BEM KM IPB Tolak Kampusnya Jadi Dapur MBG: Desak BGN Evaluasi

ADVERTISEMENT

BEM KM IPB Tolak Kampusnya Jadi Dapur MBG: Desak BGN Evaluasi

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 07 Mei 2026 10:39 WIB
Kampus IPB University
Kampus IPB University. Foto: Humas IPB University
Jakarta -

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) IPB University menyampaikan kecamannya soal kampus IPB sebagai dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini langsung ditujukkan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

"Tolong jangan paksakan jika..Jika masih ada 1.242 orang yang keracunan makan bergizi gratis. Jika masih ada ratusan triliun anggaran pendidikan yang direalokasi untuk makan bergizi gratis. Jika masih ada 1.720 SPPG yang ditutup karena tidak sesuai dengan standar operasional. Jika masih ada puluhan SPPG yang masih dimiliki oleh kepentingan partai politik dan oligarki," tulis pernyataan BEM KM IPB dalam unggahan Instagram-nya, dikutip Kamis (7/5/2026).

Desak BGN Evaluasi MBG

BEM KM IPB menilai implementasi MBG hanya memakai satu model yang dipaksakan diterapkan untuk semua wilayah. Sehingga ada ketidaksuaian dalam pelaksanaan program.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketimpangan standar makanan, banyaknya keracunan, pun juga kecacatan dalam kewenangan kelembagaan merupakan implikasi dari keterpaksaan model yang digunakan," tulis BEM KM IPB.

BEM KM IPB juga mendesak agar BGN mengevaluasi program MBG ini, nukan memaksakan untuk dimasifkan secara luas bahkan melibatkan instansi pendidikan.

ADVERTISEMENT

"Bagaimana ketersediaan resource kampus? Bagaimana kondisi fasilitas sarana-prasara pokok instansi? Bagaimana ekosistem dan kualitas kurikulum lembaga pendidikan? Apakah pada akhirnya pada dosen dan mahasiswa harus terambil alih fokusnya untuk menjadi tenaga kerja MBG?" ungkap BEM KM IPB.

IPB sebagai Pusat Unggulan Nasional MBG

Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi mengatakan bahwa IPB merupakan Center of Excellence (Pusat Unggulan Nasional) dalam program MBG.

Disebutnya, keberadaan CoE untuk memastikan program MBG berjalan efektif, terukur, dan berdampak nyata.

"IPB University juga akan mengembangkan model dapur berbasis karakteristik lokal, memperkaya menu gizi MBG, serta berinovasi bersama berbagai stakeholder terkait," katanya dikutip dari laman IPB, Kamis (7/5/2026).

Ia juga menuturkan alasan IPB perlu terlibat dalam mengembangkan MBG. Menurutnya ada sejumlah persoalan MBG di lingkup nasional yang membutuhkan kepedulian institusi pendidikan tinggi.

"Dengan mengambil peran sebagai CoE Pemenuhan Gizi Nasional (PGN) maka inovasi-inovasi yang lahir dari laboratorium dan kebun percobaan IPB University akhirnya bisa diuji dan diterapkan dalam skala nyata. Varietas pangan lokal unggulan, formula menu berbasis kebutuhan gizi spesifik, teknologi pengolahan pangan sederhana yang efisien, sistem pemantauan mutu berbasis data, semuanya kini punya ruang untuk bergerak dari riset menuju dampak," jelasnya.

Kampus: Pengelolaan SPPG Bukan IPB secara Langsung

Alfian juga menyatakan bahwa pihak IPB tidak mengelola SPPG secara langsung. Adapun dapur MBG dikelola holding company milik kampus.

"Berkaitan dengan SPPG, yang membangun dan mengelola SPPG bukan IPB secara langsung, melainkan PT BLST, holding company milik IPB, melalui yayasan yang dibentuk secara khusus," urainya.

Ia menambagkan, yayasan tersebut tidak menggunakan anggaran pendidikan dan operasional akademik kampus.

"Yayasan tersebut berbadan hukum dan dikelola secara profesional, terpisah dari anggaran pendidikan dan operasional akademik IPB. Jadi struktur tata kelola dan mandat akademik kampus tetap terjaga, " ungkapnya.

Direktur PT BLST, Luhur Budijarso berharap SPPG yang dikelola pihaknya dapat direplikasi secara nasional. Ada dua dapur yang akan digarap PT BLST, yaitu di Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Sukajaya.

Luhur mengungkapkan, satu dapur sudah siap beroperasi. Dapur MBG ini direncanakan untuk menyasar warga sekitar yang dinilai punya kebutuhan pemenuhan gizi tinggi, tetapi juga memiliki ekosistem agribisnis pendukung yang bisa dikembangkan.

Menurutnya, ekosistem ini menjadi pembeda dapur MBG-nya dengan dibanding SPPG lain.

"Kami tidak hanya membangun dapur, kami membangun rantai pasoknya. Petani, peternak, pengolah tahu-tempe di sekitar kampus dan lokasi SPPG dibina agar menjadi pemasok yang terstandar dan berkelanjutan, " tuturnya.

Ia mengatakan, pembinaan tersebut juga melibatkan dosen dan mahasiswa IPB lewat program pengabdian masyarakat terstruktur. Dengan landasan tri dharma, menurutnya penelitian juga memastikan standar gizinya dan pendidikan melatih pelaku di program ini.

"Ini yang kami sebut ekosistem terintegrasi, bukan sekadar dapur yang berdiri sendiri, " ucapnya.

"Bukan hanya soal dapurnya, tapi kesempatan berkontribusi di lapangan dan mendukung keberhasilan program pemerintah. Model ini juga diharapkan dapat menghasilkan pendapatan yang sehat bagi PT BLST, yang sebagian akan dialokasikan kembali untuk mendukung riset, beasiswa, dan pengabdian masyarakat IPB. Dan kalau inovasi kampus bisa ikut mengalir di dalamnya, dari laboratorium ke meja makan anak-anak Indonesia, maka itulah makna sesungguhnya dari kampus yang berdampak," ujarnya.

Soal Keamanan Pangan

Luhur mengatakan, pihaknya juga memastikan agar keamanan pangan di dapur MBG-nya terjaga. Ia menyatakan, semua sistem mulai dari bahan baku hingga sajian di piring dirancang memenuhi prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) di bawah koordinasi Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal IPB (LRI-PGKH).

"Audit internal dilakukan secara berkala, dan hasilnya dibuka untuk verifikasi publik," ucapnya.




(cyu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads