Studi baru menemukan bahwa bekerja dari rumah (work from home) dapat berkontribusi terhadap kesehatan mental yang memburuk. Ini karena pekerja jarak jauh banyak menghabiskan waktu sendirian tanpa berinteraksi dengan rekan kerjanya.
Studi berjudul 'Home Alone' dilakukan dengan melibatkan lebih dari 500.000 warga Amerika Serikat yang bekerja dari rumah dan cenderung memiliki kondisi mental yang lebih buruk. Studi ini terbit di jurnal Science pada Juni 2026.
"Secara substansial (WFH) meningkatkan isolasi dan memperburuk kesehatan mental," kata Profesor Emma Harrington , salah satu penulis studi dan seorang ekonom di Universitas Virginia, dikutip dari BBC Science Focus.
Kesendirian Memperburuk Kesehatan Mental
Dalam studi ini, ditemukan bahwa 84 persen orang yang bekerja jarak jauh antara tahun 2022 dan tahun 2024, menghabiskan seluruh hari kerja mereka sendirian. Mereka yang tinggal sendirian berpotensi 10 kali lebih mungkin untuk menghabiskan seluruh hari kerja sendirian dan 13 kali lebih mungkin untuk tidak melakukan kontak dengan manusia sama sekali.
Direktur Work Future Research Centre di University of Southampton, Dr. Jane Parry mengatakan bahwa pekerjaan jarak jauh yang dikelola dengan buruk dapat menyebabkan pekerja menjadi terisolasi atau kelelahan.
Meski begitu, pengalaman WFH bisa berbeda bagi orang lain. Namun, ada indikasi isolasi yang harus diwaspadai.
"Pengalaman bekerja jarak jauh sangat bervariasi tergantung pada keadaan seseorang, kualitas manajemen, dan bagaimana pekerjaannya dikelola," ujar Dr Parry.
Studi Lain Ungkap Sebaliknya
Penelitian lain yang berjudul 'Hybrid working from home improves retention without damaging performance', menemukan bahwa WFH justru bisa membuat pekerja merasakan kepuasan hidup. Penelitian tersebut melibatkan 1.612 pekerja di perusahaan teknologi perjalanan Trip.com.
Mereka yang ditugaskan untuk bekerja dari rumah dua hari per minggu menilai keseimbangan hidup dan kerja mereka. Kepuasan pekerja yang WFH lebih tinggi daripada pekerja yang ditugaskan untuk bekerja sepanjang minggu di kantor.
Pekerja yang dua hari per minggu melakukan WFH juga dinilai cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk berhenti kerja dan juga tidak kalah produktif dari pekerja yang bekerja di kantor sepanjang minggu.
Dalam berbagai temuan, terdapat sistem yang dipercaya dapat menjadi solusi atau titik tengah antara bekerja di rumah dan bekerja di kantor, yaitu sistem hibrida. Dalam hal ini, studi Dr Parry menyoroti pentingnya pelatihan khusus bagi para manajer untuk mengatur dan menangani sistem kerja hibrida dalam tim.
"Ini termasuk memeriksa staf untuk mengetahui tanda-tanda mereka merasa terisolasi, tetapi juga memastikan bahwa ketika orang-orang datang ke kantor, mereka dapat duduk [bersama rekan-rekan mereka] dan ada ruang bagi mereka untuk melakukan diskusi kelompok dan terhubung secara informal. Koneksi itu adalah bagian dari budaya tempat kerja," tuturnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: ASN Jakarta WFH Tiap Jumat, Pramono Minta Sektor Ini Tetap Masuk"
(faz/faz)