Fenomena El Niño tak hanya berdampak pada cuaca panas dan kekeringan, tetapi juga dapat memicu masalah ekologis yang lebih luas. Di Indonesia, kondisi ini berpotensi mengganggu habitat satwa liar hingga meningkatkan konflik antara manusia dan hewan yang keluar dari kawasan hutan.
El Niño merupakan anomali atau penyimpangan iklim periodik yang terjadi 3-7 tahun sekali akibat kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur. Adanya El Niño dapat membuat musim kemarau jadi lebih kering, seperti dijelaskan dalam pos Instagram Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (28/4/2026).
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, menjelaskan El Niño menyebabkan penurunan curah hujan signifikan. Akibatnya, musim kemarau dapat menjadi lebih panjang dan lingkungan menjadi semakin kering.
Dilansir dari laman IPB Univeristy, perubahan tersebut tak hanya dirasakan manusia. Musim kemarau panjang dan lingkungan kering memberi tekanan besar terhadap satwa liar dan keseimbangan ekosistem.
El Niño Bikin Pakan dan Air Satwa Berkurang
Menurut Dr Mustari, suhu lingkungan yang meningkat dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan makanan maupun sumber air bagi hewan liar.
"Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar," ujarnya.
Produktivitas tumbuhan pakan seperti buah, daun, dan vegetasi bawah hutan ikut menurun saat kemarau panjang. Akibatnya, banyak satwa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan, reproduksi, hingga kelangsungan populasi satwa di alam liar.
Satwa Bisa Masuk Kebun hingga Permukiman
Ketika makanan dan air di habitat alami menipis, satwa liar cenderung memperluas wilayah jelajahnya untuk bertahan hidup. Mereka bisa keluar dari kawasan hutan menuju perkebunan, lahan pertanian, bahkan permukiman warga.
"Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar," ujarnya.
Situasi semacam ini kerap terjadi pada musim kering panjang, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan. Konflik dapat berupa kerusakan tanaman, gangguan terhadap warga, hingga ancaman terhadap satwa itu sendiri.
Kebakaran Hutan Perparah Kerusakan Ekosistem
Selain kekeringan, musim kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya bukan hanya hilangnya tutupan hutan, tetapi juga rusaknya habitat satwa dan terganggunya rantai makanan.
"Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang," ujar Mustari.
Ia menilai pencegahan harus dilakukan lewat perlindungan habitat alami, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta kerja sama pemerintah dan masyarakat sekitar hutan.
Dengan menjaga hutan, pemerintah dan warga bisa melindungi satwa liar sekaligus menjaga keseimbangan kehidupan manusia dalam jangka panjang.
Simak Video "Video Cek Fakta: Viral Satwa Liar Korban Banjir Sumatra, Benarkah?"
(rhr/twu)