Kenapa Paus Bisa Menjadi Hewan Terbesar di Dunia?

ADVERTISEMENT

Kenapa Paus Bisa Menjadi Hewan Terbesar di Dunia?

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 26 Mar 2026 07:00 WIB
Sperm whale.Physeter macrocephalus.Photographed off the Azores Islands (Portugal). Atlantic Ocean. (Photo by: Francois Gohier/VW Pics/Universal Images Group via Getty Images)
Foto: Universal Images Group via Getty/VW Pics/Ilustrasi paus
Jakarta -

Paus dinobatkan Guinness World Records (GWR) sebagai hewan terbesar di dunia. Gelar ini lebih khusus diberikan kepada paus biru yang beberapa di antaranya memiliki berat mencapai 200 ton.

Ukuran ini menjadikannya hewan terbesar yang pernah ada di dunia. Bahkan, dinosaurus tidak memiliki ukuran sebesar paus biru.

Berat paus biru hampir 20 kali lipat dari predator mematikan di era dinosaurus, T-rex. Tidak hanya berat, panjang paus biru juga mencengangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panjangnya mencapai 30 meter atau kira-kira sama panjangnya dengan 1 pesawat komersial, 3 bus tingkat, dan 5 gajah Afrika jika disusun berbaris. Lalu, kenapa paus bisa menjadi hewan terbesar di dunia? Ketahui jawabannya di sini yuk!

Alasan Paus Jadi Hewan Terbesar di Dunia

Dalam sebuah studi yang terbit di jurnal Proceedings of the Royal Society B, peneliti melakukan penyelidikan soal gigantisme pada paus balin. Paus balin merupakan jenis paus yang memakan plankton, termasuk paus biru.

ADVERTISEMENT

Ilmuwan menemukan bahwa evolusi paus menjadi sangat besar baru terjadi 4,5 juta tahun yang lalu. Penyebabnya adalah perubahan iklim yang membuat hewan-hewan ini makan dengan rakus.

Tidak langsung di laut, sekitar 50 juta tahun lalu, paus merupakan mamalia darat berkuku. Namun, beberapa juta tahun kemudian, mereka mengembangkan sirip dan menjadi makhluk laut.

Sekitar 20-30 juta tahun yang lalu, beberapa paus purba mengembangkan kemampuan dalam menyaring makanan. Kemampuan ini memungkinkan paus menelan banyak mangsa kecil dalam sekali membuka mulut.

Kurator mamalia laut fosil di Museum Sejarah Alam Nasional Smithsonian Institution, Nick Pyenson, yang juga penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa kemampuan itu awalnya tidak membuat tubuh paus menjadi besar. Namun, tiba-tiba ukuran mereka berevolusi dengan cepat.

"Tapi kemudian tiba-tiba 'boom', kita melihat mereka menjadi sangat besar, seperti paus biru," ungkap Pyenson, dikutip dari New York Times.

Perubahan Iklim-Ocean Upwelling

Selama studi berlangsung, Pyenson dan rekan-rekannya mengukur lebih dari 140 spesimen fosil paus di museum. Hasilnya, ditemukan bahwa beberapa garis keturunan paus balin menjadi raksasa sekitar waktu yang sama, mulai 4,5 juta tahun yang lalu.

Peneliti menduga kala itu perubahan iklim tengah terjadi. Setelah diselidiki lebih lanjut, tim Pyenson menemukan bahwa periode waktu itu bertepatan dengan awal mula ketika lapisan es menutupi Bumi di belahan utara.

Ketika lapisan es menutupi bumi, aliran air dari gletser membawa banyak nutrisi, seperti zat besi, ke perairan pesisir. Kondisi ini juga membuat siklus naiknya air laut musiman secara intens.

Akibatnya, air dingin dari dasar laut naik, membawa material organik ke permukaan. The Conversation menyatakan proses ini disebut dengan ocean upwelling (naiknya massa air laut dari bawah ke atas).

Ocean upwelling terjadi saat angin kencang berhembus ke arah pesisir sambil menekan air permukaan menjauh dari pesisir. Akibatnya, air dingin dari dasar laut yang kaya akan nutrisi tertarik ke atas.

Proses ini juga membuat ledakan populasi plankton dan mangsa paus balin lain, seperti udang dan ikan. Mangsa-mangsa ini terkumpul di area tertentu di sepanjang pesisir sehingga nampak seperti prasmanan bagi paus balin.

Oleh karena itulah, paus bisa memangsa buruan mereka lebih efektif dan membuat mereka tumbuh besar. Berdasarkan temuan fosil, garis keturunan paus balin juga bisa menjadi besar ketika fenomena ocean upwelling terjadi.

Ahli fisiologi komparatif dari Universitas Stanford, Jeremy Goldbogen, membeberkan bahwa awalnya kemampuan menyaring makanan pada paus tidak bekerja instan. Namun, ketika laut berubah jadi prasmanan raksasa, kemampuan itu berevolusi menjadi sangat efisien.

"Paus balin kini dapat menelan mangsa dalam jumlah yang jauh lebih besar, yang memungkinkan mereka untuk tumbuh lebih besar (lagi)," ucap Goldbogen.

Ocean Upwelling Terjadi Musiman

Penulis studi lainnya, yang juga ahli biologi evolusi di Universitas Chicago, Graham Slater, menyebut, kini ketersediaan makanan yang melimpah tidak akan membuat kita menemukan paus raksasa dengan mudah. Siklus ekologis yang memicu ledakan populasi kril dan zooplankton atau ocean upwelling terjadi secara musiman.

Untuk itu, paus harus bermigrasi dengan jarak jauh dari satu tempat makanan ke tempat makanan lainnya. Jika sumber makanan tidak berjauhan, paus-paus akan tumbuh hingga ukuran tubuh tertentu sesuai dengan lingkungan yang ada.

"Paus biru mampu bergerak jauh dengan menggunakan energi yang jauh lebih sedikit daripada paus bertubuh kecil. Ukuran besar menjadi sangat menguntungkan jika ingin bergerak jarak jauh," kata Slater.




(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads