Tahukah kamu, Indonesia pernah melaporkan temuan kasus Hantavirus dalam beberapa tahun terakhir? Meski gejalanya perlu diwaspadai, virus ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan COVID-19 yang sempat menjadi pandemi global, terutama dalam hal cara penularannya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sedikitnya 23 kasus Hantavirus dan tiga kematian di 9 provinsi dalam periode tiga tahun terakhir. Angka kematian akibat virus ini tercatat mencapai 13 persen. Kasus yang ditemukan di Indonesia seluruhnya terkonfirmasi sebagai jenis Seoul virus, dilansir dari detikHealth.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Hantavirus?
World Health Organization (WHO) dalam laman resminya menjelaskan, hantavirus adalah sekelompok virus zoonosis yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menular ke manusia. Infeksi hantavirus pada manusia bisa menyebabkan penyakit parah hingga kematian.
Dampak penyakit ini bervariasi, tergantung pada jenis virus dan lokasi geografisnya. Di Benua Amerika, infeksi ini dikenal menyebabkan hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS), yang menyerang paru-paru serta jantung secara cepat.
Sementara itu, hantavirus di wilayah Eropa dan Asia umumnya menyebabkan haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Penyakit tersebut utamanya menyerang fungsi ginjal serta pembuluh darah manusia.
Saat ini, WHO menyatakan, belum ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan penyakit hantavirus. Namun, perawatan medis sejak dini sangat penting agar manusia yang terinfeksi bisa bertahan hidup, terutama lewat pemantauan klinis ketat dan penanganan terhadap komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal.
Bagaimana Hantavirus Menular?
Langkah utama pencegahan infeksi hantavirus menurut WHO yakni mengurangi kontak dengan antara manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.
Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), masyarakat bisa terjangkit hantavirus melalui kontak dengan tikus atau mencit. Penularan terjadi terutama saat manusia terpapar urine, kotoran, atau air liur dari hewan pengerat yang terinfeksi.
Penyebaran virus ini juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan, meskipun tergolong jarang. Selain itu, penularan melalui inhalasi aerosol atau menghirup debu yang terkontaminasi sisa ekskresi hewan terinfeksi hantavirus juga menjadi salah satu jalur infeksi yang diwaspadai.
Jenis dan Klasifikasi Hantavirus
Hantavirus termasuk dalam keluarga Hantaviridae yang berada dalam ordo Bunyavirales. Ada beragam jenis hantavirus, masing-masing biasanya memiliki spesies inang berupa hewan pengerat tertentu.
Pada hewan tersebut, virus menyebabkan infeksi jangka panjang tanpa menunjukkan gejala sakit yang nyata. Namun, virus ini tetap dapat menular ke manusia melalui kontak tertentu.
Meskipun ada banyak spesies hantavirus yang telah diidentifikasi di seluruh dunia, hanya sebagian kecil di antaranya yang diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Salah satu jenis Hantavirus yang ditemukan di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan yakni Andes virus. Hantavirus jenis ini tercatat dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dalam waktu lama, terutama di wilayah Argentina dan Chili.
Sedangkan salah satu satu jenis hantavirus yang menyebabkan HFRS adalah Seoul virus. Jenis inilah yang dikonfirmasi Kemenkes sebagai varian yang ditemukan dalam sejumlah kasus di Indonesia.
Perbedaan Hantavirus dengan COVID-19
Berbeda dengan COVID-19 yang menular antarmanusia melalui droplet, Seoul virus (SEOV) Hantavirus umumnya bersumber dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularannya terjadi melalui gigitan, kontak dengan sekresi (urine, feses, air liur), atau melalui inhalasi aerosol, yaitu saat seseorang tidak sengaja menghirup debu yang terkontaminasi virus tersebut.
Berdasarkan data laporan kesehatan, kasus Hantavirus paling banyak teridentifikasi pada tahun lalu dengan 17 kasus. Sementara itu, pada 2024 tercatat 1 kasus, dan hingga pertengahan 2026 ini sudah dilaporkan adanya penambahan lima kasus baru.
Pemerintah juga memberikan penjelasan terkait perbedaan Hantavirus di Indonesia dengan jenis Andes virus yang sempat mewabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. Andes virus dikenal dapat menular antarmanusia, tetapi risiko masuknya jenis tersebut ke Indonesia dinilai masih sangat minim.
"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus Andes, yang (menular) antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, dan terbatas umumnya di Amerika Selatan," tutur Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemkes RI Aji Muhawarman, dilansir detikHealth.
Tingginya tingkat kematian pada kasus yang ada juga dipengaruhi oleh faktor komplikasi. Selain infeksi virus itu sendiri, terdapat faktor ko-infeksi atau penyakit penyerta yang memperburuk kondisi pasien.
Ia menambahkan, tingkat kematian yang relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati hingga kegagalan multiorgan.
(crt/twu)











































