Ekonomi Tidak Stabil, Pakar UI Sebut Lulusan Ini Punya Nilai Plus

ADVERTISEMENT

Ekonomi Tidak Stabil, Pakar UI Sebut Lulusan Ini Punya Nilai Plus

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 11 Agu 2026 19:30 WIB
Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Manneke Budiman ditemui di FIB UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (11/8).
Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Manneke Budiman. (Foto: Nikita Rosa/detikedu)
Jakarta -

Persaingan tenaga kerja bagi lulusan perguruan tinggi semakin ketat. Meski persaingan tinggi, guru besar Universitas Indonesia (UI) menilai masih ada bidang keilmuan yang adaptif.

Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (FIB UI), Manneke Budiman, mengatakan ilmu tersebut adalah humaniora. Ia melihat jika lulusan humaniora memiliki fleksibilitas yang tidak dimiliki jurusan lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat misalnya akuntansi itu, hukum itu, sangat spesifik. Jadi keahliannya itu spesifik, bidang kerjanya spesifik. Kalau humaniora, orang seperti orang lulusan sastra, sejarah, filsafat itu mau masuk ke bidang apa saja punya fleksibilitas yang sangat tinggi," tuturnya kepada detikEdu, Selasa (11/8/2026).

Para lulusan ini lebih adaptif untuk bekerja di berbagai bidang. Ia juga melihat masih banyak anggapan jika bekerja di jurusan tertentu sudah pasti kaya, namun faktanya tidak demikian.

ADVERTISEMENT

"Orang masyarakat itu masih mengira kalau orang belajar manajemen, ilmu hukum, itu udah jaminan kaya. Kalau belajar hukum jaminan kaya, karena bayangin jadi lawyer yang perjamnya berapa ratus dolar. Nyatanya tidak," ungkapnya.

Melihat kondisi saat ini, Manneke mengatakan bidang humaniora cenderung lebih adaptif. Seseorang yang belajar di jurusan Filsafat akan diajari untuk berpikir mengenai isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga ketidakadilan gender.

"Jadi kalau orang ini kemudian dilepas ke masyarakat sebagai lulusan, dia sudah terlatih untuk mikir di dalam suatu situasi yang kompleks, situasi sosial ekonomi budaya yang kompleks," ujarnya.

"Tapi kalau dibandingkan dengan orang misalnya akuntansi, ya cuma itu saja. Perusahaan itu tidak punya fleksibilitas untuk bisa mindah orang ini ke divisi apapun dengan seenaknya. Tapi kalau dia orang humaniora, dia mungkin nggak ngerti hal yang di divisi baru, tapi dia bisa dengan cepat itu beradaptasi," imbuhnya.

Ketua Departemen Ilmu Susastra itu berpendapat kemampuan berpikir kritis dan kreatif itulah yang bisa membawa para lulusan humaniora di dunia kerja.

"Dia diajari kreatif, dia diajari untuk bertanya kenapa kok gini, kenapa kok gitu. Jadi itu kemampuan berpikir kritis. Dan itu tidak melihat jurusan. Semua basisnya ilmu humaniora itu seperti itu," ujarnya.



(nir/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads