Remaja sering dianggap tidak peduli dengan politik. Namun studi terbaru justru menunjukkan hal sebaliknya. Banyak remaja tertarik dengan demokrasi, tetapi mereka juga merasa cemas terhadap masa depan dan kurang percaya pada institusi politik.
Dilansir dari laman Phys.org, hasil penelitian yang dipimpin Royal Holloway, University of London, menyatakan mayoritas remaja usia 12-17 tahun di Inggris menyatakan ingin punya hak suara pada pemilu jika diberi kesempatan. Meski begitu, keinginan tersebut diiringi rasa tidak percaya terhadap sistem politik dan kekhawatiran tentang masa depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Remaja Merasa Tak Didengar
Penelitian yang melibatkan hampir 1.000 remaja di Inggris ini menemukan bahwa hampir tiga perempat responden ingin ikut memilih dalam pemilu. Mereka juga menunjukkan minat terhadap isu politik dan demokrasi.
Namun, banyak remaja merasa suara mereka tidak didengar. Hal ini membuat mereka ragu apakah keterlibatan politik benar-benar akan berdampak pada masa depan mereka.
Profesor Manos Tsakiris menjelaskan bahwa sikap remaja terhadap politik sebenarnya lebih kompleks dari yang selama ini diperkirakan.
"Remaja di Inggris bersedia terlibat dalam demokrasi, tetapi mereka melakukannya dari posisi ketidakpastian dan ketidakpercayaan. Masa depan demokrasi juga tentang bagaimana demokrasi dirasakan oleh mereka yang akan segera memasukinya," ujarnya.
Ia menambahkan, remaja sebenarnya ingin terlibat, tetapi masih diliputi ketidakpastian dan ketidakpercayaan.
Khawatir soal Masa Depan
Penelitian ini juga menemukan bahwa kecemasan terhadap masa depan berpengaruh besar terhadap sikap politik remaja. Remaja yang lebih cemas cenderung kurang tertarik untuk memilih atau terlibat dalam kegiatan politik.
Peneliti dari Royal Holloway, Olaf Borghi, menyebut hal ini sebagai temuan penting.
"Jika anak muda merasa bahwa demokrasi tidak memberikan masa depan yang layak bagi mereka, memperluas hak formal saja tidak akan cukup untuk meningkatkan partisipasi mereka," katanya.
Menurutnya, jika remaja merasa demokrasi tidak memberikan masa depan yang jelas, maka pemberian hak pilih saja tidak cukup untuk meningkatkan partisipasi mereka.
Hak Pilih Saja Tidak Cukup
Studi ini juga muncul saat Inggris mempertimbangkan penurunan usia memilih menjadi 16 tahun. Namun peneliti menilai kebijakan tersebut perlu diiringi dengan upaya membangun kepercayaan remaja terhadap demokrasi.
Peneliti lain, Kaat Smets, menegaskan bahwa perubahan usia memilih bukan satu-satunya solusi.
"Memperluas hak pilih itu penting, tetapi harus disertai dengan dukungan kewarganegaraan yang lebih kuat, pendidikan demokrasi yang lebih baik, dan institusi yang secara nyata responsif terhadap kekhawatiran anak muda," ujarnya.
Secara tidak langsung, temuan ini menyatakan bahwa remaja sebenarnya ingin terlibat dalam demokrasi. Namun, mereka membutuhkan ruang yang lebih terbuka, kepercayaan, serta keyakinan bahwa suara mereka benar-benar didengar.
Studi Irene Arahal dan rekan-rekan ini dipublikasi dalam laporan M. Willing but Wary: Adolescents, Democracy & Vote at 16: the IP-PAD UK Adolescent Study. IP-PAD (2026), unduh DI SINI.
(rhr/twu)











































