Terungkap! Ternyata Ini Alasan Manusia Bisa Merinding Menurut Ahli Biologi

ADVERTISEMENT

Terungkap! Ternyata Ini Alasan Manusia Bisa Merinding Menurut Ahli Biologi

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Kamis, 07 Mei 2026 19:30 WIB
Ilustrasi kulit saat merinding
Foto: dok. Wikimedia Commons/Menurut ahli, bulu kuduk merinding berkaitan dengan evolusi manusia pada masa purba.
Jakarta -

Saat hawa dingin menerpa atau saat mendengar musik horor, rambut yang ada di permukaan kulit biasanya akan berdiri—fenomena yang disebut dengan "bulu kuduk merinding". Pakar mengungkapkan bahwa merinding berkaitan dengan evolusi manusia dari zaman purba sebagai respons terhadap suhu dingin.

Pada masa lalu, mekanisme tubuh saat merinding bisa bermanfaat untuk menghangatkan tubuh dengan mengisolasi panas di antara rambut yang berdiri. Seorang ahli biologi evolusi dari Universitas Rutgers, Amerika Serikat (AS), Scott Travers, menyebut merinding sebagai sisa evolusi atau "sifat vestigial" seperti usus buntu atau gigi bungsu, dikutip dari Forbes.

Sekitar 1,5 sampai dengan 2 juta tahun lalu, nenek moyang manusia di savana Afrika telah kehilangan sebagian besar rambut yang menutupi tubuh mereka. Sejak saat itu, merinding tidak lagi memiliki fungsi menghangatkan tubuh, tetapi hanya sebagai respons tubuh terhadap sesuatu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi di Balik Merinding

Merinding kerap dikaitkan dengan hal mistis atau mitos tertentu. Padahal, merinding merupakan kondisi alami dari tubuh dalam merespons sesuatu.

ADVERTISEMENT

Bulu di permukaan kulit saat merinding, terjadi karena pergerakan otot berukuran sangat kecil yang disebut, arrector pili. Otot tersebut menempel di setiap folikel rambut di bawah kulit, dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.

Saat hawa dingin atau stres mengaktifkan sistem simpatik, sistem tersebut melepaskan neurotransmitter (norepinefrin) yang memicu kontraksi pada otot arrector pili. Akibatnya, folikel rambut akan tertarik ke atas dan menimbulkan efek yang kita sebut "merinding".

Sebuah studi (2020) yang terbit di jurnal Cell mengungkapkan bahwa otot arrector pili tidak hanya berfungsi untuk mengangkat rambut. Otot tersebut merupakan bagian dari sistem biologis yang terintegrasi secara mendalam, serta melibatkan 3 jenis sel berbeda: folikel rambut, otot arrector pili, dan saraf simpatik yang mengendalikan keduanya.

Manfaat Merinding bagi Mamalia

Hewan mamalia seperti serigala, kucing, dan simpanse memanfaatkan bulu yang berdiri tegak sebagai sinyal sosial dan agresif. Bulu hewan yang mengembang membuat tubuh mereka tampak lebih besar—berfungsi untuk mengelabui musuh.

Menurut sistem evolusi, fenomena tersebut tidak hanya melindungi hewan dari musuh, tetapi juga menghangatkan tubuh mereka. Bulu yang berdiri tegak akan mengunci lebih banyak panas yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka.

Pada manusia, evolusi menunjukkan bahwa kehilangan banyak bulu menyebabkan fungsi terdahulunya juga ikut melenyap. Bulu yang dimiliki manusia saat ini sangat tipis, sehingga tidak mungkin menyimpan panas lebih lama.

Sebuah studi tahun 2011 yang terbit di Biological Psychology menemukan bahwa rangsangan audio yang menyentuh emosi dari musik (saat terharu) dan film dapat memicu merinding.

Proses ini menunjukkan ciri fisiologis saat merinding, yang terdiri dari meningkatnya aktivitas elektrodermal fase, pernapasan yang lebih dalam, serta respons simpatik penuh. Proses yang sama juga terjadi saat kita merinding karena terpapar hawa dingin.

Jadi, fungsi saraf yang sebelumnya digunakan untuk bertahan hidup, saat ini telah beralih fungsi. Itulah mengapa, kita juga bisa merinding saat mendengar musik atau menonton film yang menyentuh jiwa, juga saat ketakutan.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads