Gelombang Panas Laut Bisa Bikin Lamun 'Keracunan' Bakteri

ADVERTISEMENT

Gelombang Panas Laut Bisa Bikin Lamun 'Keracunan' Bakteri

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 10 Mei 2026 11:00 WIB
Kerang kipas Pinna nobilis di padang lamun Mediterania.
Kerang kipas Pinna nobilis di padang lamun Mediterania. Foto: Arnaud Abadie via Wikimedia Commons
Jakarta -

Padang lamun ternyata tidak cuma terdampak oleh suhu laut yang makin panas. Temuan terbaru dari peneliti University of Sydney dan University of New South Wales (UNSW) menunjukkan, gelombang panas laut juga dapat mengubah hubungan lamun dengan bakteri di sekitarnya menjadi "beracun".

Dilansir dari Phys.org, penelitian yang terbit di jurnal New Phytologist itu mendapati, kenaikan suhu laut bisa memicu pertumbuhan bakteri penghasil hidrogen sulfida, gas yang berbahaya bagi lamun. Pertumbuhan bakteri ini membuat lamun lebih sulit tumbuh dan lebih rentan terhadap stres panas di tengah perubahan iklim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lamun Ternyata Punya "Teman" Bakteri di Akar

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di laut dangkal. Tumbuhan ini sangat penting karena jadi tempat bertumbuhnya ikan kecil, membantu menjernihkan air, dan menyimpan karbon di wilayah pesisir.

Dalam eksperimen bawah laut, peneliti menemukan bahwa di sekitar akar lamun, hidup komunitas bakteri yang sangat kompleks. Selama kondisinya normal, bakteri tersebut membantu menjaga kesehatan tanah dan lamun.

ADVERTISEMENT

Namun saat suhu air meningkat, keseimbangannya berubah. Bakteri tertentu justru berkembang lebih cepat dan menghasilkan zat beracun bagi lamun.

"Panas bukan cuma soal air yang lebih hangat. Suhu tinggi juga mengubah ekosistem mikroba yang hidup di sekitar akar lamun," ujar penulis senior penelitian, Associate Professor di University of Sydned, Ziggy Marzinelli, dikutip dari Phys.org.

Peneliti menemukan lamun yang tumbuh di sedimen hangat menghasilkan biomassa 34 persen lebih sedikit dibanding lamun di kondisi normal, ketika komunitas bakterinya tidak diubah.

Laut Hangat Bisa Ubah Bakteri Jadi Berbahaya

Penelitian dilakukan di Danau Macquarie, Australia, yang secara tidak sengaja menjadi "laboratorium alami". Sejak 1984, wilayah itu menerima aliran air hangat dari pembangkit listrik sehingga suhu perairannya bisa tiga derajat Celsius lebih panas dibanding area sekitar.

Kondisi tersebut mirip dengan prediksi suhu laut masa depan akibat perubahan iklim.

Peneliti memindahkan lamun jenis Zostera muelleri ke area tersebut, lalu menganalisis DNA bakteri di sedimen sekitar akar lamun. Hasilnya, mereka menemukan perubahan besar pada komunitas mikroba.

Bakteri penghasil hidrogen sulfida meningkat lebih banyak di perairan yang lebih panas. Gas ini dapat menghambat pertumbuhan lamun dan membuatnya lebih sulit bertahan menghadapi gelombang panas laut.

"Meski lamun sekilas terlihat baik-baik saja, temuan kami di bawah tanah menunjukkan cerita yang berbeda," kata peneliti utama Dr Renske Jongen dari School of Life and Environmental Sciences, University of Sydney.

Penting untuk Langkah Penyelamatan Lamun

Peneliti menilai mikroba selama ini sering dilupakan dalam upaya penyelamatan lamun. Padahal, kondisi bakteri di sekitar akar sangat menentukan apakah lamun bisa bertahan atau justru mati.

Karena itu, restorasi padang lamun tidak cukup hanya memilih tanaman yang tahan panas. Kondisi sedimen dan komunitas bakterinya juga perlu diperhatikan sebelum proses penanaman kembali dilakukan.

"Restorasi lamun jangan hanya berfokus soal memilih spesies yang lebih bisa menoleransi panas, tetapi telusuri lebih dalam ke bawah permukaan tanah--jika perlu, atasi dulu soal komunitas mikroba sebelum memindahkan atau memulihkan padang lamun," ujar Professor Paul Gribben dari UNSW.

Temuan ini penting karena padang lamun di berbagai wilayah dunia mulai menurun akibat perubahan iklim dan makin seringnya gelombang panas laut. Jika lamun rusak, ekosistem pesisir dan habitat banyak hewan laut juga ikut terancam.

Hasil studi ini dipublikasi Renske Jongen dan rekan-rekan dengan judul, "Ocean warming indirectly affects seagrass performance through effects on sediment microbial communities" di jurnal New Phytologist, 5 Mei 2026.

-




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads