Fenomena deepfake (konten foto, video, atau audio hasil rekayasa AI) kini semakin sering muncul di lingkungan sekolah. Melansir ABC, data dari otoritas keamanan digital Australia eSafety menunjukkan lonjakan tajam jumlah deepfake daring meningkat hingga 550 persen sejak 2019,
Sebanyak 98 persen deepfake di antaranya berupa konten pornografi. Sementara itu. 99 persen konten deepfake menargetkan perempuan dan anak perempuan.
Di kalangan pelajar, deepfake kerap disalahgunakan. Bentuknya mulai dari bahan candaan hingga pelecehan serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan tren deepfake menunjukkan, isu ini tidak lagi sekadar masalah teknologi, tetapi juga menyangkut keamanan, etika, dan kesehatan mental siswa.
Dampak Psikologis dan Sosial yang Perlu Diwaspadai
Komisioner eSafety Julie Inman Grant mengatakan, korban deepfake sering kali tidak menyadari bahwa wajah atau identitas mereka digunakan. Ketika terungkap, dampaknya bisa sangat besar, mulai dari rasa malu, cemas, hingga kehilangan kepercayaan diri.
Di lingkungan sekolah, situasi ini juga bisa memicu ketidaknyamanan kolektif, bahkan konflik antar siswa.
Bukan hanya korban, siswa yang menerima atau melihat konten deepfake juga bisa mengalami kebingungan. Mereka kerap berpikir apakah harus melaporkan, mengabaikan, atau justru menyebarkan keresahannya. Tanpa pemahaman yang tepat, kondisi ini bisa memperburuk situasi dan memperluas dampak negatifnya.
Sekolah sendiri berada dalam posisi yang kompleks. Grant menjelaskan, banyak kasus terjadi di luar jam sekolah atau melalui perangkat pribadi, sehingga penanganannya membutuhkan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pihak berwenang.
Cara Menyikapi Deepfake
Menghadapi deepfake tidak bisa sembarangan. Pendekatannya harus berhati-hati, berfokus pada perlindungan korban, dan berbasis literasi digital.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Tetap tenang dan jangan panik saat mengetahui adanya deepfake
- Jangan menyebarkan ulang konten, meskipun hanya untuk "membuktikan"
- β Kumpulkan bukti seperlunya (seperti tangkapan layar, tautan, atau username)
- β Laporkan ke pihak terkait, seperti sekolah, platform digital, atau aparat
- Cari dukungan profesional jika korban mengalami tekanan psikologis
- β Bangun literasi digital dan edukasi tentang persetujuan (consent) di lingkungan sekolah
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa membuat atau menyebarkan deepfake (terutama yang bersifat eksplisit tanpa izin) dapat masuk ranah hukum di banyak negara.
Sekolah Bisa Cegah
Isu deepfake menunjukkan bahwa pendidikan digital tidak bisa ditunda. Sekolah perlu membangun sistem yang bersifat preventif, sehingga tidak hanya bereaksi saat kasus terjadi.
Grant menjelaskan, pembangunan sistem pencegahan ini bisa melalui kurikulum literasi digital, edukasi tentang etika penggunaan teknologi, serta pemahaman tentang privasi dan persetujuan (consent). Dengan pendekatan ini, siswa dapat menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab dalam ruang digital.
(rhr/twu)











































