Messi atau Ronaldo? Kata Riset NTU, Pilihanmu Bisa Ungkap Nilai Hidup yang Kamu Anut

ADVERTISEMENT

Messi atau Ronaldo? Kata Riset NTU, Pilihanmu Bisa Ungkap Nilai Hidup yang Kamu Anut

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 22 Jul 2026 09:00 WIB
(EXCLUSIVE COVERAGE) (EDITORS NOTE: THIS IMAGE HAS BEEN RETOUCHED) In this composite image released on June 15, a comparison has been made between (L-R) Cristiano Ronaldo of Portugal and Lionel Messi of Argentina, who are posing during the official FIFA World Cup 2026 portrait sessions on June 14, 2026 in Kansas City and June 11, 2026 in Palm Beach, Florida. The two football legends are preparing to take part in their final FIFA World Cup. (Photo by Pat Elmont and Karl Bridgeman - FIFA/FIFA via Getty Images)
Ronaldo dan Messi. Foto: FIFA via Getty Images/FIFA
Jakarta -

Siapa idolamu: Messi atau Ronaldo? Pilihan idola ternyata bisa menggambarkan seperti apa pandangan politik hingga nilai-nilai yang dianut.

Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah penelitian yang dinakhodai oleh Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura. NTU melakukan survei daring (online) terhadap lebih dari 10.000 responden di sejumlah negara. Indonesia merupakan salah satu negara responden.

Negara-negara yang terlibat adalah Australia, Argentina, Brasil, Kanada, Cina, Mesir, Finlandia, Prancis, Jerman, India, Jepang, Malaysia, Meksiko, Belanda, Nigeria, Norwegia, Filipina, Portugal, Singapura, Spanyol, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara-negara tersebut dipilih untuk mewakili enam benua dan beragam budaya sepak bola, sistem politik, dan perkembangan ekonomi.

Messi = Liberal Vs Ronaldo = Konservatif

Dikutip dari laman resmi NTU, penelitian mengungkapkan bahwa orang yang mengidentifikasi diri dengan pandangan lebih liberal cenderung menyukai Messi, sedangkan yang mengidentifikasi diri sebagai lebih konservatif cenderung menyukai Ronaldo.

ADVERTISEMENT

Namun, asosiasi dengan pilihan idola tampak paling kuat di antara responden yang lebih muda dan kecenderungannya melemah secara substansial pada responden usia dewasa yang lebih tua.

Responden dari 11 negara, termasuk Singapura, rata-rata menilai Ronaldo lebih baik. Kemudian, responden di 8 negara lebih menyukai Messi. Sementara 7 negara tidak menunjukkan preferensi yang jelas secara statistik antara kedua pemain tersebut.

Profesor Saifuddin Ahmed dari Sekolah Komunikasi dan Informasi Wee Kim Wee NTU, yang memimpin studi tersebut, mengatakan signifikansi temuan ini melampaui sepak bola itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan identitas politik mungkin berkaitan dengan preferensi budaya yang bahkan tampaknya tidak banyak berhubungan dengan politik.

"Messi dan Ronaldo menampilkan citra publik yang sangat berbeda. Messi umumnya dikaitkan dengan citra yang lebih tenang dan berorientasi pada tim, sementara Ronaldo dikenal karena secara terbuka mengekspresikan ambisinya dan merayakan pencapaian individu. Orang mungkin lebih tertarik pada pemain yang citra publiknya selaras dengan nilai-nilai mereka yang lebih luas," ungkap Saifuddin.

Ia menambahkan bahwa hubungan antara identitas politik dan preferensi budaya telah dipelajari secara ekstensif di Amerika Serikat, tetapi survei menunjukkan pola ini mungkin tidak terbatas pada konteks Amerika.

"Temuan ini menawarkan titik awal untuk meneliti bagaimana identitas politik semakin beririsan dengan budaya populer dan pilihan sehari-hari di berbagai masyarakat," katanya.

Faktor Lain Terkait Preferensi Pemain

Para peneliti juga menganalisis apakah karakteristik pribadi dan kebiasaan bermedia berkaitan dengan preferensi pemain, termasuk dalam hal konsumsi berita video pendek dan bagaimana seseorang menilai harga dirinya (self-esteem).

Responden yang memperoleh lebih banyak berita dari platform video pendek seperti TikTok dan Instagram cenderung menyukai Ronaldo.

Salah satu kemungkinan penjelasannya, kata para peneliti, adalah kehadiran Ronaldo yang kuat di platform media sosial berorientasi visual. Hal ini membuat pengguna mungkin lebih sering menemukan citra publik Ronaldo yang telah dipupuk dengan cermat.

Responden dengan harga diri yang lebih tinggi juga lebih cenderung menyukai Ronaldo. Para peneliti mengatakan temuan ini konsisten dengan penelitian tentang penegasan diri.

Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa orang dengan harga diri yang lebih tinggi mungkin lebih cenderung mengidentifikasi diri dengan tokoh publik yang aspiratif dan dominan, yang prestasinya memperkuat pandangan positif mereka tentang diri mereka sendiri.

"Orang mungkin ingin menampilkan diri mereka sebagai orang yang rendah hati, tetapi itu tidak berarti mereka paling kuat mengidentifikasi diri dengan tokoh publik yang rendah hati. Mereka yang memiliki harga diri lebih tinggi mungkin malah tertarik pada seseorang yang mewujudkan keunggulan, kepercayaan diri, dan prestasi - kualitas yang mungkin mereka lihat tercermin dalam diri mereka sendiri," jelas Saifuddin.

Preferensi Berbeda di Berbagai Negara

Messi menerima peringkat rata-rata yang lebih tinggi di Argentina, beberapa negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, dan Korea Selatan.

Korea Selatan mencatat preferensi relatif terkuat untuk Messi, bahkan di atas Argentina. Namun, perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh peringkat Ronaldo yang relatif rendah, bukan karena peringkat Messi yang sangat tinggi. Korea Selatan adalah satu-satunya negara yang disurvei di mana Ronaldo menerima peringkat rata-rata di bawah empat, pada skala tujuh poin.

Para peneliti mengatakan hal tersebut mungkin sebagian mencerminkan ketidakpuasan publik yang masih ada atas pertandingan eksibisi tahun 2019 di Seoul, di mana Ronaldo tidak bermain meskipun menjadi daya tarik utama acara tersebut. Namun, Ronaldo menerima peringkat rata-rata yang lebih tinggi di beberapa negara di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Para peneliti tidak menemukan hubungan antara peringkat FIFA suatu negara dan preferensi pemain secara keseluruhan. Hasil setingkat negara juga tidak dapat dijelaskan hanya oleh loyalitas terhadap pemain dari negara responden sendiri.

Para peneliti berencana untuk meneliti lebih lanjut mengapa kaitan antara ideologi politik dan preferensi pemain bervariasi dengan usia. Penemuan tentang penggunaan berita video pendek juga menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana paparan di media sosial dapat memengaruhi hubungan orang dengan tokoh publik dan bagaimana asosiasi ini dapat beririsan dengan nilai-nilai politik.



(nah/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads