Cuaca Akhir-akhir Ini Lebih Panas dari Prediksi, Pakar Ingatkan Bahayanya

ADVERTISEMENT

Cuaca Akhir-akhir Ini Lebih Panas dari Prediksi, Pakar Ingatkan Bahayanya

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 09 Jul 2026 15:15 WIB
Seorang pria mengendarai skuter di sepanjang jalan yang cerah di distrik Kreuzberg selama gelombang panas yang sedang berlangsung di Berlin, Jerman, 26 Juni 2026. REUTERS/Axel (Schmidt)
Ilustrasi panas terik. Foto: REUTERS/Axel Schmidt
Jakarta -

Apakah detikers merasakan suhu panas belakangan ini? Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, saat ini tengah memasuki musim kemarau.

Adapun informasi yang mengatakan panasnya suhu saat ini menandakan "cuaca sekali dalam 60 tahun" tidaklah benar. BMKG memastikan bahwa panasnya suhu akhir-akhir ini disebabkan oleh intensitas penyinaran Matahari, kelembapan udara, tutupan awan, dan dinamika atmosfer.

Suhu panas ini tentunya menjadi pengingat agar masyarakat menjaga diri dan kesehatan. Seperti yang disampaikan oleh pakar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Merita Arini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dapat memberikan dampak kepada setiap orang. Paparan suhu tinggi ini juga menyebabkan berbagai macam penyakit jika tidak dihindari dengan baik.

ADVERTISEMENT

Kelompok Rentan Perlu Waspada

Merita mengingatkan kelompok-kelompok rentan untuk lebih waspada terhadap cuaca panas ekstrem ini. Setiap individu dapat merespons suhu ini secara berbeda.

"Kelompok yang paling rentan antara lain bayi karena sistem pengaturan suhu tubuhnya belum matang, kemudian lansia karena kemampuan adaptasi tubuhnya mulai menurun. Selain itu, orang dengan penyakit kronis juga memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar suhu panas ekstrem," ujarnya, dikutip dari laman UMY, Rabu (8/7/2026).

Terutama pada penyandang penyakit kronis. Paparan suhu panas bisa memperberat kerja organ tubuh, yang bisa menyebabkan komplikasi.

Misalnya, pada penderita diabetes, kondisi dehidrasi sangat harus dihindari pada situasi ini. Contoh lain pada penderita hipertensi, suhu panas bisa menyebabkan jantung bekerja lebih keras.

Tips Aman Selama Cuaca Ekstrem

Merita kemudian membeberkan tips agar masyarakat aman dan bisa terhindar dari penyakit selama cuaca ekstrem. Langkah pertama adalah memenuhi kebutuhan akan cairan.

"Segera pindahkan ke tempat yang lebih sejuk, longgarkan pakaian, lalu berikan air putih. Untuk aktivitas di luar ruangan yang berlangsung kurang dari satu jam, air putih umumnya sudah cukup. Namun, jika paparan panas berlangsung lebih lama atau mulai muncul keluhan seperti mual dan sakit kepala, tubuh juga memerlukan penggantian elektrolit, misalnya melalui oralit, minuman isotonik, atau makanan berkuah," tambahnya.

Jika seseorang kehilangan kesadaran akibat cuaca ini, maka penanganan yang bisa dilakukan adalah cukup dengan mengonsumsi mineral. Namun, jika mengisi cairan tidak mempan, maka perlu penanganan medis yang lebih baik.

Selain itu, Merita mengimbau masyarakat untuk memahami heat index atau indeks panas. Salah satunya adalah dengan memperhitungkan tingkat kelembapan udara.

"Di ponsel atau smartwatch biasanya terdapat informasi feels like atau real feel. Angka tersebut lebih menggambarkan kondisi yang benar-benar dirasakan tubuh dibandingkan suhu udara saja. Bisa saja suhu udara tercatat 37 derajat Celsius, tetapi karena kelembapannya tinggi, tubuh merasakan panas hingga lebih dari 40 derajat Celsius. Informasi seperti ini penting dijadikan acuan sebelum beraktivitas di luar ruangan," tuturnya.

Tak lupa, masyarakat juga perlu membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari. Selain itu, perlu memakai pakaian yang ringan dan mudah menyerap keringat.



(cyu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads