Waspada Karhutla saat Kemarau 2026, Pakar UGM Soroti Praktik Bakar Lahan

ADVERTISEMENT

Waspada Karhutla saat Kemarau 2026, Pakar UGM Soroti Praktik Bakar Lahan

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 07 Mei 2026 18:30 WIB
Karhutla di Tarakan. (dok BPBD Tarakan)
Ilustrasi karhutla. Foto: Karhutla di Tarakan. (dok BPBD Tarakan)
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu menjadi perhatian serius setiap kemarau tiba. Meski diklaim menurun dari tahun ke tahun, kebakaran lahan masih mencapai ratusan ribu hektare.

Menurut data yang dilaporkan Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan, luas karhutla pada 2025 mencapai 359 ribu hektare. Kemudian pada Januari-Februari 2026, luas karhutla sudah mencapai 32,6 ribu hektare.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni, mengatakan, karhutla 2026 diprediksi lebih mengancam, mengingat tipe kemarau tahun ini yang lebih kering dan panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada tahun ini akan terjadi kekeringan yang lebih awal dan lebih panjang, oleh karena itu kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibandingkan tahun lalu, tahun 2026 ini akan lebih mengancam kita secara bersama," ujarnya pada Konferensi Pers pasca Rapat Koordinasi Terbatas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2026, di Jakarta, Senin, (06/04/2026), dikutip Kamis (7/5/2026).

ADVERTISEMENT

Buka Lahan dengan Api Jadi Sorotan

Faktanya, pembukaan lahan dengan dibakar masih menjadi salah satu penyebab karhutla. Terlebih di tengah ancaman El NiΓ±o sepanjang 2026.

Menurut pakar dan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, El NiΓ±o punya korelasi kuat dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan. Saat El NiΓ±o terjadi, kondisi hutan bisa menjadi lebih kering, tapi ini tidak cukup memicu karhutla.

Dalam hal ini, praktik penggunaan api untuk membuka lahan menjadi semakin berisiko menyebabkan karhutla. "Jadi, kaitannya bukan kemudian dengan pengelolaan lahan, tetapi dengan adanya penggunaan api yang sembarangan dalam mengelola lahan," tutur Fiqri, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (7/5/2026).

Cepat Tapi Membahayakan

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar juga disebut dengan praktik slash and burn. Langkah ini masih umum digunakan karena dianggap sebagai metode yang cepat, meski sangat berisiko jika tanpa pengendalian.

"Yang kemudian tidak diperhatikan umumnya oleh masyarakat itu tidak membuat sekat bakar atau tidak mengisolasi bahan bakar di area tersebut, jadi apinya malah menyebar ke mana-mana," jelas Fiqri.

Kurangnya tata kelola kehutanan secara menyeluruh menjadi salah satu penyebab praktik ini masih langgeng terjadi. Terutama di kawasan yang bersinggungan langsung dengan permukiman masyarakat.

Fiqri menyinggung perlunya sinergi dalam proses pengelolaan hutan. Sinergi ini menyasar pengelola hutan, perusahaan, dan masyarakat di sekitar hutan.

Karhutla 2015 Jadi Mimpi Buruk

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El NiΓ±o akan membuat musim kemarau di Indonesia lebih kering dan lebih panjang. Per akhir Maret 2026, sudah ada 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang memasuki musim kemarau.

Ketika tidak ada perubahan signifikan dalam tata kelola hutan saat El NiΓ±o menguat, potensi terjadinya karhutla seperti yang terjadi pada 2015 bisa terulang. Pada waktu itu, karhutla berdampak luas terhadap kerusakan hutan.

Wilayah hutan yang memiliki tanah gambut merupakan lokasi yang paling rentan terbakar. Karhutla yang parah dapat menimbulkan kabut asap dalam jangka waktu yang panjang.

"Yang terburuk adalah kondisi kebakaran kembali seperti tahun 2015, karena deforestasinya cukup tinggi. Akibatnya nanti akan terjadi kabut asap lagi dalam jangka waktu yang lama dan itu berdampak pada aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, aktivitas penerbangan, serta kesehatan masyarakat," kata Fiqri, mengingatkan.

Peringatan Dini Sudah Benar

Fiqri menilai langkah pemerintah untuk menghadapi dampak El NiΓ±o sudah tepat. Terutama lantaran BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini.

Peringatan dini ini jadi langkah awal untuk menekan risiko sebelum karhutla terjadi. Tapi, peringatan dini ini harus diikuti dengan langkah konkret di lapangan, bukan kicauan belaka.

"Terutama dengan membatasi penggunaan api dalam pengelolaan lahan dan mendorong alternatif pembukaan lahan tanpa bakar," paparnya.

Ia juga menyarankan agar upaya pencegahan diperkuat. Upaya yang dimaksud seperti patroli rutin, pemantauan kondisi lahan dan ekosistem gambut, dan peningkatan edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Seluruh langkah ini bertujuan agar masyarakat siap dan siaga dalam menghadapi risiko karhutla saat El NiΓ±o semakin menguat.

"Di tengah peningkatan potensi El NiΓ±o, penguatan tata kelola kehutanan berbasis kolaborasi dan pencegahan menjadi kunci utama untuk menekan risiko karhutla di Indonesia," tandasnya.




(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads