Saat ini ada banyak sekolah di berbagai penjuru dunia memberlakukan aturan untuk tidak menggunakan ponsel atau menyimpannya di tempat tertentu selama jam sekolah. Contohnya, ada banyak sekolah di Amerika Serikat (AS), yang mengharuskan siswa menyimpan ponsel mereka di dalam kantong terkunci.
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional AS mengemukakan, pelarangan penggunaan handphone memiliki potensi positif, walaupun tidak instan.
Laporan berskala besar ini membandingkan sekolah-sekolah yang menerapkan dan tidak menerapkan kebijakan ponsel yang ketat selama periode tiga tahun. Penelitian dilakukan di lebih dari 43.000 sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Pengaruhnya terhadap Siswa?
Para peneliti menemukan kebijakan tersebut memang mengurangi penggunaan ponsel selama jam sekolah, tetapi tidak berdampak besar pada banyak aspek, seperti tidak pada nilai ujian siswa, tidak pada kehadiran atau perhatian di kelas, bahkan tidak pada potensi perundungan siber.
Semula, pelarangan ini menyebabkan berbagai insiden disiplin meningkat dan kesejahteraan fisik dan mental (well-being) siswa menurun. Meski begitu, hal positif mulai muncul seiring berjalannya waktu.
Masalah disiplin mereda setelah tahun pertama dan pada tahun ketiga, kesejahteraan siswa lebih tinggi daripada sebelum ponsel disimpan.
"Terdapat antusiasme yang jelas terhadap larangan penggunaan telepon di sekolah, tetapi penting untuk menyadari bahwa membangun lingkungan belajar yang efektif dan bebas telepon tampaknya bukanlah solusi yang sederhana atau cepat," kata Profesor Keluarga Barnett di Sekolah Pascasarjana Pendidikan Stanford (GSE), Thomas Dee yang juga salah satu penulis laporan tersebut.
"Pengalaman awal sekolah dengan larangan penggunaan telepon sangat mengkhawatirkan, tetapi ada juga indikator bahwa seiring sekolah menyesuaikan diri dengan kebijakan bebas ponsel, manfaat dari larangan ini dapat terwujud," jelasnya, dikutip dari laman resmi Universitas Stanford.
Dua Pertiga Negara Bagian AS Larang Penggunaan Ponsel di Sekolah
Popularitas larangan penggunaan telepon di sekolah telah meningkat pesat di AS. Ada sekitar dua pertiga negara bagian AS mengesahkan aturannya, tetapi penelitian tentang pembatasan ini di AS masih terbatas pada studi-studi kecil yang dilakukan di tingkat lokal.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti interdisipliner dari Stanford, Universitas Duke, Universitas Michigan, dan Universitas Pennsylvania mengumpulkan berbagai data tentang sekolah-sekolah di seluruh negeri. Data tersebut termasuk nilai ujian, catatan kehadiran sekolah, laporan disiplin, serta survei dari orang tua, siswa, dan guru.
Para peneliti secara khusus meneliti sekolah-sekolah yang secara ketat menerapkan kebijakan "kantong (pouch) ponsel", yakni yang mengharuskan siswa untuk menyegel ponsel mereka di dalam kantong yang terkunci secara magnetis sepanjang hari. Mereka juga memverifikasi, aktivitas ponsel benar-benar menurun di sekolah-sekolah tersebut dengan mengumpulkan data ping GPS dan melakukan survei kepada para guru.
Peningkatan Nilai Matematika pada Siswa SMA
Para peneliti tidak hanya membandingkan sekolah-sekolah yang menerapkan kebijakan kantong dengan kelompok pembanding yang tidak menerapkannya, tetapi juga melihat perubahan di sekolah-sekolah tersebut dari waktu ke waktu-dari sebelum kebijakan diberlakukan hingga setelahnya.
Dalam tiga tahun setelah dimulainya kebijakan kantong ponsel, studi tersebut menemukan hampir tidak ada perbedaan dalam nilai ujian rata-rata. Meski begitu, dengan menggali lebih dalam data, para peneliti menemukan sedikit peningkatan nilai matematika di sekolah menengah atas.
Sebaliknya, sekolah menengah pertama mengalami sedikit penurunan nilai ujian secara keseluruhan setelah larangan penggunaan telepon. Hasil ini mungkin mencerminkan perbedaan usia, kata para penulis.
Pasalnya, siswa yang lebih muda dan lebih impulsif mengganti kebiasaan bermain ponsel dengan kegiatan pengalihan lainnya. Terlepas dari itu, tidak ada perubahan nilai ujian yang signifikan.
"Sekarang setelah kita dapat benar-benar melihat bukti nasional dengan sangat detail, kita dapat mengatakan bahwa ada bukti kuat tentang manfaat nyata dari kebijakan ini dan bahwa memasukkan ponsel ke dalam kantong saja tidak menyebabkan perubahan dramatis dalam nilai ujian," kata salah satu penulis laporan profesor ekonomi di Sekolah Humaniora dan Sains (H&S) Stanford, Matthew Gentzkow.
Lebih banyak yang perlu dilakukan untuk memahami apa yang terjadi di sekolah-sekolah dengan kebijakan ponsel, tambah Gentzkow. Misalnya, mungkin ada efek pembelajaran yang tidak terdeteksi hanya oleh nilai ujian.
Selain itu, perubahan positif dalam kesejahteraan dapat disebabkan oleh perubahan keseluruhan dalam dinamika sosial siswa. Sebab, dengan kebijakan ini, siswa mungkin lebih banyak berinteraksi secara langsung, seperti bermain game selama istirahat makan siang dan jam istirahat, serta berbicara di antara kelas.
"Studi ini benar-benar merupakan langkah pertama: studi ini menjawab sejumlah pertanyaan penting tetapi juga menimbulkan pertanyaan baru," kata Gentzkow.
(nah/nwk)











































