Roket SpaceX Baru Saja Tabrak Bulan, Apa Dampaknya?

ADVERTISEMENT

Roket SpaceX Baru Saja Tabrak Bulan, Apa Dampaknya?

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 06 Agu 2026 20:15 WIB
Ilustrasi bulan purnama atau full moon
Bulan. Foto: Freepik/ninjason1
Jakarta -

Sebagian dari roket SpaceX menabrak Bulan pada Rabu dini hari Eastern Time (ET). Roket tersebut melaju dengan kecepatan lebih dari 5.000 mil per jam.

Fasilitas astronomi Very Large Telescope milik European Southern Observatory (ESO) yang berlokasi di Observatorium Paranal di Cile, mendeteksi dampak tabrakan tersebut. Asisten profesor riset astronomi di Boston University yang memimpin pengamatan menggunakan Very Large Telescope, Carl Schmidt, menyatakan peristiwa tumbukan tersebut terjadi sekitar pukul 02.35 pagi waktu setempat (Easter Time/ET) di dekat Kawah Einstein di Bulan, sesuai dengan perkiraan.

Menurut Schmidt, ukuran semburan gas natrium dan litium tersebut mencapai puluhan kilometer. Para ilmuwan memperkirakan semburan itu akan menjadi unsur yang paling terlihat dari peristiwa tumbukan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepulan Gas Beberapa Menit

Sementara, Manajer Media Departemen Komunikasi ESO, Dr BΓ‘rbara Ferreira mengatakan pihaknya dapat mengonfirmasi bahwa teleskop mendeteksi garis spektrum gas natrium dan litium pada kepulan material akibat tabrakan yang berlangsung selama 5-10 menit setelah benturan.

ADVERTISEMENT

"Natrium kemungkinan berasal dari tanah bulan, sedangkan litium bisa jadi berasal dari roket itu sendiri," jelas Ferreira melalui surel kepada CNN Science, dikutip Kamis (6/8/2026).

Roket Falcon 9 meluncur pada 15 Januari 2025 dengan membawa dua wahana pendarat bulan komersial. Ketika fase pertama roket, yaitu pendorong yang digunakan untuk peluncuran kembali ke Bumi, fase kedua (tahap atas) berfungsi sebagai penggerak utama untuk melontarkan wahana pendarat robotik tersebut menuju Bulan dan tetap berada di luar angkasa setelah misinya selesai.

Menurut Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, Julianna Scheiman, dalam konferensi pers (3/8/2026), untuk misi yang menuju orbit rendah bumi, SpaceX dan operator lainnya biasanya membuang tahap atas roket dengan membiarkannya terbakar habis di atmosfer bumi.

"Namun, untuk misi berenergi tinggi, kami perlu melakukan manuver yang berbeda guna memastikan tahap kedua tersebut tetap aman sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku," kata Scheiman.

"Kami melakukan hal itu untuk tahap kedua pada misi Ispace dan Blue Ghost, dan apa yang terjadi pada dasarnya adalah kombinasi antara aktivitas matahari dan gaya gravitasi yang mengarahkannya ke jalur menuju Bulan," ungkapnya.

Apa Dampaknya bagi Bulan?

SpaceX merilis pernyataan di media sosial X pada Rabu setelah terjadinya tabrakan tersebut.

"Benturan seperti ini jarang terjadi, tetapi bisa menimpa objek yang berada di orbit semacam ini, dan kami telah bekerja sama dengan NASA untuk menentukan solusi limbah yang optimal," demikian bunyi unggahan tersebut.

Berdasarkan sebuah studi pracetak yang disusun oleh Fernando dan sekelompok ilmuwan, tabrakan ini tidak menimbulkan bahaya bagi Bumi, tetapi berpotensi menciptakan kawah berdiameter 20 hingga 30 meter di permukaan bulan.

Dampak tabrakan tersebut tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dari Bumi, karena jaraknya berkisar 225.623 mil (363.104 km) dan sulit diamati melalui teleskop.

Para astronom di wilayah Amerika, yang memiliki peluang terbaik untuk menyaksikan tabrakan tersebut, telah mengarahkan teleskop berbasis darat maupun antariksa ke arah Bulan dengan harapan dapat mengamati peristiwa itu. Gambar-gambar terkait diperkirakan akan tersedia di kemudian hari.

Para ilmuwan dapat memanfaatkan peristiwa langka ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang satelit alami Bumi tersebut, sekaligus mempersiapkan langkah pelindungan bagi astronaut dan infrastruktur masa depan yang akan dikirim ke sana.

NASA berencana membangun kehadiran manusia yang lebih berkelanjutan di permukaan bulan melalui program Artemis. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah misi menuju Bulan, pengelolaan akumulasi sampah antariksa di orbit bulan akan menjadi problem yang semakin krusial.



(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads