Reptil Bisa Berwarna-warni, Kenapa Mamalia Tidak?

ADVERTISEMENT

Reptil Bisa Berwarna-warni, Kenapa Mamalia Tidak?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 30 Apr 2026 09:00 WIB
Mandrill atau monyet dukun (mandrillus sphinx)
Foto: Getty Images/iStockphoto/Freder/Mandrill, mamalia yang memiliki warna di bagian yang tak ada bulu
Jakarta -

Reptil dan unggas memiliki warna-warna yang indah dan mencolok mulai dari hijau, biru, hingga kuning. Namun, kenapa mamalia tidak punya warna mencolok?

Seorang ahli biologi evolusi dari Universitas Ghent di Belgia, Matthew Shawkey, menjelaskan bahwa hewan menghasilkan warna tubuh melalui dua cara utama. Hewan dapat menggunakan pigmen pada kulit atau bulunya.

Selain itu, hewan juga dapat memanfaatkan struktur mikroskopis yang memantulkan cahaya sehingga menghasilkan warna cerah. Namun, berbeda dengan mamalia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mamalia sebenarnya tidak menggunakan keduanya. Dari sekian banyak pigmen penghasil warna - seperti karotenoid, porfirin, dan pterin - mamalia hanya memiliki satu jenis: melanin," ucapnya, dikutip dari Live Science.

Mamalia Memiliki Keterbatasan dalam Menghasilkan Warna

Kebanyakan mamalia hanya memiliki satu jenis pigmen, yaitu melanin. Pigmen ini menghasilkan warna cokelat hitam dan variasinya.

ADVERTISEMENT

"Kehadiran pigmen tunggal itu menghasilkan semua warna yang terlihat pada mamalia," jelas Shawkey.

Menurutnya, ketiadaan pigmen itu bisa menghasilkan area berwarna putih, seperti yang ada pada zebra dan panda.

Faktor Struktur Rambut

Selain itu, warna pada mamalia juga dipengaruhi oleh komposisi rambut yang membentuk bulu mamalia. Dalam hal ini, rambut tidak menghasilkan pola yang diperlukan untuk warna.

Contohnya dapat dilihat pada mandrill yang memiliki warna merah dan biru yang mencolok. Namun, warna tersebut hanya muncul pada bagian tubuh yang tidak ditutupi bulu. Sementara itu, warna hijau pada sloth sebenarnya berasal dari alga yang tumbuh di bulunya.

Menurut ilmuwan, sejarah evolusi memengaruhi warna tubuh mamalia. Pada masa awal evolusinya, mamalia hidup berdampingan dengan dinosaurus sebagai predator utama.

Untuk menghindari pemangsa, mamalia diperkirakan hidup sebagai hewan nokturnal selama lebih dari 100 juta tahun. Hidup di lingkungan gelap membuat warna tubuh seperti cokelat dan abu-abu lebih efektif untuk kamuflase.

Dalam penelitian yang terbit di jurnal Science Vol. 387 pada 13 Maret 2025, para peneliti membandingkan struktur pigmen mamalia modern dengan fosil mamalia dari periode Jura dan Kapur. Hasilnya menunjukkan mamalia purba juga memiliki warna yang cenderung gelap.

Menurut Shawkey, warna yang terlalu mencolok kemungkinan tidak bertahan karena lebih mudah terlihat oleh predator.

Mamalia Memanfaatkan Pola Warna untuk Berkomunikasi

Meski jarang memiliki warna cerah, mamalia tetap memanfaatkan warna tubuh untuk berbagai tujuan, termasuk komunikasi, kamuflase, dan memberi peringatan kepada predator.Beberapa mamalia menggunakan pola warna kontras untuk berkomunikasi atau memberi sinyal.

Misalnya, sigung memiliki pola hitam-putih sebagai tanda peringatan bahwa mereka memiliki pertahanan berupa bau menyengat. Anjing liar Afrika memiliki pola bulu unik dengan ekor putih yang diduga berfungsi sebagai sinyal saat berburu bersama kelompoknya.

Selain itu, penelitian terbaru menemukan beberapa mamalia dapat berpendar atau fluoresen ketika terkena sinar ultraviolet, serta fenomena iridesensi atau warna berkilau pada beberapa spesies tikus tropis, yang kemungkinan digunakan untuk komunikasi visual.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(crt/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads