Sebuah laporan menemukan masih banyaknya perempuan yang belum menggunakan HP di tengah kecanggihan smartphone dan artificial intelligence (AI) secara global. Temuan menyoroti bahwa kesenjangan akses digital di beberapa negara masih nyata.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa perempuan masih tertinggal dari laki-laki dalam akses mereka terhadap internet dan telepon seluler di banyak bagian dunia," ujar Profesor Ridhi Kashyap, pemimpin studi dari Departemen Sosiologi dan Pusat Ilmu Demografi Leverhulme Universitas Oxford, dikutip dari ox.ac.uk, Senin (8/6/2026).
Dalam studi bertajuk "Digital Gender Gaps", Prof Kashyap dan tim melacak basis data akses digital berdasarkan gender yang mencakup 117 negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs) di tingkat subnasional. Hasilnya, ditemukan bahwa kesenjangan gender dalam penggunaan internet dan kepemilikan ponsel sangat besar di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan Lebih Terbatas dalam Mengakses Internet
Menurut temuan peneliti, perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs) 22% lebih kecil kemungkinannya untuk menggunakan internet dan 14% lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki ponsel. Hal ini terjadi di India dan Nigeria.
"Di Nigeria, lebih dari 70% wanita menggunakan internet di ibu kota Lagos di selatan, tetapi kurang dari 20% menggunakan internet di daerah utara seperti Kebbi," kata peneliti.
Sementara di ibu kota India, New Delhi, dari 75% wanita menggunakan internet, hanya sekitar 35% yang menggunakannya di negara bagian Bihar di utara.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meski teknologi telah berkembang begitu pesat di seluruh dunia, penyebarannya masih tidak merata, terutama di negara berkembang dan wilayah-wilayah di dalamnya.
Perempuan yang Menggunakan HP dan Internet, Lebih Berdaya
Akses terhadap ponsel dan internet bukan sekadar gaya hidup, melainkan alat pemberdayaan yang krusial. Riset menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki konektivitas digital memiliki kontrol lebih baik terhadap kesehatan dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga.
Konektivitas digital juga memperkuat hubungan sosial antarkomunitas, yang sangat penting untuk berbagi informasi, misalnya terkait kesehatan reproduksi. Manfaat ini sangat dirasakan oleh populasi marjinal yang sebelumnya sulit mengakses sumber daya melalui jalur konvensional.
Selain itu, penggunaan teknologi ini terbukti mampu membantu meringankan dampak kemiskinan dan membuka peluang ekonomi yang lebih fleksibel melalui platform online.
Melalui temuan ini, peneliti berharap perempuan bisa lebih terakses secara digital di tengah kemajuan AI. Peneliti juga menekankan bahwa teknologi harus memberikan dampak positif yang merata.
"Kita harus memastikan bahwa perempuan menjadi peserta yang setara dalam masyarakat digital dan tidak tertinggal," tutur peneliti.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(rhr/faz)











































