Sejarah Peristiwa Rengasdengklok dan Arti Pentingnya bagi Indonesia

ADVERTISEMENT

Sejarah Peristiwa Rengasdengklok dan Arti Pentingnya bagi Indonesia

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 11 Agu 2026 07:00 WIB
Rumah Djiauw Kie Siong yang menjadi saksi bisu Peristiwa Rengasdengklok
Rumah Djiauw Kie Siong yang menjadi saksi bisu Peristiwa RengasdengklokFoto: Istimewa (Foto: dok. Buku Peristiwa Rengasdengklok karya Her Suganda)
Jakarta -

Peristiwa Rengasdengklok merupakan lembaran penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Terlebih mendekati momen peringatan HUT ke-81 Indonesia yang akan dirayakan pada 17 Agustus nanti.

Rengasdengklok sendiri adalah suatu tempat di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Daerah itu berjarak sekitar 90 kilometer dari Jakarta dan menjadi tempat 'diculiknya' presiden pertama Indonesia beserta wakilnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang terjadi di Rengasdengklok? Berikut penjelasannya.

Sejarah Peristiwa Rengasdengklok

Awal mula peristiwa Rengasdengklok ada pada perbedaan pendapat mengenai golongan muda dan tua terkait kemerdekaan Indonesia. Menurut buku Sejarah Indonesia Kelas XI: Proklamasi Kemerdekaan dan Maknanya Bagi Bangsa Indonesia (2020) yang disusun Ersontowi, hal ini semakin diperkuat ketika peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

ADVERTISEMENT

Syahrir, yang merupakan golongan muda, menyampaikan gagasan kepada Hatta agar Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan sendiri karena Jepang sudah kalah. Namun Hatta membantahnya karena proklamasi Indonesia akan diserahkan kepada PPKI yang telah dibentuk. Sukarno pun sependapat dengan Hatta yang tidak mau tergesa-gesa.

Perbedaan pendapat ini membuat golongan muda melakukan perundingan yang dipimpin Chaerul Saleh di ruangan Lembaga Bakteriologi Pegangsaan Timur pada 15 Agustus 1945 malam. Selanjutnya diharapkan dilakukan perundingan dengan Sukarno dan Hatta.

Wikana dan Darwis pada pukul 22.00 WIB datang ke rumah Sukarno dan mengancam akan terjadi pertumpahan darah jika proklamasi tidak dibacakan pada 16 Agustus 1945. Sukarno berkata, "Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepas tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu, saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok."

Berdasarkan rapat terakhir pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 agustus 1945 di Cikini 71, Jakarta, golongan pemuda nekat membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Hal ini ditujukan untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang.

Sukarno ditemani Fatmawati dan Guntur Sukarno Putra. Mereka dibawa ke rumah seorang keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Di sana, para pemuda meyakinkan kedua tokoh tersebut bahwa Jepang telah menyerah dan rakyat siap melawan Jepang. Bahkan Sukarni mengatakan ada 15.000 pemuda bersenjata yang bersiap di pinggir-pinggir Jakarta. Mereka siap memasuki ibu kota setelah proklamasi dikumandangkan.

Sementara itu di Jakarta terjadi kesepakatan antara Achmad Soebardjo selaku golongan tua dengan Wikana selaku golongan muda untuk mengadakan proklamasi di Jakarta. Yusuf Kunto diutus untuk mengantar Achmad Soebardjo ke Rengasdengklok.

Achmad Soebardjo lalu menjemput Sukarno-Hatta kembali ke Jakarta. Ketika itu Soebardjo menjamin dengan nyawanya, proklamasi akan dilakukan pada 17 Agustus 1945. Dengan jaminan ini, para pemuda bersedia mengembalikan Sukarno dan Hatta ke Jakarta.

Tokoh-tokoh Rengasdengklok

Tokoh-tokoh dalam peristiwa Rengasdengklok seperti dikatakan dalam buku Pengetahuan Sosial: Kenali Lingkungan Sosialmu untuk Kelas VI oleh Nana Supriatna adalah:

Tokoh Golongan Muda

  1. Chaerul Saleh
  2. Darwis
  3. Wikana
  4. Sayuti Melik.

Tokoh Golongan Tua

  1. Sukarno
  2. Hatta
  3. AhmadSoebardjo.

Arti Penting Peristiwa Rengasdengklok

Arti penting peristiwa Rengasdengklok yaitu mendorong percepatan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam peristiwa ini, para pemuda mendesak Sukarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan dari Jepang.

Dampak dari peristiwa Rengasdengklok mendorong para golongan tua untuk mempercepat kemerdekaan. Peristiwa ini menunjukkan semangat perjuangan peran penting para pemuda dalam sejarah Indonesia.



(nir/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads