Kita sering tertawa ikut saat melihat orang lain tertawa. Pernahkah terpikir mengapa hal itu bisa terjadi?
Untuk diketahui, tertawa bukan sekadar ekspresi kegembiraan, melainkan respons biologis dan sosial yang melibatkan berbagai bagian kompleks di otak manusia. Respons tawa sangat beragam dan sering kali muncul secara spontan.
Ada tawa yang muncul karena humor yang lucu, ada pula tawa yang sulit tertahan saat kita merasa gugup, stres, atau berada di bawah tekanan situasi yang sangat formal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh cara otak bekerja untuk melepaskan ketegangan atau rasa gugup yang menumpuk. Uniknya, semakin keras kita berusaha menahannya agar tetap terlihat serius, otak kita justru merasa semakin tertekan, sehingga tawa itu malah terasa semakin sulit untuk dihentikan.
Kenapa Tertawa Sulit Dikendalikan?
Mengutip Popular Science, tertawa umumnya terjadi secara spontan karena melibatkan respons kompleks otak yang mengatur emosi dan interaksi sosial. Meski terlihat sederhana, penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis tawa, yaitu tawa sosial yang dilakukan sengaja dan tawa spontan yang muncul tanpa sadar.
Hal ini berkaitan dengan cara kerja sistem saraf kita. Tertawa yang disengaja muncul dari bagian otak yang mengontrol gerakan, sedangkan tawa spontan dipicu oleh bagian otak yang mengatur emosi, seperti amigdala, yang tidak berada di bawah kendali kesadaran dan memicu tawa tanpa disengaja.
Karena tertawa merupakan respons emosional normal, hal ini berbeda dengan kondisi medis langka bernama pseudobulbar affect. Kondisi ini membuat penderitanya tertawa atau menangis tiba-tiba tanpa alasan jelas, seperti yang diperlihatkan oleh karakter Arthur Fleck dalam film Joker (2019). Jadi secara sederhana, tertawa sulit dikendalikan karena melibatkan reaksi emosional otomatis yang muncul.
Lantas, mengapa tertawa bisa menular saat kita melihat orang lain tertawa?
Mengapa Kita Ikut Tertawa Saat Orang Lain Ketawa?
Kebiasaan tertawa bersama orang lain membuat kita sulit tetap serius. Penelitian menunjukkan bahwa manusia bahkan bisa 30 kali lebih mungkin tertawa saat berada dalam kelompok dibandingkan dengan sendirian. Suara tawa orang lain pun menjadi sinyal bagi otak untuk ikut merespons kegembiraan tersebut.
Tertawa saat melihat orang lain menjadi sulit dikendalikan karena otak melepaskan zat kimia alami yang menenangkan, yaitu endorfin atau endogenous opioids. Akibatnya, tertawa tidak hanya mengurangi rasa sakit dan menciptakan perasaan sejahtera, tetapi juga membantu melindungi kesehatan jantung.
Fenomena tertawa terbentuk ketika otak merespons stimulus sosial atau emosional. Otak pun enggan menghentikannya karena sensasi tertawa terasa menyenangkan.
Jika seseorang mencoba memaksa diri untuk berhenti tertawa, hal ini justru bisa berbalik akibatnya. Fenomena yang disebut rebound effect menunjukkan bahwa semakin keras kita menekan tawa, semakin besar kemungkinan kita akhirnya akan tertawa setelahnya.
Jika Tertawa Ikut Menular, Adakah Cara Tidak Ikut Tertawa?
Menurut profesor kognisi, emosi, dan perilaku di Institut Psikologi Universitas GΓΆttingen, Dr. Anne Schacht, ada beberapa strategi yang bisa membantu menahan tertawa, seperti mengalihkan perhatian, mengontrol otot wajah, atau mencoba mengingat bahwa situasi sebenarnya tidak lucu. Meski begitu, strategi ini memiliki terbatas, terutama jika orang lain itu terus memicu tertawa
"Tawa biasa, bahkan ketika terasa sulit untuk ditahan, tetap merupakan respons emosional dan sosial yang normal: biasanya terkait dengan hiburan, konteks, dan interaksi," ucap Dr. Schacht.
Ia mengatakan, tidak ada satu saklar tunggal di otak yang bisa mematikan tertawa secara instan. Ini adalah mekanisme alami otak manusia yang membantu kita terhubung dengan orang lain.
Jadi, saat kita tertawa di momen yang seharusnya serius, ingatlah bahwa otak memang dirancang seperti itu.
"Emosi Anda, sistem penghargaan otak Anda, otot Anda, dan orang-orang di sekitar Anda semuanya berkontribusi pada tawa yang tak terkendali. Ini adalah kombinasi dari berbagai faktor yang bekerja bersama," tuturnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































