Mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

ADVERTISEMENT

Mengenal Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 28 Apr 2026 14:00 WIB
Profil Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Hari lahirnya dijadikan sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei.
Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional pada hari lahir Ki Hajar Dewantara. Ini sosok sang Bapak Pendidikan Nasional. Foto: Fuad Hasim/detikcom
Jakarta -

Setiap 2 Mei, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Dilansir dari buku Ki Hajar Dewantara terbitan Kementerian Pendidikan, sosok ini berperan besar dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi rakyat Indonesia pada masa penjajahan. Ia percaya bahwa pendidikan menjadi jalan penting untuk membangun bangsa yang merdeka dan berdaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lahir dengan Nama Soewardi Soerjaningrat

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia berasal dari keluarga bangsawan Keraton Yogyakarta.

Meski berasal dari kalangan ningrat, ia memilih melepaskan gelar kebangsawanannya agar lebih dekat dengan rakyat biasa. Langkah itu juga menunjukkan komitmennya pada kesetaraan sosial dan perjuangan nasional.

ADVERTISEMENT

Selain aktif di dunia pendidikan, ia juga dikenal sebagai penulis dan wartawan yang kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Pernah Diasingkan karena Tulisan Kritis

Salah satu fakta penting dalam perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara adalah ia pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini terjadi setelah tulisannya yang terkenal berjudul Als Ik Eens Nederlander Was atau Seandainya Aku Seorang Belanda.

Tulisan tersebut mengkritik kebijakan Belanda yang meminta rakyat jajahan ikut membiayai perayaan kemerdekaan Belanda. Karena kritik tajam itu, Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Belanda bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Masa pengasingan justru membuatnya semakin mendalami gagasan pendidikan modern yang kelak diterapkan di Indonesia.

Pendiri Taman Siswa

Sekembalinya ke Tanah Air, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Sekolah ini dibangun untuk memberi kesempatan belajar kepada rakyat pribumi yang sulit mengakses pendidikan kolonial.

Di Taman Siswa, pendidikan tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga karakter, budaya, dan rasa kebangsaan. Konsep ini menjadi fondasi penting pendidikan nasional Indonesia.

Ia juga dikenal lewat semboyan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Kalimat patrap triloka ini, atau prinsip tentang peran guru dalam mendidik siswa, masih digunakan di dunia pendidikan hingga sekarang.

Semboyan ini juga dicantumkan pada logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kelak menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sejak 1977. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 0398/M/1977 tanggal 6 Desember 1977, penggunaan tersebut merupakan penghormatan pada Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya pada 2 Mei menjadi Hari Pendidikan Nasional.

Tiga Pusat Pendidikan

Pada sistem pendidikan, Ki Hajar Dewantara tidak hanya menekankan peran guru. Menurutnya, ada tiga pusat pendidikan atau tri sentra pendidikan yang saling berkaitan.

Dikutip dari Tren dan Isu Pendidikan Dasar oleh Sonia Yulia Friska dan rekan-rekan, tiga pusat pendidikan terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Di lingkungan sekolah, anak mendapatkan pendidikan formal mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dari para guru. Sedangkan di lingkungan masyarakat, anak mendapat pengalaman sehari-hari untuk berfungsi di tengah masyarakat.

Sementara itu, anak sebelumnya mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Di lingkungan keluarga, orang tua menjadi among, yakni mengingatkan perilaku yang benar, memberi contoh moral yang baik, dan bertekad mendidik dengan penuh kasih sayang.

Karena keluarga dipandang sebagai tempat terbaik untuk meberikan bimbingan dan mengajarkan nilai moral serta sosial, maka pendidikan keluarga sejak usia dini menurut Ki Hajar Dewantara sangat penting.

Ki Hajar Dewantara berpandangan, keluarga adalah tempat pertama anak-anak menerima pendidikan, dengan orang tua sebagai guru, pembimbing, pengajar, serta panutan yang memberi persiapan untuk bisa berfungsi di tengah lingkungan masyarkaat.

Mengapa Disebut Bapak Pendidikan Nasional?

Ki Hajar Dewantara disebut Bapak Pendidikan Nasional karena jasanya sangat besar dalam membuka akses pendidikan bagi rakyat dan merumuskan filosofi pendidikan Indonesia.

Pemikirannya menekankan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia, membangun karakter, serta menumbuhkan kemandirian. Karena itu, hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei.

Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI No 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional jang Bukan Hari Libur. Sukarno melalui Keppres tanggal 16 Desember 1959 ini menyatakan, meskipun bukan hari libur, hari bersejarah ini selayaknya diperingati seluruh bangsa Indonesia dengan mengadakan upacara di sekolah, kantor, dan tempat masing-masing.




(twu/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads