Si Gila Kerja: Apakah Karyawan yang Workaholic Berdampak Baik?

ADVERTISEMENT

Belajar dari Pakar

Si Gila Kerja: Apakah Karyawan yang Workaholic Berdampak Baik?

- detikEdu
Selasa, 28 Jul 2026 12:00 WIB
tes workaholism / work addiction
workaholic
Foto: iStock (diolah)
Jakarta -

Apakah kamu atau orang di sekitarmu pernah disebut sebagai orang yang gila kerja, atau workaholic? Keberadaan orang yang gila kerja atau workaholic merupakan fenomena yang semakin marak terjadi.

Hal ini mungkin terjadi karena kesuksesan karier dianggap sebagai salah satu jalur utama menuju kebahagiaan. Selain itu, negara kolektivis seperti Indonesia cenderung tidak menganggap orang yang gila kerja ini sebagai sesuatu yang buruk, bahkan menuai pujian, karena mereka dianggap lebih loyal dan berdedikasi.

Namun, apakah karyawan yang workaholic benar-benar dapat memberikan dampak yang lebih baik bagi dirinya dan perusahaan?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ciri-ciri Karyawan Workaholic

Sebelum membahas tentang dampaknya, mari kita kenali dulu ciri-ciri dari karyawan yang workaholic. Karyawan workaholic memiliki ciri-ciri bekerja melebihi batas wajar yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan dan kebutuhan finansial.

Dengan demikian, ia bekerja lebih karena ada obsesi dari dalam dirinya tentang pekerjaan, dan bukan karena permintaan atau kebutuhan orang lain.

ADVERTISEMENT

Selain itu, mereka juga terus-menerus memikirkan pekerjaannya di luar jam kerja dan merasa bersalah saat tidak bekerja. Jadi, perlu ditekankan bahwa ada sesuatu dari dalam dirinya yang membuat karyawan workaholic kecanduan bekerja, dan bukan sekadar omelan bos atau kebutuhan untuk menghidupi keluarganya.

Dampak Karyawan dengan Tingkat Workaholism yang Tinggi

Walaupun mereka yang workaholic ini dinilai sangat berdedikasi di perusahaan, penelitian sebelumnya menegaskan bahwa perilaku dan pikiran berlebihan terkait pekerjaan ini justru berdampak buruk.

Misalnya saja, karyawan workaholic lebih sulit percaya pada orang lain dan mudah menganggap karyawan lain sebagai pesaing. Waktu pribadi karyawan workaholic juga terganggu karena pekerjaan, sehingga hubungan dengan keluarga pun dapat memburuk.

Minimnya waktu pemulihan diri dan lamanya waktu bekerja membuat mereka juga rentan mengalami masalah kesehatan mental dan fisik. Lebih parahnya lagi, mereka tetap berusaha memaksakan diri untuk bekerja meskipun sedang tidak sehat. Hal ini dapat membuat kesehatan mereka semakin menurun, bahkan berisiko memicu kecelakaan di tempat kerja.

Jadi, tidak selamanya karyawan yang gila kerja bisa membawa dampak positif, malah justru jika terlalu berlebihan, akan membawa dampak negatif bagi dirinya, orang di sekitarnya, dan organisasi.

Bagaimana Cara Mengurangi Tingkat Workaholism?

Berikut ini langkah-langkah yang bisa membantu si workaholic jadi agak mengerem workaholic-nya:

1. Jika memungkinkan, karyawan dapat merefleksikan apakah waktu yang ia gunakan untuk bekerja merupakan sesuatu yang wajar dan apakah bekerja dalam waktu yang panjang merupakan hal yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Berikan waktu untuk beristirahat dan bersosialisasi dengan orang lain agar tidak selalu terpaku pada pekerjaan.

2. Jika perasaan bersalah dan rasa kecanduan terhadap pekerjaan sulit dikendalikan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikolog.

3. Pemimpin dapat mengawasi bawahannya untuk melihat apakah ada karyawan yang bekerja secara berlebihan, padahal tidak dibutuhkan oleh tugasnya, sampai mengganggu waktu pribadinya.

4. Organisasi dapat membantu mensosialisasikan ciri-ciri dan dampak buruk dari workaholism. Cek apakah orang yang terlihat gila kerja diapresiasi secara berlebihan, sedangkan karyawan yang pulang tepat waktu dianggap kurang berdedikasi walaupun pekerjaannya selesai dengan baik.

5. Organisasi dapat mempertimbangkan untuk membuat kebijakan untuk mengurangi komunikasi terkait pekerjaan di luar jam kerja.

*) Eka Gatari, M.Psi., Psikolog

Dosen, peneliti, dan psikolog industri organisasi yang aktif mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

*) Amanda Aisyah Dungga, S.Psi.

Sarjana psikologi dari Fakultas Psikologi UI.



(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads