UGM Kembangkan Teknologi Pertanian Cerdas, Manfaatkan Panel Surya dan IoT

ADVERTISEMENT

UGM Kembangkan Teknologi Pertanian Cerdas, Manfaatkan Panel Surya dan IoT

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 13 Jun 2026 10:01 WIB
Pemasangan teknologi panel surya Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Foto: UGM/Pemasangan teknologi panel surya Agrovoltaic oleh tim UGM di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jakarta -

Penggunaan teknologi di sektor pertanian terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan pangan dan efisiensi energi. Salah satu inovasi yang mulai banyak dikembangkan adalah pemanfaatan panel surya di lahan pertanian.

Cara tersebut dikenal dengan agrovoltaic yakni sistem yang menggabungkan produksi energi terbarukan dengan aktivitas budidaya tanaman. Inovasi ini turut dilakukan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menerapkan PLTS Hybrid Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program ini menjadi bagian dari pengembangan smart farming yang dikelola BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wastajap Bersinar. Penerapan teknologi ini bertujuan untuk menyediakan sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui desa berbasis energi terbarukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat," ujar ketua tim peneliti UGM, Ahmad Agus Setiawan, ST, M Sc, Ph D.

ADVERTISEMENT

Cara Kerja Agrovoltaic

Agus menjelaskan bahwa teknologi agrovoltaic memungkinkan lahan pertanian dimanfaatkan untuk dua fungsi sekaligus, yakni menghasilkan listrik dari panel surya dan mendukung kegiatan budidaya tanaman. Di Desa Pandowoharjo, sistem ini diterapkan untuk menunjang pengelolaan greenhouse dan berbagai komoditas pertanian seperti melon, cabai, pepaya, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, hingga terong.

Menurut tim peneliti, sistem yang digunakan berupa PLTS Hybrid, yaitu kombinasi antara jaringan listrik dan penyimpanan energi melalui baterai. Model ini dipilih karena dinilai lebih efisien dibandingkan dengan sistem yang sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik maupun baterai.

Anggota tim peneliti sekaligus pakar agrometeorologi dan inovasi smart farming FTP UGM, Prof Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa cadangan baterai dalam sistem hybrid membantu mengurangi konsumsi listrik.

"Cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik karena hanya menyerap listrik ketika daya baterai habis," jelasnya.

Pertanian Berbasis IoT

Selain memanfaatkan energi surya, program ini juga menerapkan teknologi Internet of Things (IoT). Melalui modul pemantauan berbasis sensor, kondisi tanah dan cuaca dapat dipantau secara real time sehingga membantu pengelolaan lahan menjadi lebih efektif.

Pengembangan teknologi tersebut juga melibatkan masyarakat setempat. Tim peneliti mengikutsertakan pengelola BUMDes, kelompok tani, dan pemuda karang taruna dalam proses perakitan hingga penyusunan standar operasional agar program dapat berjalan berkelanjutan.

Menurut Bayu, integrasi PLTS dan praktik agrovoltaic menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim yang kini semakin memengaruhi sektor pertanian.

"Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin," paparnya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads