Bukan Demi Efisiensi, Perusahaan Pakai AI-Otomasi Hanya untuk Pangkas Gaji?

ADVERTISEMENT

Bukan Demi Efisiensi, Perusahaan Pakai AI-Otomasi Hanya untuk Pangkas Gaji?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 09 Mei 2026 10:00 WIB
Ilustrasi kerja
Ilustrasi kerja. Foto: Getty Images/imtmphoto
Jakarta -

Selama ini, kita sering mendengar bahwa kehadiran robot dan kecerdasan buatan (AI) bertujuan untuk meningkatkan produktivitas mesin. Namun, penelitian terbaru dari ekonom Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan sisi lainnya.

Sejak 1980, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat ternyata lebih sering menggunakan otomasi bukan untuk mengejar efisiensi maksimal, melainkan untuk menggantikan karyawan yang memiliki "premi upah" atau gaji yang lebih tinggi dibanding rekan sejawatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini berdampak besar pada pekerja tanpa gelar sarjana yang sebelumnya berhasil mendapatkan gaji layak berkat kualifikasi mereka. Bukannya menciptakan lompatan teknologi yang revolusioner, otomasi justru sering digunakan sebagai alat kontrol upah.

Ekonom MIT, Daron Acemoglu, yang memimpin studi ini menyebut ada target yang tidak efisien dalam penerapan teknologi.

ADVERTISEMENT

"Semakin tinggi upah pekerja di industri, pekerjaan, atau tugas tertentu, semakin menarik otomasi bagi perusahaan," ujar Acemoglu, dikutip dari laman MIT.

Alih-alih membangun jalur pertumbuhan jangka panjang, perusahaan terjebak pada angka-angka jangka pendek untuk menekan pengeluaran gaji.

Pemicu Ketimpangan dan Mandeknya Produktivitas

Studi ini memperkirakan bahwa otomasi bertanggung jawab atas 52 persen pertumbuhan ketimpangan pendapatan dari tahun 1980 hingga 2016. Yang lebih mengejutkan, sekitar 10 persen dari angka tersebut berasal khusus dari tindakan perusahaan mengganti pekerja berupah tinggi dengan mesin.

Strategi ini justru menghambat potensi keuntungan produktivitas dari teknologi itu sendiri hingga sebesar 60-90 persen.

Hasil studi menunjukkan, pekerja yang paling terdampak berada di rentang gaji persentil 70 hingga 95. Ini mengindikasikan bahwa karyawan dengan penghasilan menengah ke atas justru menanggung beban terberat dari penggunaan otomasi.

Strategi perusahaan yang hanya fokus pada pemangkasan biaya operasional ini disebut-sebut sebagai alasan mengapa statistik produktivitas di AS cenderung "loyo" meskipun jumlah paten teknologi baru terus membludak.

Acemoglu menekankan, profitabilitas dan produktivitas adalah dua hal berbeda.

"Anda bisa mengurangi biaya sambil mengurangi produktivitas," katanya.

Jika seorang manajer bisa meningkatkan keuntungan meski produktivitas turun 1 persen, banyak dari mereka yang akan tetap melakukannya demi laporan keuangan internal yang terlihat baik.

Pilihan Sulit Antara Profit dan Inovasi Masa Depan

Peneliti menyatakan, hasil studi mereka tidak lantas mengindikasikan bahwa otomasi adalah hal yang buruk. Pada jenis tertentu, otomasi tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang bisa menciptakan lapangan kerja baru.

Namun, saat ini banyak manajer yang mencampuradukkan otomasi yang "baik" (meningkatkan efisiensi) dengan otomasi yang "kurang baik" (sekadar mengurangi biaya gaji karyawan).

Melalui analisis terhadap 500 kelompok demografi termasuk latar belakang etnis, usia, gender, dan tingkat pendidikan, peneliti mendapati, otomasi menciptakan ketimpangan besar antara modal dan tenaga kerja.

Untuk itu, menurut peneliti, perlu ada kesadaran kolektif dari para manajer dan ahli di bidang teknologi untuk lebih berhati-hati dalam mengalibrasi jenis teknologi yang akan diterapkan agar tidak sekadar merugikan pekerja.

Acemoglu berharap studi ini bisa mengubah sudut pandang masyarakat dalam menilai kemajuan teknologi.

"Kita bisa saja melewatkan potensi keuntungan produktivitas yang lebih baik dengan mengalibrasi jenis dan tingkat otomasi secara lebih hati-hati. Itu semua adalah pilihan, 100 persen," pungkasnya.



(rhr/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads