Sejarah eksplorasi luar angkasa manusia yang paling terkenal yaitu astronaut Apollo yang mendarat di Bulan. Pencapaian mereka menjadi ikonik dengan jejak kaki astronaut bernama Buzz Aldrin yang 'abadi' di Bulan.
Mengutip BBC, jejak kaki Aldrin hanyalah salah satu dari ratusan jejak kaki yang ditinggalkan oleh 12 astronaut yang menginjakkan kaki di Bulan antara tahun 1969 dan 1972. Jejak-jeka kaki tersebut masih bertahan karena Bulan tidak memiliki angin atau hujan untuk menyapu debu.
Kini melalui misi Artemis, NASA bersiap mengirimkan "angkatan baru" astronaut ke kutub selatan Bulan, yang bisa meninggalkan jejak kaki baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepatu yang Bisa Bertahan pada Suhu Ekstrem
Untuk mencapai ambisinya, NASA menciptakan sepatu bagian dari baju luar angkasa generasi terbaru AxEMU yang dikembangkan oleh Axiom Space. Namun, mereka menghadapi tantangan kondisi ekstrem Bulan.
Sebab, Kutub Selatan Bulan adalah wilayah penuh tantangan dengan suhu yang bisa anjlok hingga -225 derajat Celsius di area yang tidak pernah tersentuh matahari selama ribuan tahun. Sebaliknya, saat terkena matahari, suhunya bisa melonjak hingga 65 derajat Celsius.
Selain suhu, musuh utama lainnya adalah debu bulan (regolit) yang sangat halus namun tajam dan memiliki muatan listrik sehingga mudah menempel dan merusak peralatan. Insinyur NASA dan Axiom merancang sepatu ini dengan desain yang hampir tanpa jahitan untuk mencegah debu masuk ke sela-sela sepatu.
"Sepatu ini dirancang khusus untuk menahan suhu ekstrem di Kutub Selatan Bulan, menggunakan bahan-bahan canggih yang tidak ada pada masa Apollo," ujar Russell Ralston, manajer umum di Axiom Space, dikutip dari BBC.
"Kami menggunakan beberapa material unik untuk menahan suhu dingin di kutub selatan Bulan. Ini termasuk formulasi baru dari fluoropolimer, material isolasi, dan lapisan yang dirancang untuk melindungi kaki astronot secara termal," imbuhnya.
Desain Tapak yang Ikonik dan Nyaman untuk Semua Ukuran
Berbeda dengan misi Apollo yang pesertanya semua pria dengan postur tubuh serupa, misi Artemis akan mencatatkan sejarah dengan mengirimkan wanita pertama ke Bulan.
Hal ini mengharuskan insinyur merancang sepatu yang bisa menyesuaikan dengan berbagai ukuran kaki tanpa harus membuat ribuan ukuran khusus. Sol sepatu ini juga dirancang untuk memiliki daya cengkeram (traction) yang kuat, baik untuk mendaki kawah yang curam maupun memanjat tangga kendaraan luar angkasa.
Menariknya, NASA juga sangat memperhatikan estetika jejak kaki yang akan ditinggalkan. Sol sepatu masa depan ini kemungkinan akan memiliki desain unik, bahkan mungkin menyertakan logo yang menyimbolkan kembalinya manusia ke Bulan.
"Daya cengkeram sangat penting, tapi estetika tentu menjadi bagian darinya karena foto-foto jejak kaki itu sangat ikonik," kata Zach Fester, insinyur baju luar angkasa di NASA Johnson Space Center.
"Melemaskan sepatu bulan (agar nyaman dipakai) sama pentingnya dengan memecah sepatu baru di Bumi," imbuhnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
