Uni Eropa dan Indonesia merilis platform lowongan kerja, peluang pendidikan, dan beasiswa EU Green Engineering Hub, Selasa (22/4/2026). Meskipun bernama green engineering, anak muda berlatar sosial humaniora alias soshum, mulai dari lulusan ekonomi, hukum hingga hubungan internasional, bisa mendaftar peluang di Eropa ini.
Hal tersebut disampaikan Green Engineering Education Data Specialist, Dr-Ing Ir Ova Candra Dewi, S T, M Sc, GP, IPU usai peluncuran platform pada rangkaian RI-EU Science & Technology Collaboration Forum di Grha Diktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat.
"Tidak berarti ini menutup kemungkinan untuk teman-teman yang dari nonsaintek, begitu. Ini semuanya terbuka, mau dari ekonomi, mau dari sosial, law, dan sebagainya. Justru sebenarnya di sini adalah platform kita untuk sama-sama bekerja sama," ucap Ova.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Green Engineering?
Pakar arsitektur dan keberlanjutan dari Universitas Indonesia ini menjelaskan, green engineering adalah praktik merancang, mengkomersialisasikan, dan mengimplementasikan proses dan produk yang mengurangi polusi, mendukung keberlanjutan, dan memperkecil risiko dampaknya bagi kesehatan manusia dan lingkungan, tanpa mengorbankan aspek ekonomi atau efisiensinya.
"Artinya, ini nggak cuma soal tahap penggunaannya saja, tapi juga dimulai dari tahap pembuatannya, pengambilan sumber dayanya, sampai nanti setelah dia selesai digunakan, masih tetap harus mempertimbangkan aspek ramah lingkungannya, yang risikonya rendah," jelasnya.
Peluang Beasiswa
Ova merinci, ada sebanyak 1380 lebih program pendidikan di 27 negara Uni Eropa terkait green engineering yang dihimpun di platform EU Green Engineering Hub. Program-program yang disediakan 190 lebih perguruan tinggi Eropa ini bisa dipilih dan diikuti oleh calon mahasiswa internasional, termasuk asal Indonesia.
"Program studi terdiri dari master's, bachelor, diploma, professional diploma, vocational, dan juga courses," terang lulusan S2-S3 di Jerman dengan beasiswa ini.
"Yang paling dominan itu adalah master program, kemudian diikuti dengan bachelor program, dan kemudian diikuti lagi dengan yang vocational dan juga diploma, dan sebagainya," imbuhnya.
Ia menambahkan, pendidikan tinggi di Eropa tersebut bisa dilamar dengan sekitar 200 jenis beasiswa yang tersedia. Ia menggarisbawahi, pantau peluang program pendidikan dan beasiswa yang diminati karena jadwal batas waktu pendaftaran dapat berbeda-beda dan jumlahnya dapat bertambah.
"Kalau misalnya tanpa scholarship mungkin ada ya, tapi kalau misalnya ada scholarship ya kenapa tidak dimanfaatkan? Saya sendiri pribadi, scholarship itu bukan sekedar hanya untuk membiayai saja, tapi juga sebagai network kita ketika kita pulang. Juga (bisa) kembali lagi (ke Eropa)," sambungnya.
Secara umum, perguruan tinggi di Eropa membuka peluang bagi calon mahasiswa yang dapat berbahasa Inggris. Namun, sejumlah prodi S1 di negara Uni Eropa tidak memiliki program dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Untuk itu, calon mahasiswa bersangkutan bisa mencermati prodi yang menyediakan kuliah dengan bahasa Inggris di https://www.greenengineer.eu/programs.
Sementara itu, cek peluang beasiswanya di https://www.greenengineer.eu/scholarships. Ia menggarisbawahi, cek juga peluang beasiswa khusus perempuan yang dibuka di negara-negera Eropa.
"Ada juga berbagai scholarship yang memang khusus untuk perempuan. Misalnya seperti itu saya sendiri, S3 saya dibiayai oleh Faculty for the Future (fellowship Schlumberger Foundation), itu khusus untuk perempuan yang ada di bidang STEM," sarannya.
Peluang Lintas Saintek-Soshum
Bidang studi green engineering pada platform EU Green Engineering Hub didasarkan pada 15 bidang dalam UNESCO International Standard Classification of Education (ISCED) yang terkait dengan rekayasa hijau berbasis keberlanjutan.
Berdasarkan cabang-cabang tersebut, Ova menuturkan, dasar bidang green engineering tidak hanya meliputi sisi engineering, tetapi juga sosial dan humaniora.
"Ada tentang sustainability, policy and governance and society, kemudian di sini juga ada sustainable fisheries and veterinary," terangnya.
Berikut selengkapnya cabang bidang terkait rekayasa hijau yang mendasari program-program yang tersedia:
- Environmental protection technology
- Energy engineering and renewable technology
- Climate engineering and earth sciences
- Sustainability, fisheries and veterinary
- Green building design and sustainable construction
- Chemical engineering and processes
- Advanced sustainable electronics and automation
- Sustainability, policy, governance, and society
- Sustainable manufacturing and production
- Sustainable material engineering
- Food preservation and processing
- Circular economy
- Sustainable mining and resource management
- Advanced urban, regional, and spatial planning
- Sustainable agriculture and forestry
Untuk mengakses peluang-peluang di bidang tersebut, pengunjung bisa membuka laman https://www.greenengineer.eu/programs.
"Kalau dilihat dari field studies-nya, yang paling banyak itu adalah advanced sustainable electronics and automation. Diikuti dengan green building design and sustainable construction, dan kemudian environmental protection technology, dan juga sustainable manufacturing and production. Itu yang empat besarnya, diikuti dengan energy engineering and renewable technology," rinci Ova.
Lowongan Kerja Hijau
Peluang lowongan kerja hijau atau loker green jobs juga bisa dicek talenta asal Indonesia di platform EU Green Engineering Hub.
Green jobs adalah posisi kerja yang peran dan tugasnya berkontribusi pada pelestarian, dekarbonisasi, dan pengurangan limbah, sambil beradaptasi pada perubahan iklim.
Ova menjelaskan, patokan green jobs yang digunakan di Indonesia merujuk pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
"Dalam kerangka kualifikasi nasional KKNI milik Bappenas (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), di situ juga ada peta nasional okupansi green jobs," ucapnya.
Berdasarkan peta tersebut, ada 220 jenis pekerjaan hijau yang teridentifikasi Indonesia. Lazimnya, lowongan kerja hijau di Indonesia mensyaratkan pendidikan minimal lulusan SMA/sederajat (kualifikasi nasional KKNI 2). Sedangkan mayoritas lowongan kerja hijau di Indonesia mensyaratkan pendidikan minimal S1 (kualifikasi nasional KKNI 6), dan ada juga yang mensyaratkan minimal lulusan S2 (kualifikasi nasional KKNI 8).
"Ada 220 (green jobs berdasarkan KKNI), silakan dipilih lagi melalui EU Green Engineering Hub tadi," sambungnya.
Informasi lowongan kerja di Eropa pada bidang green engineering untuk anak muda berpendidikan saintek maupun soshum bisa dicek di https://www.greenengineer.eu/jobs.
Semoga bermanfaat, detikers.
(twu/nah)











































