Gunung Api Ini Sudah Berusia 500 Ribu Tahun dan Tak Berhenti Meletus, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Gunung Api Ini Sudah Berusia 500 Ribu Tahun dan Tak Berhenti Meletus, Kok Bisa?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 07 Jun 2026 08:01 WIB
Volcanic steam rises from Mount Etna, as seen from Milo, Italy, June 2, 2025. REUTERS/Marco Restivo     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/MARCO RESTIVO/Gunung Etna di Italia.
Jakarta -

Gunung Etna di Italia merupakan gunung berapi yang sudah berusia 500.000 tahun. Gunung setinggi 3.400 meter tersebut dikenal sebagai gunung berapi paling aktif di Eropa.

Sampai akhir 2025 lalu, Gunung Etna tercatat masih mengalami erupsi. Keaktifan gunung ini pun menjadi fenomena geologis misterius lantaran 'usianya' yang sudah ratusan ribu tahun.

Kenapa Gunung Etna Bisa Terus Aktif?

Para peneliti menjelaskan temuannya dalam studi yang terbit di jurnal Geophysical Research pada 7 April 2026. Peneliti menemukan bahwa Gunung Etna terbentuk dan berfungsi dengan cara yang sangat berbeda dari mayoritas gunung berapi lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut studi, Gunung Etna disuplai oleh mekanisme magma langka yang biasanya hanya ditemukan pada gunung api bawah laut berukuran kecil. Mekanisme tidak biasa inilah yang melepaskan magma yang terperangkap di zona kecepatan rendah (low-velocity zone) Bumi dan menyemburkannya hingga ke permukaan.

Meskipun secara geografis terletak di atas zona subduksi, komposisi kimia lava Etna justru menyerupai gunung berapi yang terbentuk di atas titik panas (hotspot), seperti yang ditemukan di Hawaii.

ADVERTISEMENT

Melalui analisis sampel lava selama 500.000 tahun terakhir, para peneliti menemukan bahwa komposisi kimia Gunung Etna sangat konsisten. Hal ini mematahkan teori umum bahwa gunung berapi biasanya memuntahkan magma yang baru terbentuk akibat aktivitas tektonik terkini.

Sebaliknya, Gunung Etna disebut menerima pasokan lambat dari magma yang sudah ada sebelumnya. Magma ini terperangkap di antara mantel atas dan dasar lempeng tektonik, sekitar 80 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gunung Etna dengan Mekanisme 'Petit-Spot'

Berdasarkan temuan tersebut, Etna mungkin masuk dalam kategori gunung berapi "petit-spot". Ini adalah sebuah kategori yang baru diidentifikasi pada 2006 dan ditandai oleh magma yang ditarik dari kantong-kantong di mantel atas.

Namun, ini tetap menjadi sebuah keanehan yang luar biasa. Gunung berapi petit-spot umumnya berukuran sangat kecil, bukan raksasa menjulang seperti Gunung Etna.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa Etna mungkin telah terbentuk melalui mekanisme yang mirip dengan yang menghasilkan gunung berapi bawah laut petit-spot," kata penulis utama penelitian, Sébastien Pilet, seorang ahli geosains di University of Lausanne, dikutip dari Science Alert.

Menurut Pilet, temuan ini sangat tidak terduga. Sebelumnya, proses semacam ini hanya diamati pada struktur vulkanik yang sangat kecil, biasanya dengan ketinggian tidak lebih dari beberapa ratus meter, sangat jauh berbeda dengan kemegahan Gunung Etna.

"Hal ini tidak terduga, karena proses semacam itu sebelumnya hanya diamati pada struktur vulkanik yang sangat kecil, biasanya tidak lebih tinggi dari beberapa ratus meter," tambahnya.

Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi ilmu vulkanologi secara umum. Secara khusus, hal ini penting untuk upaya penilaian bahaya spesifik yang ditimbulkan oleh letusan Etna, mengingat gunung ini menjulang dengan jarak yang berbahaya di dekat kota Catania dan Messina yang dihuni ratusan ribu orang.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(crt/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads