Pakar BRIN: Sesar Aktif di Jawa Belum Sepenuhnya Terpetakan

ADVERTISEMENT

Pakar BRIN: Sesar Aktif di Jawa Belum Sepenuhnya Terpetakan

Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 09 Jun 2026 11:30 WIB
Peserta berbincang pada kegiatan geotrack (pelacakan geografis) pengenalan Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (24/8/2025). Kegiatan yang digelar BPBD Kota Bandung dan diikuti oleh relawan kebencanaan serta masyarakat umum tersebut untuk memberikan sosialisasi dan edukasi tentang Sesar Lembang guna meningkatkan  kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nym.
Sesar Lembang. Foto: ANTARA FOTO/ABDAN SYAKURA
Jakarta -

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Danny Hilman Natawidjaja menuturkan Indonesia masih perlu meneliti lebih lanjut mengenai ketidakpastian sumber gempa di Jawa.

Hal ini penting untuk pengurangan risiko bencana gempa. Pasalnya, Pulau Jawa mempunyai sistem sumber gempa yang kompleks.

"Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," katanya, dikutip dari laman BRIN, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahaya Sesar Java Back-Arc Thrust

Danny menyebut salah satu sesar yang kontribusinya besar terhadap potensi gempa di bagian utara Jawa adalah Java Back-Arc Thrust. Sesar ini membentang dari wilayah Jakarta hingga Surabaya.

ADVERTISEMENT

Bagian utara Jawa selama ini menurutnya masih dianggap relatif lebih aman dibanding wilayah selatan yang dipengaruhi zona subduksi.

Tim BRIN juga baru-baru ini melakukan penelurusan di sekitar Gunung Ciremai dan menemukan keberadaan sesar aktif dan perubahan segmentasi pada beberapa struktur.

"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," jelasnya.

Sesar Aktif Sebabkan Longsor-Tsunami

Danny menekankan pemetaan wilayah sesar aktif ini menjadi sangat perlu karena sesar aktif tak hanya menyebabkan gempa tetapi juga dapat memicu rekahan permukaan, longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal.

Rekahan permukaan bisa menyebabkan rusaknya infrastuktur seperti jalan tol, jalur kereta api, bendungan, pipa energi, dan fasilitas lainnya.

"Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar," kata Danny.

Di beberapa negara, telah ditetapkan kebijakan pembatasan pembangunan di zona sesar aktif, misalnya di Taiwan, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Sementara di Indonesia, kebijakan ini masih menjadi tantangan besar. Pasalnya Indonesia masih memiliki keterbatasan data soal detail lokasi dan karakteristik sesar aktif.

"Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat," ungkapnya.



(cyu/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads