Kepala BRIN: RI Punya 9.600 Tanaman Obat, Tapi Baru 20 Jenis yang Dimanfaatkan

ADVERTISEMENT

Kepala BRIN: RI Punya 9.600 Tanaman Obat, Tapi Baru 20 Jenis yang Dimanfaatkan

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 25 Mei 2026 12:30 WIB
Acara BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species Chapter Flora di Auditorium BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Kepala BRIN Arif Satria dalam acara BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species Chapter Flora di Auditorium BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (25/5/2026).Foto: Nikita Rosa/detikcom
Jakarta -

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria. mengungkapkan hanya 20 dari 9.600 tanaman obat yang baru dimanfaatkan di Indonesia. Temuan tersebut ia sampaikan dalam acara BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species Chapter Flora di Auditorium BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sebagai informasi, Indonesia memiliki kurang lebih 30.000 spesies flora. Sebanyak 12.000 ada di Pulau Jawa, sementara 18.000 lainnya ada di Papua dan Kalimantan.

Dari ribuan spesies itu, 9.600 spesies berpotensi menjadi tanaman obat. Namun, baru 20 jenis yang sampai di meja medis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi pasti banyak PR dari kita untuk mengandalkan bidang kesehatan agar bisa terus memanfaatkan sumber daya lokal yang kita miliki," ujar Arif.

Arif melihat masyarakat Indonesia sebenarnya telah memanfaatkan tanaman obat sejak lama. Di Sumatera Utara, ada tradisi mengonsumsi daun bangun-bangun saat seorang ibu baru saja melahirkan. Dipercaya jika daun ini bisa melancarkan ASI dan tradisi tersebut telah terbukti secara klinis.

ADVERTISEMENT

"Saya kira banyak sekali, banyak sekali di berbagai belahan Nusantara praktek-praktek seperti itu yang membutuhkan sains hadir untuk membuktikan, untuk bisa memperkuat apa-apa yang selama ini sudah dilakukan oleh masyarakat," ujar Arif.

BRIN Temukan 29 Spesies Baru dalam 1 Tahun

Sejak 1967 hingga 2025, BRIN telah menemukan sebanyak 1.583 spesies baru, dengan 712 di antaranya merupakan flora. Dalam kurun 2025 hingga awal 2026 saja, ada 29 jenis baru flora Indonesia yang berhasil didokumentasikan oleh para peneliti.

Berbagai spesies baru tersebut berasal dari beragam kelompok tumbuhan, mulai dari Rafflesia, Begonia, Homalomena, Rhododendron, Nepenthes, hingga anggrek (Orchidaceae) yang ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

Arif menegaskan proses penemuan spesies baru ini membutuhkan kerja ilmiah yang panjang dan kompleks. Prosesnya mulai dari ekspedisi ke kawasan hutan dan wilayah terpencil, pengumpulan spesimen, analisis morfologi dan molekuler, hingga publikasi di jurnal internasional.

"Penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama," jelasnya.

Arif mengaku tantangan konservasi biodiversitas saat ini semakin kompleks akibat perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, hingga, spesies invasif. Kondisi tersebut menyebabkan banyak spesies terancam punah bahkan sebelum sempat dikenali secara ilmiah.

"Karena itu, riset biodiversitas harus menjadi bagian dari agenda strategis nasional. Kita tidak hanya berbicara tentang konservasi tumbuhan, tetapi juga tentang menjaga sumber pengetahuan, ketahanan ekosistem, dan masa depan generasi mendatang," tegasnya.




(nir/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads