Sebuah studi mengungkapkan fenomena manusia modern yang menjadi lebih jarang berbicara. Jika dulu setiap orang bertemu untuk mengobrol, kini banyak yang terganggu dengan adanya gadget.
Studi yang terbit di jurnal Sage pada 20 Maret 2026, menemukan bahwa rata-rata orang kini mengucapkan ratusan kata lebih sedikit setiap tahunnya akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar HP. Rata-rata jumlah kata yang diucapkan seseorang per hari terus menyusut secara konstan sebanyak 338 kata setiap tahunnya.
Percakapan Dunia Nyata Semakin Berkurang
Riset meneliti seberapa banyak kata yang diucapkan seseorang dengan menarik data dari 22 studi yang melibatkan lebih dari 2.200 partisipan. Dengan mengekstrak informasi dari berbagai studi terdahulu, para psikolog dari University of Arizona dan University of Missouri-Kansas City menemukan bahwa tren percakapan harian terus mengalami penurunan setiap tahunnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan menunjukkan bahwa orang-orang pada dasarnya mengucapkan sekitar 16.000 kata per hari pada tahun 2005. Di sisi lain, kebiasaan tersebut terus menyusut dengan rata-rata 338 kata setiap tahunnya, hingga seseorang tercatat hanya mengucapkan 12.700 kata setiap harinya pada 2019.
"Dari tahun 2005 hingga 2019, perkiraan jumlah kata yang diucapkan per hari turun sekitar 28 persen. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya percakapan di dunia nyata, baik obrolan besar maupun kecil, yang kini tidak lagi terjadi," tulis laporan tersebut.
Anak Muda Semakin Sedikit Berbicara
Kelompok usia di bawah 25 tahun mengalami penurunan paling tajam, yakni sekitar 452 kata per tahun. Sementara itu, kelompok usia 25 tahun ke atas turun sekitar 314 kata per tahun.
Para peneliti menyebut kebangkitan media sosial menjadi salah satu faktor besar di balik tren ini, meski bukan satu-satunya penyebab. Secara umum, interaksi sosial tatap muka mulai tergantikan oleh teknologi, seperti memesan makanan melalui aplikasi alih-alih menelepon restoran, atau menggunakan peta digital ketimbang bertanya arah kepada orang di jalan.
"Interaksi kasual dan insidental yang tampaknya mulai hilang ini mungkin masih terasa alami di belahan dunia lain, namun data kami berfokus pada negara-negara Barat yang memiliki tingkat adopsi teknologi yang sangat tinggi," ujar Matthias Mehl, profesor psikologi dari University of Arizona, dikutip dari IFL Science.
Pentingnya Percakapan
Para peneliti mempertanyakan apakah interaksi di media sosial dapat sepenuhnya menggantikan kehangatan suara manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia dinilai tetap membutuhkan percakapan langsung untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan.
Para psikolog berpendapat bahwa percakapan langsung melibatkan proses kognitif dan sosial yang berbeda dibandingkan dengan percakapan melalui teks. Interaksi tatap muka disebut memberikan manfaat bagi kesejahteraan mental yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh media sosial.
Penelitian ini menekankan pentingnya memahami perubahan sosial tersebut, mengingat berbicara lebih banyak setiap hari dapat menjadi cara sederhana untuk melawan isolasi dan kesepian.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.










































