Tren Viral Remaja China: Ziarah ke Makam Tokoh Sejarah untuk Healing dan Inspirasi

ADVERTISEMENT

Tren Viral Remaja China: Ziarah ke Makam Tokoh Sejarah untuk Healing dan Inspirasi

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 10 Apr 2026 08:00 WIB
Parade Hanfu yang menandai peringatan 500 tahun kelahiran Zhang Juzheng di pemakaman Zhang Juzheng di Jingzhou, Provinsi Hubei,
Foto: Xinhua/Parade Hanfu yang menandai peringatan 500 tahun kelahiran Zhang Juzheng di pemakaman Zhang Juzheng di Jingzhou, Provinsi Hubei, pada Mei 2025.
Jakarta -

China memiliki tradisi Festival Qingming atau tradisi ziarah kubur. Namun, tradisi ini kini memunculkan fenomena unik pada generasi muda yang pergi ziarah untuk 'healing'. Apa alasannya?

Bukannya pergi ke pusat perbelanjaan atau tempat wisata kekinian, para remaja dan mahasiswa di sana justru berbondong-bondong mengunjungi makam tokoh sejarah idola mereka. Menariknya, mereka datang bukan sekadar berdoa, melainkan membawa "persembahan" kreatif yang sangat personal.

Dilansir dari kantor berita Xinhua, tren ini viral setelah berbagai unggahan di media sosial menunjukkan makam-makam kuno dipenuhi barang-barang yang tidak biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai contoh, di makam Cao Cao (panglima perang Dinasti Han yang dikenal sering menderita sakit kepala hebat semasa hidupnya), penggemar meninggalkan paket obat ibuprofen. Sementara di makam penyair legendaris Li Bai, para pengagum meletakkan berbagai jenis botol minuman beralkohol favorit sang penyair.

ADVERTISEMENT

Cari Kekuatan Spiritual dan Inspirasi Hidup

Fenomena ini dipandang sebagai bentuk koneksi baru antara anak muda dengan sejarah bangsa mereka. Luo Liting, seorang mahasiswa pascasarjana, bercerita kepada Xinhua bahwa ia rela menempuh perjalanan 1.200 kilometer menuju makam Jenderal Zhou Yu dengan membawa puisi dan bunga persik kering.

"Di usia 20-an yang penuh ketidakpastian, saya benar-benar mengagumi ketenangan, keanggunan, dan pendekatan hidupnya yang bebas. Dia adalah sosok yang saya aspirasikan," ujar Luo Liting, dikutip dari laman resmi Xinhua.

Seorang antropolog dari Minzu University of China, Zhu Jingjiang, menilai bahwa tren ini berakar pada kebangkitan budaya tradisional di kalangan anak muda China yang dipicu oleh film dan drama sejarah.

"Anak muda di era digital cenderung mengekspresikan diri mereka dengan cara yang lebih ringan dan penuh kasih sayang," kata Zhu Jingjiang.

Makam tokoh sejarah kini menjadi tempat "curhat" dan mencari kekuatan emosional bagi mereka yang merasa lelah dengan rutinitas pekerjaan atau beban studi.

Hidupkan Kembali Situs Sejarah yang Terlupakan

Satu fakta menarik dari tren ini adalah situs-situs sejarah yang sebelumnya sepi dan tersembunyi di desa-desa terpencil kini hidup kembali. Mengutip kesaksian dari penjaga situs makam Zhang Juzheng, seorang negarawan terkemuka Dinasti Ming di Provinsi Hubei, jumlah pengunjung meningkat drastis dalam dua tahun terakhir.

"Dulu di sini sangat sunyi. Namun, belakangan ini orang-orang melakukan perjalanan jauh hanya untuk memberikan penghormatan," ujar Zhang Shilin, pengelola situs tersebut.

Banyak pengunjung muda yang juga meninggalkan surat berisi keluh kesah mereka tentang tekanan pekerjaan, berharap mendapatkan keteguhan hati seperti para tokoh besar tersebut dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Tradisi Serupa di Jepang dan Prancis

Kegiatan mengunjungi makam tokoh besar untuk mencari inspirasi sebenarnya juga menjadi budaya yang kuat di negara lain. Di Jepang, terdapat tradisi menghormati leluhur dan tokoh penting yang dikenal dengan istilah Hakamairi.

Melansir informasi dari Japan National Tourism Organization (JNTO), situs pemakaman seperti Sengaku-ji di Tokyo tetap menjadi destinasi populer bagi kaum muda untuk menghormati 47 Ronin yang melambangkan nilai kesetiaan dan keberanian.

Sementara itu, di Eropa, UNESCO melalui catatan warisan budayanya menyoroti kompleks pemakaman Père Lachaise di Paris sebagai salah satu situs yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Makam tokoh-tokoh besar seperti Oscar Wilde hingga musisi Jim Morrison dipenuhi dengan bunga dan surat dari pengagum muda lintas negara. Hal ini menunjukkan bahwa "berdialog" dengan masa lalu melalui kunjungan fisik ke makam tokoh idola adalah cara manusia untuk mencari inspirasi dan memahami budaya mereka.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads