BRIN Temukan 10 Spesies Anggrek Baru di RI, Ada yang Semula di Australia

ADVERTISEMENT

BRIN Temukan 10 Spesies Anggrek Baru di RI, Ada yang Semula di Australia

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 10 Mei 2026 14:00 WIB
Corybas holttummii, salah satu dari 10 spesies anggrek baru yang diidentifikasi BRIN bersama mitra.
Corybas holttummii, salah satu dari 10 spesies anggrek baru yang diidentifikasi BRIN bersama mitra. Foto: BRIN/Yuda R Yudistira
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) laporkan temuan 10 spesies anggrek baru di Indonesia. Temuan ini semakin mengukuhkan RI sebagai salah satu negara dengan megabiodiversitas anggrek di dunia.

Temuan ini dirilis dalam jurnal Lankesteriana volume 26 (1) tahun 2026 melalui artikel berjudul "Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago". Tak sendiri, ekspedisi pencarian spesies anggrek ini dilakukan bersama para mitra.

Mitra yang dimaksud, yakni Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Peneliti PRBE BRIN, Aninda Retno Utami Wibowo menjelaskan temuan ini merupakan sinyal potensi biodivesitas anggrek di Indonesia masih besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potensi ini juga menjelaskan bila banyak spesies anggrek yang belum terdokumentasi. Menurut Aninda khususnya di Kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia.

"Temuan sepuluh rekaman baru ini menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia, masih menyimpan banyak potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi. Eksplorasi lapangan dan kajian koleksi herbarium perlu terus diperkuat untuk memperkaya data biodiversitas nasional," tuturnya dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (10/5/2026).

ADVERTISEMENT

Daftar 10 Spesies Anggrek Baru

Diketahui saat ini, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek. Namun, jumlah spesies anggrek yang terdokumentasi belum optimal.

Adapun daftar 10 spesies anggrek yang baru teridentifikasi oleh BRIN, yakni:

Asal Sumatera

  • Bulbophyllum nematocaulon
  • Bulbophyllum sanguineomaculatum
  • Cleisomeria lanatum
  • Corybas calopeplos
  • Corybas holttumii

Asal Jawa

  • Acanthophippium bicolor
  • Anoectochilus papuanus

Asal Kepulauan Nusa Tenggara

  • Dendrobium teretifolium

Asal Kalimantan

  • Bulbophyllum thiurum

Asal Sulawesi

  • Aerides augustiana

Ada Spesies yang Awalnya Diketahui dari Australia

BRIN menjelaskan penelitian terhadap 10 spesies anggrek baru ini dilakukan melalui eksplorasi lapangan. Para peneliti yang terjun ke lapangan ini diantaranya Yuda Rehata Yudistira dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, serta Wendy A Mustaqim dari Departemen Biologi Universitas Samudra.

Eksplorasi lapangan dilakukan pada 2020 hingga 2024 di berbagai wilayah RI, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Selama di lapangan, peneliti melakukan berbagai tahapan.

Dari pengambilan spesimen, dokumentasi morfologi, pengawetan herbarium, dan melakukan analisis perbandingan dengan koleksi nasional maupun internasional. Selama penelitian ini, tim menemukan pola persebaran anggrek yang menarik secara biogeografi.

Hal ini terdapat pada spesies Anoectochilus papuanus. Sebelumnya, spesies anggrek itu diketahui tersebar di Papua dan Kepulauan Solomon, namun tim justru menemukannya di Jawa Timur.

Selain itu, keunikan juga terjadi pada spesies Dendrobium teretifolium yang sebelumnya diketahui berasal dari Australia. Namun, tim kini mencatat bila anggrek itu hadir di Nusa Tenggara Timur.

Melalui penelitian ini, ilmuwan BRIN dan mitra juga memberikan informasi mengenai habitat, ekologi, fenologi, dan karakter morfologi masing-masing spesies anggrek. Hasilnya, diketahui bila beberapa spesies tumbuh di hutan pegunungan, rawa dataran rendah, hingga kawasan hutan lumut dengan kondisi lingkungan yang spesifik.

BRIN berharap datanya bisa jadi dasar penting untuk konservasi flora di Indonesia. Terutama, konservasi di kawasan yang masih kurang tereksplorasi.

"Dokumentasi spesies yang akurat diperlukan untuk mendukung perlindungan habitat serta penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah," tandas BRIN.




(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads