otak kanan maupun kiri tidak sepenuhnya dalam kondisi rileks atau tertidur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar merujuk peristiwa serupa dengan sebutan 'first night effect', yakni ketika kualitas tidur seseorang pada malam pertama di tempat baru, kurang baik dibandingkan dengan malam-malam selanjutnya. Kualitas kurang baik tersebut dideskripsikan sebagai durasi tidur yang kurang, frekuensi terbangun di tengah tidur, hingga durasinya lebih lama untuk memasuki fase REM, fase tidur paling lelap.

Kondisi ini mirip dengan mamalia laut, seperti lumba-lumba, yang tertidur dengan kondisi satu sisi otak lainnya aktif. Hal ini dialami oleh hewan tersebut sebagai bentuk waspada agar tidak tenggelam. Ketika hal ini terjadi, sisi otak kiri lebih aktif daripada sisi otak kanan atau biasanya disebut dengan unihemisferik.

ADVERTISEMENT

Studi berjudul "The first-night effect of sleep occurs over nonconsecutive nights in unfamiliar and familiar environments" oleh Anna Zoé Wick dkk mengungkapkan beberapa faktor lain yang menyebabkan efek sulit tidur di tempat kurang familiar. Salah satu faktor di antaranya adalah rasa tidak nyaman secara fisik yang berkaitan dengan misalnya, suhu ruangan atau jenis kasur yang digunakan.

Hal yang Sama Bisa Terjadi di Tempat Familiar

Dalam studi yang sama, pakar menjelaskan bahwa kondisi ini bisa pula terjadi saat seseorang tertidur di tempat yang sudah familiar. Adapun beberapa alasan yang mungkin mempengaruhi adalah adanya rasa stres atau cemas dan rutinitas yang berubah sebelum tidur.

Lalu, bagaimana caranya untuk meminimalisir efek ini supaya tetap bisa tidur nyenyak tanpa terbangun berulang kali di malam hari? Berikut penjelasannya dilansir dari IFL Science:

1. Kurangi gangguan di sekitar dengan menjauhkan perangkat elektronik dari sekitar tempat tidur

2. Mengatur suhu ruangan ideal, meskipun preferensi setiap orang berbeda, biasanya berkisar antara 16 hingga 18°C

3. Membawa bantal sendiri dan menyemprotkan wewangian yang membuat otak rileks juga dapat membantu saat harus tidur di tempat baru

4. Menggunakan metode dengan cara merilekskan otot-otot badan dan memejamkan mata selagi membayangkan suasana yang tenang dan bernapas dengan teratur secara perlahan.

Dalam beberapa kesempatan, pakar bahkan menyarankan untuk menginap satu malam lebih awal untuk acara yang penting agar tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang optimal saat hari pentingnya tiba.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads