10 Negara yang Pernah Mengalami Krisis Moneter, Indonesia hingga Argentina

ADVERTISEMENT

10 Negara yang Pernah Mengalami Krisis Moneter, Indonesia hingga Argentina

fahri zulfikar - detikEdu
Selasa, 09 Jun 2026 10:00 WIB
Krisis ekonomi menghimpit kehidupan warga Zimbabwe. Negara itu menjadi negara dengan harga BBM tertinggi di dunia. Namun, BBM justru langka disana.
Foto: Philimon Bulawayo/Reuters/Krisis ekonomi yang pernah menimpa Zimbabwe hingga BBM langka.
Jakarta -

Banyak negara pernah mengalami krisis moneter yang menyebabkan anjloknya nilai mata uang domestik. Salah satunya adalah krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada 1998.

Mengutip Britannica, krisis terburuk abad ke-20 pernah terjadi usai jatuhnya pasar saham Wall Street pada 1929. Kala itu, Amerika Serikat mengalami krisis selama 10 tahun yang menyebabkan tingkat pengangguran sangat tinggi, penurunan produksi, dan hilangnya pendapatan besar-besaran.

Krisis yang berkaitan dengan AS juga pernah terjadi pada 1973. Negara-negara OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) β€” yang sebagian besar terdiri dari negara-negara Arab β€” melakukan embargo minyak terhadap AS dan sekutunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini menyebabkan kekurangan minyak yang besar dan lonjakan harga minyak yang parah, serta menyebabkan krisis ekonomi di AS dan banyak negara maju lainnya.

Selain itu, krisis moneter dan ekonomi juga pernah terjadi di beberapa negara lain, berikut daftarnya, dikutip Business Insider dan Britannica.

ADVERTISEMENT

Daftar 10 Negara yang Pernah Mengalami Krisis Moneter


1. Vietnam

Vietnam pernah mengalami keruntuhan ekonomi total akibat perang dan kolektivisasi pertanian dan industri. Pada 1980-an, infrastruktur tidak ada hingga lahan pertanian hancur akibat bahan kimia beracun, yang menyebabkan inflasi tiga digit.

Warganya juga mengalami beberapa kali wabah kelaparan dan jutaan orang mengungsi, yang akhirnya memicu krisis kemanusiaan internasional. Pada akhir tahun periode tersebut, para reformis di pemerintahan menerapkan serangkaian reformasi ekonomi yang disebut Đổi Mα»›i yang mengubah perekonomian, dan menjadikannya salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia pada tahun 1990-an.

2. Rusia

Pada 1998, Rusia mengalami krisis mata uang dan utang yang parah, diperparah oleh krisis keuangan Asia. Pada masa itu, Rusia gagal membayar obligasi domestik senilai 40 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut menyebabkan inflasi melonjak hingga 84% dan banyak bank tutup. Kondisi ini diperparah dengan pemogokan para penambang; pemblokiran jalur kereta api; harga pangan melonjak; harga impor meningkat empat kali lipat; penimbunan makanan mengakibatkan kekurangan pangan massal; demonstrasi; dan jutaan pekerja tidak menerima upah selama berbulan-bulan.

Setelah harga energi naik, perekonomian Rusia perlahan pulih. Dampaknya, terjadi surplus perdagangan Rusia pada 1999 dan 2000.

3. Brasil

Krisis moneter di Brasil dipicu oleh gagal bayar obligasi Rusia dan krisis keuangan Asia. Kala itu, investor menarik dana lebih dari 2 miliar dolar per hari.

IMF, Bank Dunia, dan negara-negara lain menerapkan paket penyelamatan senilai 41,5 miliar dolar AS. Pemerintah membiarkan nilai tukar real Brasil mengambang bebas, yang menyebabkan reli pasar global karena investor membeli saham Brasil dengan harga diskon.

4. Thailand

Krisis keuangan Asia 1997 membuat baht Thailand runtuh dan Thailand harus meminta masyarakat untuk menyerahkan perhiasan emas mereka untuk dilebur guna meningkatkan cadangan bank sentral.

Kala itu, sebagian besar negara di Asia Tenggara mengalami penurunan nilai mata uang sebesar 40-60%. Selain itu, utang swasta melonjak dan rasio utang luar negeri terhadap PDB di empat ekonomi besar ASEAN melampaui 180%.

Untuk keluar dari situasi ini, IMF melakukan penyelamatan senilai USD 40 miliar untuk menstabilkan mata uang Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia.

5. Indonesia

Krisis keuangan Asia 1997 juga berdampak pada Indonesia. Kala itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar merosot dari kisaran Rp 2.000 menjadi Rp 16.650.

Gejolak ekonomi juga memicu terjadinya pergeseran kekuasaan politik dan sosial. Setelah lebih dari 30 tahun berkuasa, Presiden Indonesia Soeharto akhirnya mundur.

Presiden Habibie menggantikan Soeharto sekaligus memulihkan perekonomian nasional. Habibie melakukan penguatan sektor perbankan, bekerja sama dengan IMF, hingga mengembalikan kepercayaan investor.

6. India

Sekitar 1991-an, India menyatakan kebangkrutan dan harus diselamatkan oleh IMF. Inflasi India bahkan mencapai 12,1 persen.

Cadangan devisa menyusut menjadi 1,1 miliar dengan kurang dari 15 hari untuk menutupi kebutuhan mata uang impor. India sampai harus mengirimkan emas melalui jalur udara untuk mengumpulkan dana guna membayar para debitur, dan menjaminkan seluruh cadangan emas negara sebagai jaminan atas pinjaman IMF.

Untuk memulihkan ekonominya pasca-1991, India menerima dana talangan IMF sebesar 2,5 miliar dolar AS dan pemerintah menerapkan serangkaian reformasi ekonomi yang signifikan.

7. Argentina

Krisis moneter juga terjadi di Argentina pada 1998. Resesi tiga tahun dari 1998 hingga 2002 menyebabkan keruntuhan ekonomi dan jatuhnya pemerintahan.

Pada masa itu, tingkat pengangguran mencapai lebih dari 20%. Selain itu, 60% warga Argentina berada di bawah garis kemiskinan.

Perekonomian akhirnya bisa pulih perlahan usai pemerintahan baru menerapkan kebijakan yang berfokus pada substitusi impor, pengumpulan pajak, dan perdagangan dolar cadangan di pasar publik. Pemerintah baru juga menyediakan akses mudah ke kredit bagi bisnis dan mengizinkan peso untuk mengalami revaluasi.

8. Ukraina

Ukraina mengalami hiperinflasi yang mencapai setidaknya 4.735 persen pada 1993. Hal ini disebabkan oleh kebijakan moneter yang solid belum ditetapkan usai runtuhnya Uni Soviet.

Pada masa itu, korupsi meningkat karena para politisi merebut aset negara untuk diri mereka sendiri atau mengambil keuntungan yang tidak adil dari pinjaman berbunga rendah yang tersedia untuk industri dan pertanian .

Baru pada 1996, Ukraina berhasil mencapai stabilisasi makroekonomi. Mereka memperkenalkan mata uang yang telah lama ditunggu-tunggu, yaitu hryvnya.

Kemudian pada 1999, pengenalan langkah-langkah reformasi pajak menyebabkan pertumbuhan jumlah usaha kecil swasta yang didirikan atau muncul dari ekonomi bayangan yang signifikan di negara tersebut. Pada pergantian abad ke-21, ekonomi yang sah mulai tumbuh di Ukraina.

9. Yunani

Pada 1999, Yunani tidak dapat mengadopsi euro karena gagal memenuhi kriteria fiskal-inflasi di bawah 1,5 persen, defisit anggaran di bawah 3 persen, dan rasio utang terhadap PDB di bawah 60 persen.

Pada 2001, negara tersebut memalsukan kondisi keuangannya untuk bergabung dengan zona euro, dengan defisit anggaran jauh di atas 3 persen dan tingkat utang di atas 100 persen dari PDB. Krisis mereka bertahan selama bertahun-tahun sampai Yunani tidak mampu membayar utangnya yang terus meningkat.

Pada 2010, IMF dan Uni Eropa sepakat untuk memberikan pinjaman kepada Yunani sebesar 110 miliar euro (146 miliar dolar AS) selama tiga tahun. Yunani melakukan pinjaman tercatat sampai 2018-an.

Untuk membiayai utang ini, Athena berkomitmen untuk menjalankan surplus anggaran hingga tahun 2060, menerima pengawasan keuangan Uni Eropa yang berkelanjutan, dan memberlakukan langkah-langkah penghematan tambahan.

10. Zimbabwe

Mengutip University of Michigan, mulai akhir tahun 1990-an, Zimbabwe mengalami krisis ekonomi yang buruk. Puncaknya, pada November 2008, negara tersebut mengalami salah satu krisis hiperinflasi dengan tingkat bulanan sebesar 79,6 miliar persen.

Inflasi juga telah menyebabkan Bank Sentral Zimbabwe mengeluarkan uang kertas senilai 100 triliun dolar AS pada Januari 2009. Pecahan tersebut menjadi mata uang terbesar di dunia dalam sejarah.

Setelah bertahun-tahun mengalami keruntuhan ekonomi dan adaptasi informal, Zimbabwe meninggalkan mata uang nasionalnya dan mengadopsi dolar AS. Meskipun harga stabil, uang kembali menjalankan fungsi dasarnya.

Namun, dolarisasi juga menimbulkan kendala, dengan kekhawatiran bahwa Zimbabwe kehilangan kendali atas uangnya sendiri dan menjadi bergantung pada uang yang masuk dari negara lain.

Baru pada 2024, Zimbabwe memperkenalkan mata uang baru bernama ZiG (Zimbabwe Gold), yang dikelola oleh Bank Sentral Zimbabwe. ZiG didukung oleh emas dan cadangan devisa, menunjukkan upaya untuk membatasi penciptaan uang dan menjaga stabilitas mata uang.




(faz/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads