Sebuah studi dari Kanada menemukan bahwa mengamati burung bisa membantu memperlambat penuaan. Hal ini bisa terjadi karena melakukan pengamatan bisa meningkatkan kemampuan otak.
Dalam studi yang terbit di Journal of Neuroscience pada 25 Maret 2026, para peneliti dari Rumah Sakit Baycrest di Toronto, Kanada menemukan, beberapa keterampilan kognitif berkembang pada seorang pengamat burung. Mereka memiliki penglihatan yang tajam, dapat memperhatikan dan fokus dalam waktu lama, serta memiliki daya ingat yang kuat.
Tiga keterampilan tersebut dapat berfungsi maksimal bagi otak apabila konsisten diasah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Mengamati Sesuatu Bisa Mencegah Penuaan?
Untuk mengujinya, para peneliti membandingkan struktur otak dari 29 pengamat burung ahli dengan 29 pemula. Kedua kelompok tersebut seimbang secara gender dan disesuaikan usianya.
Hasil pemindaian MRI menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada bagian otak terkait perhatian (frontoparietal) dan persepsi (kortikal posterior), pada profesional. Hal ini yang membuat mereka semakin mahir dalam mengidentifikasi banyak jenis burung.
Dengan kata lain, peningkatan fungsi otak dirasakan oleh para ahli burung, yang terbiasa punya pengalaman mengamati burung. Kemampuan ini membuat mereka mampu membedakan dan mengidentifikasi burung-burung lokal dengan yang bukan.
Dalam hal ini, seorang pengamat burung yang lebih tua ternyata lebih mahir dalam mengenali struktur wajah burung dengan baik. Atas dasar ini, para peneliti sepakat bahwa keterampilan ini mampu meningkatkan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Kebiasaan Mengamati Berdampak Jangka Panjang
Penelitian ini menarik perhatian direktur Center for Healthy Aging at Penn State, AS Profesor Martin Sliwinski. Ia menilai bahwa hasil dari studi ini bukan hanya unik, tetapi juga memiliki efek jangka panjang yang melekat pada individu.
"Yang menarik dari penelitian ini adalah pengamatan burung menuntut kemampuan persepsi, perhatian, dan daya ingat yang berkelanjutan, sehingga Anda tidak akan pernah bisa sepenuhnya bekerja secara otomatis," ujarnya, dikutip dari BBC Science Focus, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, aktivitas yang bertujuan untuk merangsang fungsi kognitif harus memiliki sesuatu yang menantang. Dan menjadi seorang pengamat burung, tampaknya akan sering bersinggungan dengan hal-hal yang menantang. Karena proses pengamatan burung yang senantiasa dilakukan secara manual dan perlahan.
"Bahkan pengamat burung ahli pun tidak bisa mengandalkan respons otomatis karena lingkungan dan isyarat terus berubah, sering kali dalam kondisi ketidakpastian dan tekanan waktu," jelasnya.
Namun, Sliwinski berpendapat bahwa mungkin saja bukan keterampilannya yang meningkatkan fungsi kognitif. Akan tetapi, orang dengan kemampuan otak tertentu yang mampu melakukan hal tersebut.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































